Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 6 Januari 2019 | 18.41 WIB

Guatemala Negara Kedua yang Buka Kedutaan di Yerusalem Setelah AS

Guatemala membuka kedutaan besarnya di Yerusalem pada 16 Mei 2018, hanya beberapa hari setelah Amerika Serikat meresmikan kedutaan barunya di kota yang diperebutkan itu - Image

Guatemala membuka kedutaan besarnya di Yerusalem pada 16 Mei 2018, hanya beberapa hari setelah Amerika Serikat meresmikan kedutaan barunya di kota yang diperebutkan itu

Jawapos.com - Guatemala membuka kedutaan besarnya di Yerusalem pada 16 Mei 2018, hanya beberapa hari setelah Amerika Serikat meresmikan kedutaan barunya di kota yang diperebutkan itu. Dilansir dari reuters beberapa waktu yang lalu, langkah tersebut membuat geram warga Palestina dan menuai kecaman internasional.


Pembukaan Kedutaan AS di Yerusalem menimbulkan pertumpahan darah rakyat Palestina. Di hari yang sama dengan pembukaan Kedutaan AS di Yerusalem, tentara Israel menembak mati puluhan pengunjuk rasa Palestina di perbatasan Gaza. 


Namun Pemerintah Guatemala tak peduli dengan fakta menyakitkan tersebut. Presiden Guatemala Jimmy Morales dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tetap menghadiri pembukaan Kedutaan Guatemala di sebuah kompleks perkantoran di Yerusalem Barat.


"Bukan sebuah kebetulan bahwa Guatemala membuka kedutaan besarnya di Yerusalem tepat di antara yang pertama. Anda adalah negara kedua yang mengakui keberadaan Israel,” kata Netanyahu pada upacara itu.


Morales mengatakan, Guatemala, Israel, dan Amerika Serikat berbagi persahabatan, keberanian, dan kesetiaan.


Guatemala adalah salah satu dari sedikit negara yang mendukung keputusan Trump pada bulan Desember untuk mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel dan jadi negara kedua yang memindahkan kedutaannya ke Yerusalem.


Status Yerusalem adalah salah satu hambatan paling sulit untuk mewujudkan perjanjian damai antara Israel dan Palestina. Kilas baliknya, Yerusalem Timur, dicaplok oleh Israel dalam perang Timur Tengah 1967, sebagai ibu kota mereka.


Israel menganggap semua kota, termasuk sektor timur yang dicaploknya setelah konflik 1967, sebagai ibu kotanya. Negosiator senior Palestina Saeb Erekat mengatakan, Pemerintah Guatemala telah memilih untuk berdiri di sisi sejarah yang salah, berpihak pada pelanggar hukum internasional dan hak asasi manusia, dan mengambil langkah bermusuhan terhadap rakyat Palestina dan dunia Arab.


Sebagian besar kekuatan dunia tidak mengakui kedaulatan Israel atas seluruh kota dan mengatakan status akhirnya harus ditetapkan dalam negosiasi damai. Pada hari Amerika Serikat meresmikan kedutaan besarnya di Yerusalem, tembakan Israel menewaskan 60 warga Palestina selama protes perbatasan Gaza. Itu adalah hari paling berdarah di kantong yang dikelola pejuang Hamas sejak perang 2014 dengan Israel.


Para pemimpin Palestina mengatakan, dengan merelokasi kedutaannya, Amerika Serikat telah menciptakan hasutan dan ketidakstabilan di wilayah tersebut dan membatalkan perannya sebagai mediator perdamaian.

Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore