
Seorang pengunjuk rasa memegang poster bergambar presiden Park Geun-hye sebagai bentuk protes
JawaPos.com - Jumat, 9 Desember lalu, menjadi titik balik kehidupan Park Geun-hye. Presiden Korea Selatan tersebut dimakzulkan. Tanpa pekerjaan, politikus yang masih lajang itu menghabiskan masa tunggunya di Blue House, sebutan istana kepresidenan Republik Korea.
---
Belakangan ini Blue House tampak sepi. Para penjaga kantor sekaligus kediaman presiden tersebut tampak lebih santai. Begitu pula ruang pers di istana seluas 250 ribu meter persegi itu. Jurnalis yang biasanya memenuhi ruangan kini jauh berkurang.
''Jumlah reporter di ruang wartawan menurun drastis. Mungkin kini hanya ada sepertiganya yang datang. Tidak ada lagi brifing rutin dari juru bicara kepresidenan,'' kata salah seorang koresponden koran nasional di Korsel. Si juru bicara kini hanya datang saat ada kejadian penting terkait dengan Park.
Biasanya ruang wartawan tersebut hampir selalu penuh. Terlebih ketika skandal yang melibatkan Park dan sahabatnya, Choi Soon-sil, mencuat ke permukaan. Park selalu diburu wartawan.
Namun, kini tidak ada yang bisa diberitakan dari presiden perempuan pertama Korsel tersebut. Sebab, jabatan Park sebagai presiden saat ini hanya gelar belaka. Sampai Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan sah atau tidaknya pemakzulan dirinya, Park tak lagi memiliki kuasa.
Segala hal yang berkaitan dengan tugas kepresidenan kini dipegang Perdana Menteri (PM) Hwang Kyo-ahn. Para staf kepresidenan juga membuat laporan kepada Hwang, tidak lagi ke Park. Tugas para staf juga lebih sedikit karena Park tidak lagi memiliki tugas ke luar. Juga, tak ada tamu-tamu penting.
Bagi Park, Blue House ibarat rumah sendiri. Dia telah tinggal di istana kepresidenan tersebut setidaknya selama 20 tahun. Ayahnya, Park Chung-he, adalah presiden ke-3 Korsel yang berkuasa lebih dari 16 tahun. Pada 23 Maret 1962, ayah Park sempat menjadi presiden sementara sebelum akhirnya memenangi pemilu dan menjabat orang nomor satu di Korsel.
Park Chung-he memimpin sejak 17 Desember 1963 hingga 26 Oktober 1979. Selama itu pula, Park Geun-hye tinggal di lingkungan Blue House. Dia ''pulang'' kembali ke rumah lamanya itu saat terpilih sebagai presiden ke-11 Korsel pada 25 Februari 2013.
Blue House kini tak ubahnya sel isolasi bagi Park. Dia tidak memiliki kegiatan, tapi juga tak bisa ke mana-mana. Pergerakannya dibatasi hanya di dalam Cheong Wa Dae, sebutan tempat tersebut dalam bahasa Korea.
Bagi Park, kondisinya saat ini mungkin mengingatkan akan masa-masa awal dirinya tinggal di Blue House. Dalam buku biografi tentang dirinya, Park menyatakan, dulu sewaktu anak-anak dan harus tinggal di istana kepresidenan, dia sempat merasa Blue House bagaikan penjara.
Beberapa ajudannya menyatakan, presiden yang masih melajang pada usia 64 tahun tersebut menghabiskan waktu dengan beristirahat serta menyiapkan pembelaan pemakzulannya di MK nanti. Namun, ajudan itu tidak menyebutkan secara detail aktivitas Park. Putusan MK mungkin keluar enam bulan lagi. Artinya, selama itu pula Park akan berkutat di dalam Blue House tanpa kegiatan kepresidenan.
''Dia (Park, Red) pasti merasa seperti seluruh dunia telah memalingkan diri darinya,'' ujar Lee Jun-han, profesor ilmu politik di Incheon University. ''Saya tidak berpikir dia bakal memiliki kemewahan untuk berjalan-jalan ke luar Blue House maupun beristirahat dengan tenang di rumah,'' ungkapnya.
Park tidak memiliki siapa pun untuk menghibur dirinya. Dia tidak pernah menikah dan memiliki anak. Park juga diketahui tidak dekat dengan kedua saudaranya, Park Geun-ryoung dan Park Ji-man. Satu-satunya sahabat dekatnya sejak kecil, Choi Soon-sil, telah ditangkap karena dugaan menyalahgunakan kekuasaan Park untuk keuntungan pribadinya. Skandal yang akhirnya berbuntut pada pemakzulan dirinya.
Sebagai orang nomor satu di Korsel, Park adalah pribadi yang kesepian. Dia pun mengakuinya. Saat meminta maaf secara terbuka pada November lalu, Park menyatakan bahwa rasa kesepian itulah yang membuatnya terlalu memercayai Choi.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
