Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 19 Desember 2016 | 15.36 WIB

Mengintip Kehidupan Presiden di Istana Tapi Tak Punya Kuasa Apa-apa

Seorang pengunjuk rasa memegang poster bergambar presiden Park Geun-hye sebagai bentuk protes - Image

Seorang pengunjuk rasa memegang poster bergambar presiden Park Geun-hye sebagai bentuk protes

JawaPos.com - Jumat, 9 Desember lalu, menjadi titik balik kehidupan Park Geun-hye. Presiden Korea Selatan tersebut dimakzulkan. Tanpa pekerjaan, politikus yang masih lajang itu menghabiskan masa tunggunya di Blue House, sebutan istana kepresidenan Republik Korea.



---



Belakangan ini Blue House tampak sepi. Para penjaga kantor sekaligus kediaman presiden tersebut tampak lebih santai. Begitu pula ruang pers di istana seluas 250 ribu meter persegi itu. Jurnalis yang biasanya memenuhi ruangan kini jauh berkurang. 



''Jumlah reporter di ruang wartawan menurun drastis. Mungkin kini hanya ada sepertiganya yang datang. Tidak ada lagi brifing rutin dari juru bicara kepresidenan,'' kata salah seorang koresponden koran nasional di Korsel. Si juru bicara kini hanya datang saat ada kejadian penting terkait dengan Park.



Biasanya ruang wartawan tersebut hampir selalu penuh. Terlebih ketika skandal yang melibatkan Park dan sahabatnya, Choi Soon-sil, mencuat ke permukaan. Park selalu diburu wartawan. 



Namun, kini tidak ada yang bisa diberitakan dari presiden perempuan pertama Korsel tersebut. Sebab, jabatan Park sebagai presiden saat ini hanya gelar belaka. Sampai Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan sah atau tidaknya pemakzulan dirinya, Park tak lagi memiliki kuasa. 



Segala hal yang berkaitan dengan tugas kepresidenan kini dipegang Perdana Menteri (PM) Hwang Kyo-ahn. Para staf kepresidenan juga membuat laporan kepada Hwang, tidak lagi ke Park. Tugas para staf juga lebih sedikit karena Park tidak lagi memiliki tugas ke luar. Juga, tak ada tamu-tamu penting. 



Bagi Park, Blue House ibarat rumah sendiri. Dia telah tinggal di istana kepresidenan tersebut setidaknya selama 20 tahun. Ayahnya, Park Chung-he, adalah presiden ke-3 Korsel yang berkuasa lebih dari 16 tahun. Pada 23 Maret 1962, ayah Park sempat menjadi presiden sementara sebelum akhirnya memenangi pemilu dan menjabat orang nomor satu di Korsel. 



Park Chung-he memimpin sejak 17 Desember 1963 hingga 26 Oktober 1979. Selama itu pula, Park Geun-hye tinggal di lingkungan Blue House. Dia ''pulang'' kembali ke rumah lamanya itu saat terpilih sebagai presiden ke-11 Korsel pada 25 Februari 2013.



Blue House kini tak ubahnya sel isolasi bagi Park. Dia tidak memiliki kegiatan, tapi juga tak bisa ke mana-mana. Pergerakannya dibatasi hanya di dalam Cheong Wa Dae, sebutan tempat tersebut dalam bahasa Korea. 



Bagi Park, kondisinya saat ini mungkin mengingatkan akan masa-masa awal dirinya tinggal di Blue House. Dalam buku biografi tentang dirinya, Park menyatakan, dulu sewaktu anak-anak dan harus tinggal di istana kepresidenan, dia sempat merasa Blue House bagaikan penjara. 



Beberapa ajudannya menyatakan, presiden yang masih melajang pada usia 64 tahun tersebut menghabiskan waktu dengan beristirahat serta menyiapkan pembelaan pemakzulannya di MK nanti. Namun, ajudan itu tidak menyebutkan secara detail aktivitas Park. Putusan MK mungkin keluar enam bulan lagi. Artinya, selama itu pula Park akan berkutat di dalam Blue House tanpa kegiatan kepresidenan.



''Dia (Park, Red) pasti merasa seperti seluruh dunia telah memalingkan diri darinya,'' ujar Lee Jun-han, profesor ilmu politik di Incheon University. ''Saya tidak berpikir dia bakal memiliki kemewahan untuk berjalan-jalan ke luar Blue House maupun beristirahat dengan tenang di rumah,'' ungkapnya. 



Park tidak memiliki siapa pun untuk menghibur dirinya. Dia tidak pernah menikah dan memiliki anak. Park juga diketahui tidak dekat dengan kedua saudaranya, Park Geun-ryoung dan Park Ji-man. Satu-satunya sahabat dekatnya sejak kecil, Choi Soon-sil, telah ditangkap karena dugaan menyalahgunakan kekuasaan Park untuk keuntungan pribadinya. Skandal yang akhirnya berbuntut pada pemakzulan dirinya.



Sebagai orang nomor satu di Korsel, Park adalah pribadi yang kesepian. Dia pun mengakuinya. Saat meminta maaf secara terbuka pada November lalu, Park menyatakan bahwa rasa kesepian itulah yang membuatnya terlalu memercayai Choi. 

Editor: Thomas Kukuh
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore