
Photo
JawaPos.com - Proyek lingkungan di aliran Sungai Mekong telah menjadi lahan baru dalam persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Perselisihan tersebut membuat para ahli lingkungan dan pejabat ikut bereaksi. Bahkan kali ini, keduanya berusaha menunjukkan adu argumen lewat data-data terbaru yang ditunjukkan oleh peneliti masing-masing negara.
Proyek Sungai Mekong sebelumnya adalah program lingkungan dan pembangunan di era Presiden Barrack Obama. Namun, kini Beijing menyalip Washington dalam pengeluaran dan pengaruhnya terhadap negara-negara hilir karena kekuasaannya atas perairan sungai.
Adu kekuatan kedua negara ini baru-baru ini pindah ke ranah sains. Mekong adalah nyawa bagi 60 juta orang penduduk untuk pertanian dan perikanan yang melalui Asia Tenggara, sebelum bermuara di laut dari delta Vietnam. Seorang duta besar AS di wilayah itu menuduh Tiongkok sebagai penimbun air di 11 bendungannya di bagian atas sungai sepanjang 4.350 km. Hal itu merugikan mata pencaharian jutaan orang di negara-negara hilir.
"Ini menjadi masalah geopolitik, seperti Laut Cina Selatan, antara Amerika Serikat dan Tiongkok," kata praktisi dari grup Mekong Energy and Ecology Network, Witoon Permpongsacharoen seperti dilansir dari VOA Cambodia, Jumat (31/7).
Kementerian luar negeri Tiongkok mengatakan kepada Reuters soal pendapat AS bahwa Beijing yang mencoba mengambil alih pembicaraan Mekong tidak berdasar. "Negara-negara di luar kawasan itu harus menahan diri untuk tidak menimbulkan masalah," kata pihak kementerian tersebut.
Perang Lewat Data
Persaingan AS-Tiongkok kini berkembang menjadi perang kata-kata dan data setelah sebuah studi yang didanai Washington pada April menuding bendungan-bendungan Tiongkok menahan air di masa kekeringan tahun lalu. Penelitian oleh Eyes on Earth, sebuah perusahaan riset dan konsultan yang berbasis di AS yang berspesialisasi dalam air, membangun sebuah model prediksi berdasarkan pencitraan satelit.
Penelitian itu menyebutkan ada kawasan perairan yang 'hilang' di hilir, mulai sekitar 2010. Duta Besar AS untuk Kamboja, Patrick Murphy mengatakan dia cukup terkejut pada temuan-temuan penelitian itu.
Atas tudingan penelitian itu, Tiongkok bereaksi dan marah. Kedutaan Besar Tiongkok di Thailand mengecam studi tersebut sebagai motivasi politik. Tiongkok menduga penelitian itu sengaja ditujukan untuk menargetkan Tiongkok atas tuduhan dengan niat buruk. Kemudian, pada pertengahan Juli, Global Times China menerbitkan sebuah artikel tentang studi Tiongkok menyangkal laporan Eyes on Earth.
"Bendungan-bendungan sungai di Tiongkok membantu meringankan kekeringan di sepanjang Lancang-Mekong, temuan penelitian," kata judul di surat kabar yang diterbitkan oleh People's Daily, surat kabar resmi Partai Komunis Tiongkok yang berkuasa.
Sementara itu, penelitian oleh Universitas Tsinghua dan Institut Sumber Daya Air Tiongkok mengklaim bendungan Tiongkok itu justru dapat membantu mengurangi kekeringan. "Kami tidak bermaksud membandingkan dengan laporan lain. Kami bertujuan untuk memberikan beberapa fakta berdasar," tegas ketua peneliti Tian Fuqiang kepada Reuters.
Hingga kini perdebatan sains masih berlanjut antara AS dan Tiongkok. Amerika Serikat telah menghabiskan USD 120 juta untuk proyek Inisiatif Mekong Bawah sejak didirikan 11 tahun lalu. Tiongkok tampaknya membelanjakan anggaran lebih banyak pada 2016. LMC yang disponsori Beijing menyiapkan dana USD 300 juta untuk hibah penelitian yang akan diberikan kepada lima negara hilir.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

4 Keunggulan Introvert yang Kini Justru Diinginkan oleh Banyak Orang Pada Era Modern
Jokowi Dikabarkan Deklarasi jadi Ketum PSI Awal November, KDM Disebut Ikut Pindah Gerbong
4 Faktor yang Membentuk Kepribadian Introvert Menurut Penjelasan Psikologi
5 Kiat Introvert Menjadi Pemimpin Tangguh Tanpa Harus Mengubah Sifat Alami
Kenaikan Target Bansos 2026: Kemensos Wajibkan Registrasi Ulang Wajah
Dari Proyek Televisi ke Liga Champions, Kisah Mirwan Suwarso dan Como 1907
KDM Dikabarkan Bakal Masuk PSI dan Duet dengan Gibran pada Pilpres 2029 Mendatang
Manajer Persipura Pasang Target Tinggi, Enam Poin Jadi Harga Mati di Dua Laga
Prediksi Skor Sevilla vs Osasuna: Los Rojillos Bidik Poin, Rekor Arrasate Jadi Ancaman!
Prediksi Skor Bhayangkara FC vs PSM Makassar: Juku Eja Paksa Berbagi Poin!

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022