
SEGERA DILUNCURKAN: Laurentinus Raga Pratomo menyusur jalur dengan menggunakan kereta ukur di Kabupaten Barru. (RIANA SETIAWAN/JAWA POS)
Proyek kereta api di Sulawesi Selatan nanti membentang 20 kilometer lebih pendek ketimbang jalur mobil dari Makassar ke Parepare. Proyek itu bakal diluncurkan Presiden Joko Widodo pada akhir Oktober. Uji coba dan perbaikan terus dilakukan dengan sapi dan biawak di antara tantangan yang dihadapi.
BAGUS PUTRA PAMUNGKAS, Barru
---
BRUUK! Kereta ukur yang kami tumpangi tiba-tiba goyang. Padahal, sebelumnya ia sangat anteng. Tidak ada suara bising sama sekali. Guncangan juga sangat minim.
”Wah, ini ada jalur rel yang nggak rata. Harus segera diperbaiki,” teriak Laurentius Raga Pratomo di balik kemudi kereta.
Pria yang akrab disapa Lauren tersebut merupakan Kadiv Depo dan Gudang BPKA (Balai Pengelola Kereta Api) Sulawesi Selatan.
Dua anak buah yang berada di belakangnya langsung mencatat titik rel yang tidak rata itu.
Rel tersebut berada di atas Jembatan Bottoe yang memisahkan Kecamatan Tanete Rilau dengan pusat Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan (Sulsel). Saat melintasi jembatan itu, kereta terasa menanjak. Rel yang tertancap di tanah lebih rendah daripada rel yang terpasang di atas jembatan.
Pada Senin (12/9), Jawa Pos memang berkesempatan mencoba jalur kereta pertama di Sulawesi tersebut. Kami menaiki kereta ukur, kereta khusus untuk mengukur akurasi kondisi rel sebelum dinyatakan layak pakai. Kami berangkat dari Stasiun Tanete Rilau menuju stasiun Kabupaten Barru. Jaraknya cuma 8 kilometer.
Dengan kecepatan 80 kilometer/jam, jarak 8 kilometer ditempuh selama 10 menit. Sebenarnya kereta bisa berjalan sampai kecepatan 160 kilometer/jam. Namun, Lauren yang siang itu menjadi masinis sengaja tidak menjalankan kereta dengan kecepatan penuh. ”Soalnya, di jalur kereta kadang masih ada sapi milik warga yang berkeliaran. Ada juga biawak yang sering berjemur di tengah rel,” ungkap pria asli Jogjakarta tersebut.
Sapi yang masuk ke jalur rel bukan tanpa sebab. Di sisi kiri-kanan rel, rumput hijau masih tumbur subur. Oleh warga, sapi itu dibiarkan mencari makan di pinggir rel. Sebab, belum ada perawatan di setiap sisi jalur. BPKA belum mencapai kesepakatan dengan salah satu rekanan yang bakal merawat kawasan sekitar rel. ”Nanti, kalau sudah deal, sisi kiri dan kanan rel pasti terawat. Jadi, bisa meminimalkan sapi dan biawak,” tutur Lauren.
BPKA Sulsel harus ngebut. Sebab, pada 28 Oktober nanti ada uji coba jalur kereta oleh Presiden Joko Widodo. Sekaligus peluncuran rute pertama kereta di Sulsel: Maros–Barru.
Jarak rute itu mencapai 71 kilometer. Akan ada delapan titik pemberhentian. Di setiap titik, kereta hanya akan berhenti selama dua menit. ”Kami harus benar-benar mengecek jalur rel yang akan dipakai uji coba. Ada beberapa titik yang balance-nya sudah berkurang. Sebab, memang pengerjaannya dilakukan beberapa tahun lalu,” ungkap Kadivhumas BPKA Sulsel Hendry Mundan saat ditemui Jawa Pos di depo Maros (12/9).
Groundbreaking proyek strategis nasional itu dilakukan pada 2015. Karena itu, rel yang sudah lama terpasang kudu dicek. Kereta ukur akan melihat kelayakan rel. Jika dianggap masih ada kekurangan, dua gerbong kereta multi tie tamper (MTT) siap memperbaiki. Kereta MTT memang berfungsi khusus untuk perbaikan.
Dan, itu bukan pekerjaan mudah. Sebab, jalur rel di Sulawesi berbeda dengan yang ada di Jawa. Di Jawa, jalur kereta rata-rata merupakan peninggalan Belanda. Lebarnya hanya 1.067 milimeter. Sementara, rel di Sulawesi selebar 1.435 milimeter. Satu bantalan rel di Jawa hanya mampu menahan beban 50 ton. Di Sulawesi, satu bantalan rel bisa menahan berat 60 ton.
Karena itu, jenis kereta yang digunakan juga berbeda. Untuk uji coba pada 28 Oktober nanti, BPKA Sulsel memakai kereta inspeksi (kais). Biasanya, kereta itu digunakan pejabat negara saat melakukan sidak atau kunjungan. Lebarnya sudah disesuaikan dengan rel di Sulawesi. Sudah ada satu lokomotif dan dua gerbong. Kais itu sedang diperbaiki di depo Kabupaten Barru.
Saat Jawa Pos berkunjung, kais yang tempat duduknya berupa sofa diubah menjadi kursi biasa. ”Nanti setiap gerbong bisa menampung 42 penumpang. Kalau ada dua gerbong, tinggal dikalikan,” jelas Hendry.
Photo
SEGERA DILUNCURKAN: Sejumlah kereta api terparkir di gudang BPKA di kawasan Stasiun Tanete Rilau, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan (12/9). (RIANA SETIAWAN/JAWA POS)
Nanti rangkaian kais itu tetap dipakai sampai akhir tahun. BPKA sudah memesan rangkaian kereta ke PT INKA. ”Rencananya, pesanan datang pada Desember. Lalu, pada Januari tahun depan kami operasikan,” ungkap Hendry.
BPKA memastikan kereta di Sulawesi jauh lebih nyaman. Pertama, gerbong dipastikan lebih luas ketimbang yang ada di Jawa karena disesuaikan dengan rel yang lebih lebar. Belum lagi, rel sudah disambung dengan teknologi flash butt welding.”Jadi, rel sudah tidak seperti sambungan. Sudah seperti satu kesatuan. Dengan teknologi ini, laju kereta lebih tenang,” jelas pria asli Makassar tersebut.
Jawa Pos membuktikan sendiri ucapan Hendry. Saat Jawa Pos menaiki kereta ukur, guncangan minim sekali. Tidak ada suara gludak-gludak seperti saat menaiki kereta di Jawa. Suara yang dihasilkan juga tidak bising.
”Di Jawa, kereta mengalami banyak guncangan karena sambungan rel masih pakai metode lama. Seperti putus-putus. Tapi, karena (rel, Red) di Sulawesi pakai teknologi baru, laju kereta lebih smooth,” jelas Hendry.
Namun, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Jika sesuai dengan rencana awal, jalur itu seharusnya membentang dari Makassar ke Parepare. Jaraknya mencapai 145 kilometer. Itu sudah memotong 20 kilometer jika memakai jalur mobil.
Lalu, apa yang membuat proyek belum tuntas 100 persen? Pertama, kondisi alam. Di beberapa kawasan, masih ada perbukitan. ”Di Kabupaten Pangkep, kami harus membelah bukit setinggi 50 meter untuk dibangun rel. Kenapa tidak dijadikan terowongan? Di situ banyak lahan sawah milik warga,” beber Hendry.
Selain itu, pembebasan lahan masih terkendala. Pada Maret 2023, jalur dari Mandai ke Maros akan dibuka. Artinya, rute akan berubah menjadi Mandai–Barru. Mandai tepat berada di wilayah Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. ”Yang dari Mandai ke Makassar masih pembebasan lahan. Sudah masuk ke BPN. Pada Agustus lalu, baru selesai prosesnya dari pemprov,” papar Hendry.
Jarak dari Mandai ke Makassar masih sejauh 22 kilometer. Selama jalur kereta dari Mandai ke Makassar belum tersambung, BPKA Sulsel akan menyiapkan moda transportasi umum. Tujuannya, penumpang dari Makassar tidak ribet mencari angkutan umum. ”Nanti ada integrasi antarmoda seperti bus dari Terminal Daya di Makassar menuju ke Stasiun Mandai dan Maros. Jadwalnya masih kami konsep,” ujar Hendry.
Karena itu, BPKA Sulsel harus segera merampungkan segala tahap pembebasan lahan. ”Sebab, target kami jalur Makassar–Parepare akan sepenuhnya beroperasi pada triwulan kedua 2024. Semuanya sudah harus klir,” tegas Hendry.
Nanti, jika pengerjaan sudah tuntas, jalur sepanjang 145 kilometer itu melewati 16 stasiun. Stasiun akhir berada di Kecamatan Soreang, Parepare.
Di kawasan itu pula, Wali Kota Parepare Taufan Pawe sudah menyiapkan lahan untuk stasiun. ”Bila terwujud kereta dari Makassar ke Parepare, saya yakin Parepare akan menuju ke peradaban yang lebih maju,” tuturnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
