Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 5 September 2023 | 19.39 WIB

Karakter Paling Sipil buat Ine Febriyanti: Perankan Guru BK yang Kena Cancel Culture di FIlm Budi Pekerti

Angga Yunanda, Sha Ine Febriyanti, dan Prilly Latuconsina dalam film Budi Pekerti karya sutradara Wregas Bhanuteja. - Image

Angga Yunanda, Sha Ine Febriyanti, dan Prilly Latuconsina dalam film Budi Pekerti karya sutradara Wregas Bhanuteja.

JAKARTA – Budi Pekerti bakal tayang perdana di Festival Film Internasional Toronto atau TIFF 2023, sebelum resmi rilis di tanah air. Jelang keberangkatan ke Toronto, Jawa Pos berbincang dengan sutradara Wregas Bhanuteja serta dua pemeran utama, Sha Ine Febriyanti dan Dwi Sasono, via Zoom kemarin (4/9). Ketiganya berbagi cerita tentang persiapan di balik layar, tuntutan peran, hingga pesan dalam film yang juga dibintangi Angga Yunanda dan Prilly Latuconsina itu. (fam/c18/ayi)

Mengapa memilih jalur festival untuk penayangan perdana?

Wregas: Sebagai sutradara, tujuan utama saya tentu agar karya ini bisa dilihat oleh lebih banyak orang. Saya yakin, perundungan dan berbagai isu terkait media sosial itu universal dan akan relate dengan banyak orang.

Bagaimana ide awal film ini?

Wregas: Berkali-kali saya amati, banyak sosok viral karena terekam sedang marah, mengumpat, atau melakukan hal yang dianggap bertentangan dengan budi pekerti. Warganet lalu dengan mudah menghakimi, hanya berdasar 15 detik video. Tidak ada empati atau waktu untuk bertanya kepada sosok itu, ’Apakah kamu baik-baik saja?’.

Cerita berpusat pada Bu Prani, guru bimbingan konseling (BK). Mengapa memilih latar karakter utama guru?

Wregas: Guru, khususnya BK, itu di sekolah berkaitan dengan mengajarkan tata krama, bersikap yang baik, dan memberi hukuman ketika murid melanggar. Tapi, di cerita ini, karakter Bu Prani yang seorang guru dihadapkan dengan situasi terbalik. Dia menjadi ’’murid’’, sementara ’’guru BK’’-nya adalah warganet yang mencoba menghukum dia.

Alasan memilih Jogjakarta sebagai latar belakang lokasi?

Wregas: Saya ingin menggambarkan, kasus viral ini bisa terjadi di mana saja. Bahkan di tempat yang bukan ibu kota. Selain itu, Jogja dipilih karena merupakan kampung halaman saya. Jadi, saya paham situasi sekitar. Mulai tempat-tempat yang ada di sana, sampai kultur dan budaya masyarakatnya.

Pemilihan pemain dilakukan sejak awal menulis naskah atau setelah rampung?

Wregas: Banyak penulis naskah yang beranggapan untuk ’’melepas’’ imaji karakter saat menulis, supaya karakter itu bisa bebas. Tapi, saya tidak bisa seperti itu. Saat menulis, saya sudah membayangkan Mbak Ine sebagai Bu Prani dan Mas Dwi sebagai Pak Didit.

Bagaimana rasanya tergabung di produksi Budi Pekerti?

Ine: Wregas adalah salah satu sutradara yang ada di list saya. Ketika mendapat tawaran langsung dari dia, tentu saya tersanjung dan sangat menghargai itu.

Dwi: Saya suka karya-karya Wregas. Saat dia menceritakan dengan detail banget cerita Budi Pekerti dari awal sampai akhir, saya menitikkan air mata. Nggak ada alasan untuk menolak. Saya justru benar-benar menunggu tawaran dari dia.

Bagi Ine, seperti apa peran Bu Prani?

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore