
Angga Yunanda, Sha Ine Febriyanti, dan Prilly Latuconsina dalam film Budi Pekerti karya sutradara Wregas Bhanuteja.
JAKARTA – Budi Pekerti bakal tayang perdana di Festival Film Internasional Toronto atau TIFF 2023, sebelum resmi rilis di tanah air. Jelang keberangkatan ke Toronto, Jawa Pos berbincang dengan sutradara Wregas Bhanuteja serta dua pemeran utama, Sha Ine Febriyanti dan Dwi Sasono, via Zoom kemarin (4/9). Ketiganya berbagi cerita tentang persiapan di balik layar, tuntutan peran, hingga pesan dalam film yang juga dibintangi Angga Yunanda dan Prilly Latuconsina itu. (fam/c18/ayi)
Mengapa memilih jalur festival untuk penayangan perdana?
Wregas: Sebagai sutradara, tujuan utama saya tentu agar karya ini bisa dilihat oleh lebih banyak orang. Saya yakin, perundungan dan berbagai isu terkait media sosial itu universal dan akan relate dengan banyak orang.
Bagaimana ide awal film ini?
Wregas: Berkali-kali saya amati, banyak sosok viral karena terekam sedang marah, mengumpat, atau melakukan hal yang dianggap bertentangan dengan budi pekerti. Warganet lalu dengan mudah menghakimi, hanya berdasar 15 detik video. Tidak ada empati atau waktu untuk bertanya kepada sosok itu, ’Apakah kamu baik-baik saja?’.
Cerita berpusat pada Bu Prani, guru bimbingan konseling (BK). Mengapa memilih latar karakter utama guru?
Wregas: Guru, khususnya BK, itu di sekolah berkaitan dengan mengajarkan tata krama, bersikap yang baik, dan memberi hukuman ketika murid melanggar. Tapi, di cerita ini, karakter Bu Prani yang seorang guru dihadapkan dengan situasi terbalik. Dia menjadi ’’murid’’, sementara ’’guru BK’’-nya adalah warganet yang mencoba menghukum dia.
Alasan memilih Jogjakarta sebagai latar belakang lokasi?
Wregas: Saya ingin menggambarkan, kasus viral ini bisa terjadi di mana saja. Bahkan di tempat yang bukan ibu kota. Selain itu, Jogja dipilih karena merupakan kampung halaman saya. Jadi, saya paham situasi sekitar. Mulai tempat-tempat yang ada di sana, sampai kultur dan budaya masyarakatnya.
Pemilihan pemain dilakukan sejak awal menulis naskah atau setelah rampung?
Wregas: Banyak penulis naskah yang beranggapan untuk ’’melepas’’ imaji karakter saat menulis, supaya karakter itu bisa bebas. Tapi, saya tidak bisa seperti itu. Saat menulis, saya sudah membayangkan Mbak Ine sebagai Bu Prani dan Mas Dwi sebagai Pak Didit.
Bagaimana rasanya tergabung di produksi Budi Pekerti?
Ine: Wregas adalah salah satu sutradara yang ada di list saya. Ketika mendapat tawaran langsung dari dia, tentu saya tersanjung dan sangat menghargai itu.
Dwi: Saya suka karya-karya Wregas. Saat dia menceritakan dengan detail banget cerita Budi Pekerti dari awal sampai akhir, saya menitikkan air mata. Nggak ada alasan untuk menolak. Saya justru benar-benar menunggu tawaran dari dia.
Bagi Ine, seperti apa peran Bu Prani?
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Profil Anthony Xie, Suami Audi Marissa yang Digugat Cerai: Beberapa Tahun Berkarier di Taiwan-China
Prediksi Skor Genoa vs Sudtirol di Coppa Italia: Grifone Berburu Gol di Stadio Ferraris
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Bursa Skor Shamal vs Al Ittihad di Liga Champions Asia, Peluang Tim Tamu Kuasai Tanah Arab
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Espanyol di Liga Spanyol: Misi Berat Emil Audero di Kandang
Prediksi Skor Villarreal vs Real Betis di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Sebut MBG Tak Bermasalah, Sudaryono: Yang Bikin Ramai Guru, Ortu, Wartawan, Hingga LSM
Prediksi Skor Reading vs Brentford di Carabao Cup: The Bees Bakal Sengat Tuan Rumah
Prediksi Skor Torino vs Roma di Liga Italia: Giallorossi Siap Obrak-abrik Markas Il Toro

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022