
Anggota DPR RI Atalia Praratya menghadiri sidang lanjutan gugatan cerai terhadap mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil di Pengadilan Agama Bandung, Rabu (31/12). (Rubby Jovan/Antara)
JawaPos.com - Atalia Praratya mengamati tren penurunan angka pernikahan dalam beberapa tahun terakhir. Menurut anggota Komisi VIII DPR RI itu, penurunan angka pernikahan sudah cukup mengkhawatirkan dan harus diwaspadai oleh semua pihak, terutama oleh Kementerian Agama (Kemenag).
Pasalnya, penurunan angka pernikahan mencapai 15 persen lebih. Situasi ini mulai terjadi pada sejak tahun 2013 dan mengalami peningkatan cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
"Bahkan secara rata-rata kumulatif dari 2021 sampai dengan 2024, angka pernikahan nasional telah turun sekitar 15,1 persen,” kata Atalia Praratya dalam rapat kerja Komisi VIII bersama Kementerian Agama RI.
Atalia Praratya meminta hal ini harus benar-benar diperhatikan oleh Kementerian Agama (Kemenag) dan para tokoh agama. Sebab, ini akan berdampak negatif di tengah masyarakat. Apalagi, Indonesia selama ini dikenal sebagai masyarakat yang religius.
"Kita tidak mau seperti Korea Selatan dimana di sana (angka pernikahan) turun sebanyak 40 persen. Kemudian di Jepang turunnya 21,1 persen, China juga turun 20 persen,” tutur Atalia Praratya.
Mantan istri Ridwan Kamil itu meminta Kemenag untuk terus mengembangkan program-program yang berkaitan dengan ketahanan keluarga.
"(Program) Ketahanan keluarga itu penting supaya anak muda kita betul-betul memiliki pembekalan yang baik. Bagaimana pentingnya institusi pernikahan dioptimalkan, seperti itu,” ungkapnya.
Atalia Praratya mengakui kelemahan dirinya yang gagal dalam mempertahankan keutuhan rumah tangga bersama mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Dia pun meminta apa yang terjadi dalam hidupnya tidak perlu dijadikan contoh oleh masyarakat.
"Apa yang terjadi pada saya tentu bukan menjadi contoh gitu ya,"ungkapnya.
Penurunan angka pernikahan di sejumlah negara biasanya ditandai meningkatnya seks bebas di kalangan anak-anak muda.
Di Korea Selatan misalnya, berdasarkan sebuah survei, sekitar 67,4 persen mahasiswa menganggap hubungan seks sebelum nikah adalah hal yang wajar.
Sementara di Jepang, mayoritas responden dalam sebuah survei menyatakan bahwa seks sebelum nikah dapat dibenarkan. Di kalangan mahasiswa, sekitar 90 persen laki-laki dan 83 persen perempuan berekspektasi untuk melakukan hubungan seksual sebelum menikah.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
