
Warga keturunan Tionghoa beribadah merayakan Tahun Baru Imlek 2577 di Vihara Boen San Bio, Kota Tangerang, Banten, Senin (16/02/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Perayaan Tahun Baru Imlek kerap identik dengan suasana kekeluargaan yang hangat, dominasi warna merah, serta ragam tradisi yang diwariskan turun-temurun dalam masyarakat Tionghoa.
Bagi mereka, Imlek bukan semata perayaan kumpul keluarga dan berbagi angpao. Perayaan ini dimaknai sebagai momen sakral untuk menjaga energi positif agar tahun baru dimulai penuh harapan dan keberuntungan.
Tetua Kampung Pecinan Jalan Kapasan Surabaya, Dony Djung, menyebut ada sejumlah pantangan yang tidak boleh dilanggar saat Imlek. Aturan ini masih dijalankan keluarga Tionghoa penganut Tri Dharma.
Pantangan tersebut, antara lain dilarang menggosip, mengupil, membersihkan kotoran telinga, mandi, potong kuku, menyapu rumah, serta memasang foto leluhur atau anggota keluarga yang telah meninggal dunia.
“Kalau keluarga Tionghoa yang masih menganut ajaran Tri Dharma biasanya akan melaksanakan pantangan-pantangan itu, dari H-1 sampai hari H perayaan Imlek," ucapnya kepada JawaPos.com, Selasa (17/2).
“Jadi setelah kita Imlek, sembahyang, terus ketemu keluarga Gong Xi, Gong Xi, setelah itu boleh dilakukan misal mau potong rambut, bersih-bersih rumah, dan lain sebagainya,” lanjut Suk Dony, sapaan karibnya.
Menurut Suk Dony, pantangan tersebut idealnya dijalankan hingga Cap Go Meh. Namun, ia memahami jika sebagian orang merasa keberatan tidak menyapu rumah atau potong rambut selama lebih dari sepekan.
“Memang baiknya dilakukan sampai Cap Go Meh, tetapi ya masa ga nyapu rumah seminggu lebih, nggak potong rambut, jadi nggak apa-apa, tapi lebih baik kalau bisa sampai Cap Go Meh,” ujarnya.
Selain tujuh pantangan tersebut, ada juga larangan tidur mulai H-1 hingga pukul 01.00 WIB pada hari Imlek. Aturan ini dimaknai umat Tionghoa agar rezeki dan berkah yang datang tidak hilang begitu saja.
Saat perayaan Imlek, keluarga yang mampu biasanya membuka altar sembahyang leluhur di rumah. Di atas meja persembahan, tersaji aneka ragam sesajen yang masing-masing memiliki makna simbolis.
“Kita minta izin kepada Yang Maha Kuasa untuk memberi kelonggaran kepada leluhur yang sudah meninggal, arwahnya untuk pulang ke rumah masing-masing dan ikut makan bersama,” tuturnya.
Sementara bagi leluhur yang sudah tidak memiliki sanak saudara, doa biasanya dipanjatkan secara bersama-sama melalui ritual Cioko (Chiong Siku) atau Sembahyang Rebutan yang digelar di klenteng setempat.
“Jadi nanti (hari H Imlek) di Klenteng itu istilahnya akan ramai dengan banyak arwah, bersama-sama turut didoakan secara bersamaan atau berebutan dalam Sembahyang Rebutan,” pungkas Suk Dony.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
