
Lukisan potret Santa Faustina (Dok. Catholic Journeys)
JawaPos.com - Banyak orang beragama mengalami mujizat atau mendapatkan penglihatan akan kemegahan Tuhan mereka. Salah satunya adalah Santa Maria Faustina Kowalska, pelindung kerahiman dan belas kasihan.
Dilansir dari Catholic, Santa Maria Faustina Kowalska dari Sakramen Mahakudus lahir dengan nama Helena Kowalska di Glogowiec, Polandia, pada 25 Agustus 1905.
Dia adalah anak ketiga dari sepuluh bersaudara sebuah keluarga miskin namun sangat taat kepada Tuhan.
Faustina menjadi seorang yang memiliki peran besar dalam gereja Katolik karena ia melihat penampakan Yesus Kristus. Penglihatan ini kemudian mengilhami devosi umat Katolik terhadap Kerahiman Ilahi.
Dilansir dari Vatican News, orang tuanya, Marianna dan Stanislao Kowalski, adalah orang biasa sederhana namun sangat taat terhadap ajaran gereja. Mereka juga membaptiskan anaknya yang kemudian mendapatkan nama baptis Helena.
Dikabarkan Helena telah mendapatkan panggilan untuk menjalani kehidupan yang religius, atau bergabung dengan gereja sejak umur tujuh tahun. Namun, Helena tidak dapat bergabung ke biara tanpa izin dari orang tuanya.
Helena hanya bersekolah selama tiga tahun atau tidak menyelesaikan sekolahnya pada umur 16 tahun, dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga di beberapa rumah orang kaya untuk menghidupi keluarganya.
Pada tahun 1924, ia mendapatkan penglihatan secara tiba-tiba dimana ia melihat penderitaan Yesus yang berkata kepadanya, "Berapa lama lagi Aku harus menanggungmu? Selama kau menipu-Ku?"
Dalam penglihatan itu, Yesus memerintahkan Helena untuk pergi ke Warsawa dan bergabung dengan biara di sana.
Helena langsung pergi ke Warsawa dengan menaiki kereta tanpa meminta izin dari orang tuanya, bahkan walaupun ia tidak kenal siapa pun di Warsawa. Ia juga tidak membawa apapun selain pakaian yang ia kenakan.
Perjalanan itu menempuh jarak sejauh 137 km dari Lodz ke Warsawa.
Akan tetapi, ia masih membutuhkan dana untuk tabungan dan setoran ke biara sebelum bergabung. Maka hingga tahun 1925, ia tetap bekerja sebagai pembantu rumah tangga.
Di tanggal 10 Agustus 1925, ia bergabung dengan Biara Susteran Santa Perawan Maria yang Berbelas Kasih di Warsawa.
Pada tanggal 30 April 1926, ia akhirnya mengenakan jubah biara dan menerima nama Maria Faustina dari Sakramen Mahakudus.
Setelah itu, ia menghabiskan 13 kehidupan di berbagai biara sebagai koki, tukang kebun dan lain-lain.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
