
Ilustrasi Materi Khutbah Jumat.
JawaPos.Com - Hari Ulang Tahun Republik Indonesia atau HUT RI ke-79 telah di depan mata.
Satu langkah lagi, masyarakat di Tanah Air akan merayakan HUT RI ke-79 dengan suka cita.
Oleh karenanya, HUT RI ke-79 kembali membawa kita semua untuk bersyukr dengan keadaan yang kebih baik setelah terbebas dari masa penjajahan.
Namun bagi umat Islam, kemerdekaan bukan sekedar keinginan umumnya manusia, namun ia juga termasuk ajaran agama.
Dalam materi khutbah Jumat kali ini, Jawa Pos telah merangkumkan topik menarik dari "Kemerdekaan dan Nasionalisme dalam Bingkai Agama"
Disadur dari laman Nu.or.id, materi khutbah Jumat ini ditulis oleh Ustadz Ustadz Dr. Fatihunnada, Dosen Fakultas Dirasat Islamiyyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ. القَائِلِ فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوَٰنًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمْ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ المُصَلُّونَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Mengawali khutbah Jumat ini, khatib mengajak kepada jamaah untuk menguatkan rasa syukur dan takwa kepada Allah swt yang telah menganugerahkan negeri yang indah dan terbebas dari penjajahan. Negara yang merdeka akan sangat mempengaruhi kualitas kita dalam menjalankan perintah-perintah yang ada dalam agama.
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah,
Hubungan agama dan negara sangat erat dan tidak dapat dipisahkan. Keduanya berperan penting dalam menumbuhkan nasionalisme di tengah masyarakat dalam pemenuhan hak dan kewajiban mereka. Agama dan negara menuntut seluruh elemen masyarakat untuk hidup dengan persatuan, perdamaian, dan perlindungan.
Nasionalisme bukan sekedar istilah yang diucapkan berkali-kali dalam momentum hari raya kemerdekaan. Nasionalisme bisa dimaknai dari berbagai sudut pandang sebagai berikut:
Pertama, nasionalisme yang sejati adalah sikap memperjuangkan tanah air dengan segala kemampuan yang dimiliki. Nasionalisme akan melahirkan pengorbanan untuk mempertahankan tanah air dari segala ancaman seperti yang dilakukan oleh para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan Indonesia.
Dalam hal ini, Nabi Muhammad saw bersabda seperti yang dikutip imam al-Tirmidzi dalam kitab Sunan al-Tirmidzi sebagai berikut:
مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دَمِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُونَ أَهْلِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
