JawaPos.com - Bulan Muharram yang merupakan bulan pertama dalam penanggalan Hijriyah merupakan salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah selain Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Rajab.
Maka dari itu, umat Islam disunnahkan untuk melaksanakan ibadah puasa di bulan Muharram. Dua puasa yang sering dianjurkan untuk dijalankan umat adalah puasa Tasu'a dan Asyura.
Dilansir dari laman NU Online, puasa Tasu'a dan Asyura berlangsung secara berurutan, yaitu tanggal 9 Muharram untuk Tasu'a, dan 10 Muharram untuk puasa Asyura.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Rasulullah berpesan agar umat Islam berpuasa pada bulan Muharram.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعدَ الفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ. (رواه مسلم)
Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata: ‘Rasulullah saw bersabda: ‘Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (HR Muslim).
Bagi umat Islam yang ingin berpuasa Tasu'a, dianjurkan membaca niat Puasa Tasu’a sebagai berikut.
نَوَيْتُ صَوْمَ تَاسُوعَاءَ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma Tâsû’â-a lilâhi ta’âlâ.
Artinya: Saya niat puasa Tasu’a karena Allah ta’âlâ.
ardha
Sedangkan niat Puasa Asyura bisa dibaca seperti berikut:
نَوَيْتُ صَوْمَ عَاشُورَاءَ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma Âsyûrâ-a lilâhi ta’âlâ.
Artinya: Saya niat puasa Asyura karena Allah ta’âlâ
Atau bisa juga membaca niat puasa Muharram yang lebih umum yaitu:
نَوَيْتُ صَوْمَ الْمُحَرَّمِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shaumal Muharrami lilâhi ta’âlâ.
Artinya: Saya niat puasa Muharram karena Allah ta’âlâ.
Puasa Tasu'a dan Asyura sebenarnya merupakan satu rangkaian, atau jika dilengkapi lagi, umat Islam dianjurkan puasa pada 11 Muharram.
Hal itu sekaligus dijadikan sebagai pembeda dari ibadah orang Yahudi yang juga berpuasa namun hanya pada tanggal 10 Muharram.
Anjuran tersebut juga tercantum dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Ibnu Abbas, “Puasalah kalian pada hari Asyura dan bedakan dengan kaum Yahudi, puasalah kalian sehari sebelum atau sesudahnya’.” (HR Ahmad).
Karena puasa Tasu'a dan Asyura merupakan satu rangkaian, maka keistimewaan puasa ini relatif sama, yaitu melebur dosa setahun yang telah berlalu.
عَنْ أَبي قَتَادَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صِيامِ يَوْمِ عَاشُوراءَ، فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ المَاضِيَةَ. (رواه مسلم)
“Diriwayatkan dari Abu Qatadah ra: sungguh Rasulullah saw bersabda pernah ditanya tentang keutamaan puasa hari Asyura, lalu beliau menjawab: ‘Puasa Asyura melebur dosa setahun yang telah lewat’.” (HR Muslim)
Untuk tahun ini, puasa Tasu'a akan jatuh pada 15 Juli, sedangkan puasa Asyura dapat dijalankan pada 16 Juli 2024.
***