
Wakil Ketua Komisi IV, Roem Kono bersama Dirjen Perkebunan, Bambang ketika meninjau Desa Sibowi, Kecamatan Tanambulava, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah, Senin (19/2).
JawaPos.com - Pemerintah dan DPR berkomitmen penuh dalam mendorong peningkatan sektor perkebunan di Sulawesi Tengah. Khususnya pada komoditas kakao.
Saat ini, daerah Sulawesi Tengah merupakan penyumbang terbesar produksi kakao nasional.
Data Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian (Kementan), totalnya mencapai 180 ribu ton.
Direktur Jenderal Perkebunan (Dirjenbun) Kementan, Bambang mengatakan, kebutuhan kakao dunia terus meningkat setiap tahunnya. Para petani Tanah Air, kata dia, harus menangkap peluang ini dengan maksimal.
"Pengantin baru saja butuh kakao," seloroh Bambang ketika mendampingi rombongan Komisi IV DPR ke Desa Sibowi, Kecamatan Tanambulava, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah, Senin (19/2).
Apa yang diungkapkan Bambang tak lepas dari belum optimalnya para petani dalam menggarap kakao.
Padahal, potensi kakao bisa dilipatgandakan dengan sistem dan manajemen tanam yang cermat serta terencana.
"Sekarang itu rata-rata (per hektar) 500-600 kilogram. Padahal bisa 5-7 ton. Bayangkan bisa tujuh kali lipat," ujar dia.
Sementara, Wakil Ketua Komisi IV DPR, Roem Kono meminta pemerintah memrpioritaskan anggaran perkebunan untuk Sulawesi Tengah. Khususnya berkaitan dengan peningkatan produksi kakao.
"Sekarang kan Rp 200 miliar (untuk kakao). Nah minimal 30-40 persen di-drop untuk Sulawesi. Ini agar terjadi akselerasi peningkatan kualitas dan kuantitas sektor perkebunan. Tak hanya kakao, tapi juga kelapa, cengkeh, dan kopi," beber legislator asal Fraksi Golkar itu.
Roem Kono berjanji dia bersama Ditjenbun Kementan bakal bersinergi membangun sektor perkebunan nasional. Apalagi, sektor ini menyumbang pendapatan domestik bruto (PDB) paling besar dari sisi non migas.
"Seperti dikatakan Pak Dirjen (Perkebunan), PDB Perkebunan Rp 429 triliun. Harus benar-benar didorong oleh semua pihak," lanjut dia.
Roem Kono juga meminta pemerintah, baik pusat maupun daerah secara intensif membantu para petani kakao.
Dia melihat ada beberapa persoalan, mulai dari ketersediaan pupuk, penanggulangan hama Penggerek Buah Kakao (PBK), hingga stabilitas harga.
"Harus diselesaikan segera. Tadi para petani meminta bantuan pupuk dan Gedung Unit Pengelolaan Hasil. Kami akan bantu untuk direalisasikan," jelas dia.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
