
Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri usai dianugerahi Doktor Honoris Causa oleh Mokpo University di Korea Selatan, Kamis (16/11)
JawaPos.com - Universitas Mokpo Korea Selatan menganugerahi doktor honoris causa kepada Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarno Putri. Bu Mega dinilai berjasa besar dalam bidang ekonomi. Khususnya secara konsisten memperjuangkan paradigma Ekonomi Pancasila.
“Beliau konsisten memperjuangkan paradigma Ekonomi Pancasila supaya diimplementasikan untuk menggantikan sistem paradigma ekonomi kapitalisme,” kata Rohkmin Dahuri yang juga ketua DPP PDI Perjuangan bidang Kemaritiman yang ikut dalam rombongan ke Mokpo, Rabu (15/11).
Selain Rokhmin, turut pula dalam rombongan Mohammad Rizki Pratama, putra pertama Ibu mega, dan anggota Fraksi PDI Perjuangan di DPR Herman Hery.
Konsistensi sikap Bu Mega memperjuangan paradigma ekonomi Pancasila itu tercermin dari perjalanan kariernya di politik. Saat menjadi anggota DPR dua periode 1987-1992 dan 1992-1997, Ekonomi Pancasila terus digaungkan.
Kemudian berlanjut saat menjabat wakil presiden 20 Oktober 1999 sampai 23 Juli 2001. Puncaknya, ketika menjadi kepala negara pada 3 Juli 2001 – 20 Oktober 2004, dengan mengimplementasikan Ekonomi Pancasila.
Mengomentari hal ini, Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Depok, Totok Sarjono bangga dengan penghargaan yang diberikan kepada Bu Mega.
Dia menilai, apresiasi kepada Bu Mega merupakan suatu keniscayaan. Menurutnya, Bu Mega sejak puluhan tahun lalu, berkomitmen penuh terhadap Pancasila. Bukan hanya Ekonomi Pancasila, tetapi dalam aspek lainnya.
"Ya demokrasi, toleransi, sampai budaya. Artinya apa, Ibu merupakan penjaga marwah Pancasila yang paripurna. Menyeluruh, komprehensif tidak parsial. Sangat langka figur seperti beliau," ujar dia kepada Jawapos.com, Kamis (16/11).
Towels-sapaannya- setuju apa yang diutarakan pihak Mokpo National University bahwa Ekonomi Pancasila merupakan alternatif ideal pengganti Sistem Ekonomi Kapitalis. Sebab, makin hari kian nyata jika implementasi Ekonomi Kapitalis menghasilkan dunia yang timpang secara sosial ekonomi.
"Yang miskin makin miskin, begitu pula yang kaya. Belum lagi kalau kita tilik dari kerusakan lingkungan. Ekonomi Kapitalis sadar atau tidak sudah merusak keberlanjutan ekosistem di bumi itu sendiri. Kehidupan umat manusia yang semakin mencekam, seperti narkoba, gangguan jiwa, perang saudara dan gelombang migrasi,” beber pria yang juga Ketua Dewan Pembina Gempita (Gerakan Marhaen Pecinta Tanah Air) itu
"Nah kalau kita kembali kepada Ekonomi Pancasila sebagaimana pemikiran Ibu, maka akan tercipta dunia yang lebih berkeadilan, sejahtera, dan damai. Karena, Ekonomi Pancasila bersifat inklusif, tidak hedonistik dan tidak serakah," tutup Towels.

11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
