
Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis)
JawaPos.com - Spesies baru Orangutan Tapanuli baru saja ditemukan di habitat terisolir Ekosistem Batang Toru, pada tiga Kabupaten Tapanuli, Sumatra Utara. Selain disimpulkan sebagai spesies baru, kera besar bernama Pongo Tapanuliensis ini memiliki lima fakta menarik.
Berikut lima fakta tentang Orangutan Tapanuli (Pongo Tapanuliensis) berdasarkan penelitian hasil kerja sama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta sejumlah peneliti lokal dan mancanegara:
1. Populasinya kurang dari 800 individu
Salah satu peneliti, Puji Rianti mengatakan, sejak 2016, sekitar 800 individu Orangutan Tapanuli ini hidup di Batang Toru. Dia pun menyayangkan minimnya populasi Orangutan Tapanuli karena ekosistem Batang Toru sangat baik bagi populasi orangutan.
"Setelah ini mudah-mudahan bisa dilakukan peninjauan ulang untuk usulan pengembangan daerah. Kawasan Batang Toru habitat terakhir untuk orangutan tapanuli dengan populasi terpadat," kata Puji di Kantor KLHK, Jakarta, Jumat (3/11).
2. Sangat Lambat dalam Berkembangbiak
Kesimpulan soal ditemukannya spesies baru Orangutan Tapanuli merupakan hasil riset jangka panjang yang dilakukan atas kerja sama Kementerian LHK dan sejumlah peneliti. Yaitu, dilakukan di tiga kabupaten di wilayah Tapanuli: Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan Tapanuli Selatan.
"Tahun 2009-2010 kita juga baru menemukan populasi di sebelah barat Danau Toba," ujar Puji.
3. Hidup Sampai 50-60 Tahun
Orangutan Tapanuli persebarannya 85 persen berstatus hutan lindung dan sisanya 15 persen hidup di hutan primer areal pegunungan lain. Ada populasi kecil di Cagar Alam Sibual-buali di sebelah tenggara blok barat. Sementara populasi Orangutan Tapanuli terpecah ke dalam dua kawasan utama (blok barat dan blok timur), oleh lembah patahan Sumatera.
4. Jarak Melahirkan 8 Sampai 9 Tahun
Orangutan Tapanuli ini merupakan jenis kera besar (great ape) terlangka dan terancam di dunia. Bahkan dinyatakan lebih langka dari Gorila gunung Afrika.
"Kami memastikan tidak ada perburuan, perusakan, dan lain-lain," kata Dirjen Konservasi dan Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE) KLHK, Wiratno.
5. Rata-rata memiliki anak pertama di usia 15 tahun
Wiratno mengatakan, ada 60 lebih penelitian terkait spesies Orangutan Tapanuli sejak 15 tahun lalu. Namun, belum ada yang terindentifikasi. "Dan baru bisa dibuktikan ternyata berbeda secara spesies," ujar Wiratno.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
