
Ilham Aidit saat ditemui di Bandung. Dia menyebut film G30S/PKI pada masa orde baru memiliki banyak ketidakakuratan.
JawaPos.com - Film Pengkhianatan G30S PKI diproduksi pada 1984 silam dan menjadi tontonan wajid kala orde baru memimpin Indonesia. Film yang berdurasi lebih dari 3 jam 30 menit itu disutradai oleh Arifin C. Noer. Setiap 30 September malam, ditayangkan serentak di layar televisi.
Usai orde baru tumbang, film itu tidak lagi harus diputar saat menyambut hari Kesaktian Pancasila yang jatuh pada 1 Oktober. Bahkan, beberapa pihak berani bersuara bahwa film tersebut digambarkan berlebihan. Terutama, soal beberapa aksi sadis yang dianggap tidak sesuai fakta.
Kini, 33 tahun setelah film Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI dibikin. Presiden Joko Widodo sempat menyuarakan agar film tersebut dibuat kekinian untuk generasi milenial. Lantas, bagaimana putra mantan Ketua Umum Partai Komunis Indonesia (PKI) Dipa Nusantara Aidit, Ilham Aidit soal film itu?
Wartawan JawaPos.com Gunawan Wibisono menemui Ilham Aidir di Bandung untuk wawancara mengenai banyak hal. Mulai soal film G30S PKI sampai soal rekonsiliasi.
***
Apakah anda pernah menonton film G30S PKI buatan Arifin C. Noer?
Dari 1984, setiap tahun saya tonton juga. Meski saya enggak suka
Apa yang membuat anda tidak suka?
Sangat menyudutkan, bahkan menurut saya itu fitnah. Film itu ada yang tidak sesuai dengan fakta sebenarnya.
Bisa anda beri contoh?
Seperti adegan di Lubang Buaya, tidak ada tarian dengan lagu genjer-genjer. Begitu juga obor dan penyiksaan yang digambarkan di film. Padahal kenyataanya enggak ada.
Saya akui, di situ memang terjadi pembunuhan, menembak jenderal yang dibawa dalam keadaan hidup, dan dimasukan ke dalam Lubang Buaya. Tapi, tarian genjer-genjer, nyanyian Darah Rakyat, obor dan orang menari-nari seperti orang gila juga tidak ada.
Dan Pak Sukitman (polisi yang ikut dibawa oleh PKI dan menjadi saksi mata) tidak melihat itu. Jadi itu hanyalah imajinasi, bukan film dokumenter apalagi film sejarah. Itu sangat jelas menyudutkan Gerwani dan Pemuda Rakyat, dua organisasi PKI. Makanya, lantas berimbas pada orang begitu marah kepada mereka.
Tapi, film itu produk yang diakui oleh pemerintah.
Diakui oleh Jajang C. Noer, memang film itu adalah pesanan dari pemerintah. Dan itu jelas, orang dipaksa bilang orde baru adalah hero. Pak Harto (Presiden kedua Soeharto) itu hero, karena dia menumpas PKI, dia menegakkan Pancasila.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
