
CETAK SEJARAH. Feny, Rani, Diba, tiga perwira Kowad yang akan menjadi penerbang wanita pertama TNI AD difoto di sela latihan di Lanumad Ahmad Yani, Semarang, Jumat (20/7).
JawaPos.com – Pusat Pendidikan Penerbang Angkatan Darat (Pusdik Penerbad) bakal mencatat sejarah baru. Sejak didirikan pada akhir 1965, baru tahun ini mereka melatih prajurit wanita untuk menjadi penerbang atau pilot.
Meski hanya tiga prajurit, namun mereka akan menjadi pelopor penerbang dari Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad). Jumat (20/7), wartawan Jawa Pos Sahrul Yunizar berkesempatan berbincang dengan ketiga prajurit tersebut.
Mereka adalah Letda Cpn (K) Feny Avisha, Letda Cpn (K) Tri Ramadhani, dan Letda Cpn (K) Puspita Ladiba. Ketiganya merupakan alumni Akademi Milliter (Akmil) 2017 yang terpilih menjadi bagian keluarga besar Penerbad.
Sebagai perwira yang mendapat kesempatan menjadi wanita penerbang pertama di TNI AD, Puspita mengaku sangat bangga. Untuk itu, dia tidak melewatkan kesempatan tersebut.
Sebelum bergabung dengan Penerbad, dara yang akrab dipanggil Diba itu mengaku sempat berniat memilih kecabangan lain. Namun, niat itu batal seiring kesempatan yang dia peroleh untuk menjadi perempuan penerbang pertama di matra darat.
"Saat ada (kesempatan menjadi) pilot wanita pertama (TNI AD), saya berniat untuk jadi sejarah di angkatan darat," tuturnya.
Bersama Rani –panggilan Tri Ramadhani– dan Feny –panggilan Feny Avisha–, Diba terpilih untuk digembleng di Pusdik Penerbad. Dari 16 taruni yang lulus Akmil tahun lalu, hanya mereka bertiga yang diberi kesempatan tersebut.
Sejak kali pertama belajar di markas Pusdik Penerbang di Semarang, Jawa Tengah (Jateng) sudah setengah tahun mereka berlajar terbang.
"Rata-rata jam terbang kami 40 jam," tutur Rani.
Prajurit asal Lahat, Sumatera Selatan (Sumsel) itu menyampaikan bahwa dirinya juga sempat menemui beberapa kendala. Latihan terbang yang jauh berbeda dari simulasi adalah salah satunya.
Ketika memulai latihan terbang di Pangkalan Udara Utama TNI AD (Lanumad) Ahmad Yani, Rani kesulitan menerbangkan helikopter latih.
"Saya sampai sepuluh jam (terbang) lebih belum bisa mengendalikan pesawatnya," kenang dia.
Bahkan, sambung Rani, dia sempat sulit mengedalikan helikopter latih lantaran gugup. "Pesawatnya jadi sulit dikendalikan, seperti ngamuk," imbuhnya.
Namun demikian, perlahan kesulitan tersebut berhasil dia atasi. Menurut dia, tekad sebagai prajurit yang menjadi pelopor wanita penerbang di TNI AD adalah salah satu pendorongnya. Oleh karena itu, meski tidak memiliki referensi dari wanita penerbang TNI AD, dia tetap semangat.
Sebab, ke depan Rani bersama Diba dan Feny yang akan menjadi rujukan wanita penerbang TNI AD lainnya. "Kalau saya sendiri angkatan pertama tidak bisa, bagaimana dengan selanjutnya. Jadi, pola pikir saya, saya harus bisa," ucap dia.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
