Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 4 Januari 2018 | 21.17 WIB

Gaya Sarungan Jokowi Dinilai Lebih Elegan Ketimbang Habib Rizieq

Presiden Jokowi Pakai Baju Adat Bugis - Image

Presiden Jokowi Pakai Baju Adat Bugis

JawaPos.com – Gaya busana nyentrik Presiden Joko Widodo selalu menunjukkan identitas bangsa yakni dengan mengenakan kain sarung. Dalam berbagai kesempatan, Jokowi terlihat nyaman menggunakan sarung. Jokowi pun pandai melakukan padu padan busana dengan kemeja, jas, kemeja putih, bahkan kaos.


Saat sedang santai di rumah pun, bermain bersama cucu si mungil Jan Ethes, Mbah Jokowi, sapaannya, menggunakan sarung sambil bermain air di pinggir kolam renang. Jokowi juga sering mengenakan sarung saat mengunjungi sejumlah pesantren. Tak hanya sarung, Jokowi juga menambah aksesori peci hitam di kepalanya.


Kritikus Mode Sonny Muchlison mengungkapkan sejarah panjang kain sarung menjadi identitas bangsa Indonesia. Bahkan, sarung sudah lama dikenal sejak zaman kolonial Belanda.


"Long time ago, pada masa penjajahan Belanda, karena takut dengan pemberontak maka Pangeran Diponegoro lalu Antasari dan hampir semua pahlawan tipenya sama menggunakan jubah dan sorban," ujarnya kepada JawaPos.com, Rabu (3/1).


Seiring berkembangnya agama Islam, Belanda memberikan pakaian kepada rakyat Indonesia berupa sarung dengan baju koko dan peci hitam. Lama kelamaan, gaya busana itu menjadi ciri khas para santri.


"Peci hitam ya, karena dulu yang berpeci putih itu artinya sudah melampaui haji. Tatanan itu, dipakai santriwan dan santriwati,” kata Sonny.


Pada akhirnya, belakangan di kalangan kaum intelektual, Presiden Soekarno melakukan modifikasi kain sarung dengan jas. Dengan tetap menggunakan peci hitam.


"Maka itu diteladani Pak Jokowi sebagai Mr Finding Personality berusaha mengungkap identitas lamanya dan tetap memakai peci hitam," jelas Sonny.


Sonny menilai tradisi sarung adalah pakaian yang banyak diterima di kalangan masyarakat luas bukan hanya muslim. Menurutnya, gaya seseorang berpakaian tak boleh mengintimidasi dan bisa diterima masyarakat luas. Dia mencontohkan gaya Ketua Front Pembela Islam Rizieq Shihab justru eksklusif dan hanya diterima di kalangan komunitasnya.


"Sorban putih itu jangan mengintimidasi orang lain. Busana yang baik adalah pakaian yang bisa diterima komunitas masyarakat. Dan jika tak diterima society lalu membuat orang ketakutan, maka semua merasa terintimidasi," jelasnya.


Sebelumnya, di akun Twitter-nya, Jokowi juga mengenakan sarung dan duduk di pinggir rerumputan Istana Bogor. Dalam momen hari besar keagamaan misalnya, tentu Jokowi memilih mengenakan sarung. Jokowi juga pernah mengunggah foto dirinya mengenakan sarung dan berbicara soal perikanan dan pariwisata di Nias. Saat itu Jokowi memakai kemeja putih yang biasa dipakainya sehari-hari dengan sarung bernuansa krem, abu-abu, dan hitam.


Tahun lalu, Jokowi juga mengenakan sarung saat menghadiri Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang. Bukan hanya sarung, gaya pakaian Jokowi juga sempat menjadi sorotan saat dia berpidato menggunakan jaket bomber bernuansa tentara (army) hingga laris manis diburu masyarakat.

Editor: Fersita Felicia Facette
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore