
SAMBUNG RASA DUA NEGARA: Christine Verhaagen (kiri) dan Ana Maria van Valan mengapit Olvi, volunteri Mijn Roots di belanda.
SENYAMAN apa pun hidup bersama orang tua angkat, begitu tahu bahwa mereka punya orang tua kandung, anak-anak yang diadopsi pasti akan langsung mencari ibu dan bapaknya. Naluriah. Panggilan hati memang tidak bisa diingkari.
Tidak semua pencarian happy ending. Namun, tidak semuanya juga gagal. Ada yang seperti Pauline Jager, tapi ada yang seperti Ana Maria van Valan. Founder Mijn Roots juga seorang anak adopsi. Karena itulah, dia sangat peduli pada kerinduan anak-anak yang merindukan ibu dan bapak kandung mereka. Sebab, dia pun merasakan hal yang sama.
Sejauh ini, Mijn Roots sudah mempertemukan 65 anak adopsi dengan orang tua kandung mereka. Selain fokus pada anak adopsi dari Indonesia, yayasan itu juga membantu mengumpulkan kembali keluarga-keluarga Belanda yang tercerai-berai akibat perang pada 1945. Mereka menghubungkan keturunan di Belanda dengan keturunan di Indonesia.
Soal pencarian orang tua kandung, Ana berkata bahwa mayoritas anak adopsi biasanya depresi ketika gagal menemukan ibunya. "Ini soal panggilan hati. Siapa yang tidak rindu pada orang tua kandungnya," katanya.
Mijn Roots memperkirakan, ada 3.070 bayi dari Indonesia yang dibawa ke Belanda untuk diadopsi. Tepatnya pada periode 1974–1982. Pada tahun tersebut, aksi adopsi ilegal marak. Modusnya beragam. Ada yang diculik, ada pula yang pura-pura ditampung di yayasan yang entah legalitasnya.
Ana pernah membantu seorang klien bertemu ibu kandungnya di Jawa Tengah. Sang ibu tak pernah menyangka bahwa anaknya masih hidup. Sebab, saat melahirkan, dia diberi tahu oleh bidan jika bayinya meninggal. Jadi, ketika si anak mencarinya setelah puluhan tahun, si ibu kaget. Dia bersyukur bisa bertemu dengan buah hati yang tidak pernah dia ketahui masih hidup.
Dalam mengelola yayasannya, Ana dibantu Christine Verhaagen. Ana di Indonesia, Christine di Belanda. Seperti dirinya, Christine juga anak adopsi dari Indonesia. Bedanya, Ana sudah bertemu ibu kandungnya di Bogor pada 1994. Sementara itu, Christine masih mencari ibu kandungnya sampai sekarang.
Ana yang sempat 18 tahun terpisah dengan ibunya mengatakan, tidak semua anak adopsi hidup dalam keluarga yang harmonis. Kadang, hubungan mereka dengan orang tua angkat juga tidak bagus. Faktor-faktor itulah yang kadang memicu depresi pada anak-anak. Apalagi jika mereka tak kunjung bertemu orang tua kandung. Mereka selalu punya harapan, keluarga kandung adalah solusi bagi depresi yang dialami. (omy/c18/hep)

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
