
Berita duka cita tentang meninggalnya Mgr. Hieronymus Herculanus Bumbun OFMCap yang beredar luas di jejaring WhatsApp. (Istimewa)
JawaPos.com - Uskup pertama dari suku Batak yang memimpin Keuskupan Agung Medan, Mgr. Alfred Gonti Pius Datubara OFMCap, dikabarkan meninggal dunia hari ini, Jumat (17/10) pukul 09.13 WIB di Rumah Sakit St. Elisabeth Medan. Uskup Emeritus ini tutup usia pada umur 91 tahun.
Hal ini dikabarkan secara resmi akun Instagram Keuskupan Agung Medan.
"Berita duka, telah menghadap kepada Bapa Allah di Surga, Mgr. Alfred Gonti Pius Datubara OFMCap, Uskup Emeritus Agung Medan," tulisnya.
Jenazah Mgr. Pius Datubara disemayamkan di Gereja Katedral Medan mulai Jumat hingga Minggu, 17–19 Oktober 2025. Adapun ibadat penyambutan jenazah akan dilaksanakan pada pukul 13.30 WIB, dilanjutkan Misa Requiem pada pukul 18.00 WIB di Gereja Katedral Medan.
Perayaan Ekaristi dan acara penghormatan lainnya akan diinformasikan kemudian oleh Keuskupan Agung Medan.
Profil Pius Datubara
Pius Datubara dikenal luas sebagai sosok yang bersejarah dalam Gereja Katolik Indonesia karena menjadi uskup agung pertama dari etnis Batak. Ia memimpin Keuskupan Agung Medan sejak 24 Mei 1976 hingga masa pensiunnya pada 12 Februari 2009.
Selama masa pelayanannya, Pius dikenal sebagai pemimpin rohani yang rendah hati, bijaksana, dan berperan besar dalam mengembangkan pelayanan pastoral di Sumatra Utara.
Alfred Gonti Pius Datubara lahir pada 12 Februari 1934. Ia ditahbiskan menjadi imam pada 22 Februari 1964 oleh Uskup Agung Medan saat itu, Antoine Henri van den Hurk. Karier gerejanya terus menanjak hingga terpilih sebagai Uskup Auksilier Medan pada 5 April 1975 dengan gelar Uskup Tituler Novi.
Tak lama kemudian, pada 29 Juni 1975, ia ditahbiskan menjadi uskup oleh Justinus Kardinal Darmojuwono, Uskup Agung Semarang, dengan didampingi dua uskup ko-konsekrator: Antoine Henri van den Hurk dan Raimundo Cesare Bergamin.
Setahun berselang, tepatnya pada 24 Mei 1976, Pius resmi diangkat menjadi Uskup Agung Medan menggantikan pendahulunya, Antoine van den Hurk. Kepemimpinannya yang tegas namun penuh kasih membawa Gereja Katolik di Medan semakin berkembang, baik dalam bidang pendidikan, sosial, maupun pelayanan umat.
Setelah mengabdi lebih dari tiga dekade, ia pensiun pada 12 Februari 2009, dan tongkat estafet diteruskan kepada Mgr. Anicetus Bongsu Antonius Sinaga.
Kepergian Mgr. Pius Datubara meninggalkan duka mendalam bagi umat Katolik di seluruh Indonesia, khususnya di Sumatra Utara. Namanya akan selalu dikenang sebagai sosok pemersatu, teladan iman, dan pionir bagi generasi penerus Gereja Katolik Batak.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
