Al-quran daun lontar Masjid Jami Matraman, Kamis (14/8). (Ryandi Zahdomo/Jawapos)
JawaPos.com - Masjid Jami Matraman di Kelurahan Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat, bukan sekadar rumah ibadah. Berjarak sekitar 200 meter dari Tugu Proklamasi, bangunan bersejarah ini menjadi saksi dua momen besar dalam perjalanan bangsa. Yakni, perlawanan Sultan Agung melawan VOC dan perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.
Sejarah Matraman tak lepas dari upaya Sultan Agung membebaskan Batavia dari cengkeraman VOC. Pada 1628 dan 1629, ribuan pasukan Mataram menjadikan wilayah ini sebagai basis perjuangan.
Meski dua kali penyerbuan gagal, nama Mataram tetap melekat di kawasan ini. Dari situlah lahir nama wilayah dan jalan Matraman yang kita kenal sekarang.
Di tepi Kali Ciliwung, sisa-sisa laskar Sultan Agung yang tak kembali ke kampung halaman membangun langgar sederhana pada 1820.
Tahun 1837, dua keturunan Mataram, Bustanul Arifin dan Mursalun, mengubah gubuk kecil itu menjadi masjid dengan nama Masjid Jamik Mataraman Dalem. Artinya, 'masjid jami milik para abdi dalem Kerajaan Mataram'. Seiring waktu, namanya disingkat menjadi Masjid Jami Matraman.
"Matraman Dalem karena artinya 'masjid jami para abdi dalem' atau para pengikut Kerajaan Mataram," ujar Kepala Rumah Tangga Masjid Jami Matraman, H. Syamsudin, saat ditemui JawaPos.com, Kamis (14/8).
Misteri Bung Karno dan Salat Jumat Usai Proklamasi
Masjid ini juga disebut-sebut menjadi tempat Bung Karno melaksanakan salat Jumat pertama setelah membacakan teks Proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Meski tak ada bukti tertulis, cerita itu tetap hidup di kalangan warga sekitar.
Syamsudin mengatakan, informasi tersebut hanya berasal dari kisah lisan para orang tua terdahulu. "Jadi, emang hitam di atas putih nggak ada, jadi nggak ada bukti-bukti. Informasi ini cuma dari cerita-cerita orang tua kita terdahulu aja," terangnya.
Ia mengungkap, terdapat tiga versi cerita terkait Bung Karno pasca pembacaan naskah proklamasi. Pertama, Soekarno mengikuti salat Jumat bersama di Masjid Jami Matraman.
Kedua, Soekarno tidak mengikuti salat jumat lantaran kondisinya yang sedang sakit. Dan ketiga, Soekarno langsung pergi menggunakan kereta usai pembacaan Proklamasi guna menyelamatkan diri.
"Yang (versi) ketiga tuh, saya kayaknya yakin bener tuh. Pak Candrian Attahiyat, beliau pernah kemari, cerita sama saya. Katanya, saya pernah baca di sana (Belanda). Jadi, di belakang rumah Bung Karno kereta udah nunggu. Waktu itu, setelah baca Proklamasi, nggak lama, kereta jalan," katanya.
Masjid Jami Matraman, Jakarta Pusat, jadi tempat langganan salat Bung Karno dan Bung Hatta, Kamis (14/8). (Ryandi Zahdomo/Jawapos)

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
