Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 5 Juni 2025 | 19.28 WIB

5 Juni 2025: Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Fokus Hentikan Sampah Plastik yang Rusak Lingkungan

Warga tampak menggunakan perahu saat memungut sampah plastik dan eceng gondok di Sungai Citarum, Bandung, Jawa Barat pada Rabu (4/6). (Abdan Syakura-ANTARA) - Image

Warga tampak menggunakan perahu saat memungut sampah plastik dan eceng gondok di Sungai Citarum, Bandung, Jawa Barat pada Rabu (4/6). (Abdan Syakura-ANTARA)

JawaPos.com – Dunia kini dihadapkan dengan tiga krisis dimulai dari perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, dan polusi yang saling berkaitan satu sama lain.

Semua krisis di atas berhubungan erat dengan sampah plastik yang menjadi tema dalam Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025.

Dikutip dari situs berita ANTARA, Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025 mengangkat tema "Hentikan Polusi Plastik" yang diperingati pada Kamis (5/6) ini.

Sampah plastik yang mencemari lingkungan dapat menyebabkan polusi dan kerusakan pada ekosistem seperti kematian flora beserta fauna.

Kerusakan ekosistem menjadi salah satu faktor yang meningkatkan suhu permukaan bumi dan berdampak pada perubahan iklim.

Dilansir dari unep.org, United Nations Environment Programme (UNEP) mencatat pada 2020 secara global terdapat 9-14 juta ton sampah plastik yang berakhir di lautan dan akan bertambah pada beberapa tahun mendatang.

UNEP memprediksi sampah plastik diyakini dapat bertambah menjadi 23-37 juta ton hingga 155-265 juta ton masing-masing pada 2040 dan 2060.

Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) pada 2024 mencatat terdapat 34,2 juta ton sampah yang berhasil dikumpulkan dari 317 kabupaten/kota di Indonesia dengan 19,74 persen adalah sampah plastik.

Jumlah itu menunjukkan peningkatan sampah plastik dari 11 persen menjadi 19,26 persen masing-masing pada 2010 dan 2023.

Sampah plastik yang mencemari lingkungan terbuat dari bahan bakar fosil itu tidak dapat terurai dengan mudah dan mempertahankan bentuknya mulai belasan hingga puluhan tahun.

Adapun sampah plastik yang mencemari lingkungan yang bertuliskan "made in Indonesia" dikhawatirkan dapat menjadi isu polusi lintas batas ketika mengalir ke laut dan berakhir di negara lain.

Muhammad Reza Cordova, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengatakan bahwa sampah yang berasal dari Indonesia akan berakhir di perairan internasional sekitar satu tahun, dilansir dari brin.go.id.

Reza juga memaparkan kebocoran sampah plastik rata-rata sebanyak 484 ribu ton per tahun dengan kerugian yang ditaksir mencapai Rp25 triliun hingga Rp255 triliun per tahun.

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Indonesia di sisi lain sudah mengeluarkan kebijakan untuk mengatasi kebocoran sampah plastik di Indonesia.

KLH sudah berusaha menghentikan impor bahan baku sampah untuk industri daur ulang dan menertibkan tempat pemrosesan akhir (TPA) yang melakukan pembuangan secara terbuka.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore