
TELATEN:Lani berkomunikasi dengan beberapa murid SLB Karya Mulia. Jumlah siswa kini mencapai 200 anak dengan tingkat pendidikan mulai pra-TK hingga SMA.
Etty Melani begitu semringah mengajak berkeliling Sekolah Luar Biasa (SLB) Karya Mulia di Wonokromo pada Jumat (14/4). Bangunan dua lantai itu jauh berkembang sejak kali pertama dibangun pada 1976.
---
PENDIRI sekolah tunarungu Karya Mulia tersebut, yakni Prof Harjono dan Sri Rahadjeng, tak lain adalah orang tua dr Etty Melani H. ”Bapak dan ibu punya jiwa sosial tinggi. Mereka berjuang dari nol untuk mendirikan sekolah ini,” ujar perempuan yang tahun ini menginjak usia 69 tahun itu.
Jiwa sosial tersebut rupanya menurun kepada Lani, sapaan akrabnya. Sebagai anak bungsu, dia kerap diajak sang ibu dalam kegiatan-kegiatan sosial.
”Dari kecil sudah di lingkungan sosial seperti ini yang kemudian membuat saya terbiasa dan punya rasa sayang,” ungkap ketua Yayasan Pembina Anak-Anak Tunarungu SLB Karya Mulia itu.
Begitu bapak tiada dan ibu sudah sepuh, Lani-lah yang meneruskan pengabdian orang tuanya. Saat itu 2010, dia masih bekerja sebagai dokter umum di RS Menur. Setelah purnatugas, Lani mulai bisa lebih fokus mengembangkan sekolah.
”Bersyukur saya masih sehat, masih bisa bermanfaat untuk orang lain, itu yang bikin happy,” tuturnya.
Tidak mudah mengelola sekolah sosial. Terlebih, mayoritas yang bersekolah berasal dari keluarga menengah ke bawah. ”Sering kali tidak ada income. Perjuangan memang, tapi karena sudah diniatkan, jadi ada saja bantuan,” lanjut Lani.
Bantuan pembangunan gedung hingga sumbangan media pembelajaran tak hanya datang dari dalam negeri, tapi juga luar negeri. Dari yang mulanya hanya 10 siswa, kini mencapai 200 siswa dari berbagai daerah. Mayoritas Surabaya. Tingkat pendidikan yang awalnya hanya pra-TK-SMP, kini sudah sampai tingkat SMA.
”Saat ini terbesar di Jawa Timur. Jadi tumpuan ortu tunarungu. Ortu ABK itu mau cari sekolah susah lho. Anak-anak punya tempat di sini,” kata ibu tiga anak tersebut.
Lani juga membuat terobosan sistem pendidikan yang disesuaikan dengan bakat anak. Untuk mengasah soft skill siswanya, dia menyediakan berbagai fasilitas penunjang keterampilan. Di antaranya, salon, percetakan, mesin jahit, dan komputer.
”Kami siapkan mereka di dunia kerja, dicarikan kerja juga, yang SMA itu ada PKL. Pendidikan karakter ditanamkan sejak kecil,” urainya.
Masuk TK, lanjut dia, mereka belum bisa bicara. Ketika akhirnya bisa mengucapkan satu kata saja sudah merupakan prestasi dan kebahagiaan ortu. Di usianya yang sebentar lagi kepala tujuh, Lani masih memiliki cita-cita untuk membangun anak-anak tunarungu.
Dia mengusahakan mereka bisa dihargai di masyarakat dan mendapat pekerjaan bukan karena belas kasihan, melainkan skill yang dimiliki.
”Beberapa alumninya sudah bekerja. Saya bahagia kalau dengar anak-anak diterima di hotel, di minimarket, di mana-mana. Ada bahkan yang gajinya lebih daripada gurunya sekarang. Alhamdulillah,” bebernya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
