Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 27 Desember 2018 | 00.33 WIB

Ini Penampakan Citra Satelit Anak Krakatau Sebelum dan Setelah Erupsi

Dokumentasi Materi Press Realese dari Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, Rabu (26/12). - Image

Dokumentasi Materi Press Realese dari Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, Rabu (26/12).

JawaPos.com - Gunung Anak Krakatau telah menyebabkan tsunami di pantai-pantai sekitar Selat Sunda. Erupsi tersebut mengakibatkan longsornya lereng di bawah laut dan memicu gelombang tsunami.


Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menampilkan citra satelit ALOS-2 sebelum dan sesudah terjadinya erupsi pada Senin (24/12). Sebagai perbandingan, dia juga menunjukkan gambar Gunung Anak Krakatau sebelum meletus pada 20 Agustus lalu.


"Ini baru saja mendapat citra satelit dari Jepang, untuk menunjukkan bagaimana tubuh Anak Krakatau sebelum dan sesudah. Yang sebelum, 20 Agustus 2018. Dan yang setelah, melewati Selat Sunda memotret 24 Desember 2018. Dan memang betul sebagian lereng di barat daya runtuh," ujarnya sembari menunjukkan gambar dari satelit dalam konferensi pers yang digelar di kantor BNPB, Rabu (26/12).


Terlihat samar, lereng kawah pada bagian kiri Anak Krakatau kini berkurang dan tampak runtuh. Peristiwa itu, pada Sabtu kemarin telah membuat tremor yang cukup kuat meski tidak sampai ke daratan.


"Inilah yang memicu terjadinya tsunami, dari data BMKG seluas 64 hektare mengalami runtuh kemudian menyebabkan longsor bawah laut yang mengakibatkan tsunami di daerah Selat Sunda," papar Sutopo.


Sebelumnya, berdasarkan hasil analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), longsoran itu setara dengan kekuatan gempa berkekuatan 3,4 skala richter. Kemudian, luas area yang runtuh mencapai 64 hektare.


Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengaku tidak bisa memberikan peringatan dini tsunami lantaran penyebabnya adalah aktivitas vulkanik. Sementara BMKG hanya mampu mendeteksi potensi tsunami menggunakan sensor-sensor gempa tektonik.

Editor: Fersita Felicia Facette
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore