Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 3 November 2016 | 17.55 WIB

Asingnya Nama Presiden Soekarno Bagi Anak di Ujung Timur Indonesia

Pelajar di tanah Papua mengikuti program Pramuka - Image

Pelajar di tanah Papua mengikuti program Pramuka

JawaPos.com PEKANBARU - Kesetaraan pendidikan di Indonesia masih dalam bentuk lip service. Buktinya di ujung timur Indonesia, Tepatnya di Jayawijaya Papua, anak-anak di sana masih menghadapi gagap menulis membaca dan berhitung.



Fakta ini ditemukan oleh Reby Oktarianda, salah seorang tenaga pengajar yang tergabung dalam program Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal (SM3T).



Diceritakannya, ketika pertama kali datang ke tanah Jayawijaya, Papua beberapa waktu lalu, dia dan bersama anggota SM3T lainnya menghapi pengalaman yang cukup besar.



Di daerah ini kesabaran dan kemampuan seorang guru sangat diuji. Bayangkan saja, pelajar tingkat SMP masih ada yang belum bisa baca tulis.



"Anehnya mereka tetap naik kelas," kenang alumnus Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unri itu yang dilansir Riau Pos (Jawa Pos Group), Kamis (3/11).



Pengalamannya, ketika baru tiba di daerah Jayawijaya dia bersama tenaga pengajar daerah terluar lainnya menemukan anak buta huruf, lemah dalam berhitung dan menulis.



Menurutnya, lemahnya kemampuan anak usia sekolah di daerah ini, karena mereka tidak mendapatkan pengajaran yang serius dari guru.



Di samping itu, fasilitas penunjang pendidikan sangat minim. Sehingga tidak salah ketika siswa sekolah sudah duduk di bangku SMP tapi tetap saja canggung membaca, menulis dan berhitung.



Tidak hanya itu, anak-anak ini juga tidak mengenal pahlawan-pahlawan Indonesia. Bahkan Presiden Pertama Indonesia Soekarno juga asing di telinga mereka.



Parahnya, mereka hanya mengetahui Papua dan tidak ada yang mengetahui Indonesia terdiri dari banyak pulau dan banyak suku.



Selain sarana dan prasaran pendidikan masih minim, ketiadaan listrik dan jalan membuat anak-anak di ujung timur Papua ini lambat menerima pendidikan.



"Itu tantangan buat saya. Kami juga merasa bagaimana mereka hidup sehari-hari. Bagaimana penduduk Indonesia masih ada yang belum menerima fasilitas secara layak dari Negara yang sudah merdeka sejak lama ini. Padahal keinginan mereka untuk pengetahuan di luar cukup besar," bebernya. (***/iil/JPG)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore