
HOBI: Nandang Pangestu menunjukkan koleksi anggreknya serta beberapa media tanam yang kerap dipakai untuk menanam anggrek.
Supaya tanaman anggrek tumbuh dengan optimal, media tanam harus sesuai. Penghobi dapat menggunakan banyak jenis media tanam. Mulai pakis cacah, cocopeat, hingga arang. Namun, tak semuanya sesuai dan perlu trial and error.
PENGGUNAAN media tanam bagi anggrek haruslah tepat. Jika asal memilih, bisa-bisa tanaman tidak bertumbuh optimal. Sebab, setiap media tanam memiliki karakteristik tersendiri. Dengan begitu, penghobi harus menyesuaikan dengan sejumlah faktor. Mulai jenis anggrek hingga kondisi lingkungan.
Seorang penghobi anggrek asal Surabaya Nandang Pangestu berbagi tips pemilihan media tanam yang tepat. Dia sangat menekankan pentingnya menggunakan media tanam berkualitas tinggi. Baik media tanam alami seperti pakis cacah, cocopeat, maupun media alternatif seperti genting dan styrofoam. ’’Setiap media tanam memiliki karakteristik dan manfaatnya sendiri,” ujarnya kepada Jawa Pos saat berkunjung pada Kamis (1/2) lalu.
Arang menjadi media tanam yang paling sering dipakai penghobi atau awam sekalipun. Pasalnya, arang sangat mudah ditemukan di daerah mana saja. Hanya, arang lebih mudah berjamur, terlebih jika berada di lingkungan lembap. Mengatasi hal tersebut, Nandang memiliki metode khusus untuk meningkatkan daya guna arang. Yakni, mencuci bersih sebelum digunakan. ’’Setelah itu dikeringkan, baru bisa dipakai,” jelas dia.
AGAR TERUS BERBUNGA: Media tanam anggrek harus diganti minimal setahun sekali. Sebab, zat asam yang muncul akan menghambat pertumbuhan anggrek.
Penghobi juga bisa menggunakan media tanam alami yang memiliki daya tahan lebih baik. Di antaranya, pakis, cocopeat, cocofiber, cocoblock, sphagnum moss, dan moss hitam. Itu lebih tahan terhadap jamur dan memiliki umur pakai yang lebih lama. Untuk pakis, dapat direndam dua sampai tiga hari dengan ZPT. Metode tersebut dilakukan agar pakis mampu menyediakan unsur hara. Dengan demikian, saat anggrek ditanam, dapat langsung memperoleh unsur hara. ’’Bisa mempercepat pertumbuhan akar dan tidak berpotensi mengalami stres,” katanya.
Pemilihan media tanam yang tepat juga harus menyesuaikan usia anggrek. Misalnya, jika masih seedling, itu membutuhkan yang lebih lembap. Sebaiknya, hindari arang, sekam bakar, dan sabut kelapa. Terlebih, ada kandungan tanin yang rentan terhadap pertumbuhan bayi anggrek. Yang paling sesuai bagi Nandang adalah moss hitam. ’’Kalau sudah usia remaja, bebas bisa pakai apa saja,” tuturnya.
Karakteristik jenis anggrek juga berbeda. Misalnya, anggrek gurun dan Dendrobium hybrid lebih sesuai dengan media tanam yang tak terlalu menyimpan air. Salah satunya pasir malang. Nah, kalau yang menyerap nutrisi banyak, yakni anggrek bulan, bisa menggunakan media tanam yang lebih banyak menyimpan air. ’’Kalau saya, lebih hindari sekam bakar karena mudah hancur,” ungkap dia.
AGAR TERUS BERBUNGA: Media tanam anggrek harus diganti minimal setahun sekali. Sebab, zat asam yang muncul akan menghambat pertumbuhan anggrek.
Meski begitu, penghobi tetap harus melakukan penggantian media tanam, paling tidak di atas satu tahun. Pasalnya, zat asam yang muncul akan menghambat pertumbuhan anggrek. Salah satunya, muncul dari pemupukan rutin. Terlebih, jika interval pemupukan lebih sering, interval penggantian bisa lebih cepat. Untuk mengetahui saat yang tepat, dilihat apakah anggrek sedang dorman atau tidak. ’’Itu enggak bisa dihindari, paling gampang lihat akarnya apakah tetap bertumbuh atau tidak,” jelas ibu dua anak itu.
Penggunaan media tanam campuran juga bisa dilakukan. Namun, bagi Nandang, itu hanya akan merepotkan penghobi. Untuk mengatasi masalah jamur dan hama, penghobi dapat rutin menyemprotkan antihama merata setidaknya dua kali sepekan. Itu bersifat opsional dan tak wajib diterapkan. Sinar matahari, arah aliran udara, hingga ketinggian daerah juga sangat berpengaruh. ’’Misal, di Surabaya kan lebih panas, media tanam harus tepat,” katanya.
Koleksi anggrek serta beberapa media tanam yang kerap dipakai untuk menanam anggrek.
Bagi perempuan 51 tahun itu, kunci keberhasilan pertumbuhan anggrek memang terletak pada media tanam yang sesuai. Tidak peduli seberapa baik pupuk yang digunakan, jika media tanam tidak mendukung akar yang sehat, hasilnya tidak akan optimal. Bahkan, tidak ada pakem baku tertentu lantaran harus melalui trial and error. ’’Meskipun di suatu daerah yang sama, bisa saja media tanam yang cocok berbeda,” tutur dia. (dho/c12/ai)

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
