Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 4 April 2022 | 13.48 WIB

Bertanam Bayam dengan Metode Permakultur, Pupuk Alami tanpa Pestisida

TUMBUH SUBUR: Bayam brasil yang sukses dikembangbiakkan di Kebun Pahlawan 10. (HANUNG HAMBARA/JAWA POS) - Image

TUMBUH SUBUR: Bayam brasil yang sukses dikembangbiakkan di Kebun Pahlawan 10. (HANUNG HAMBARA/JAWA POS)

Dengan memanfaatkan lahan seluas 200 meter persegi di daerah Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Bambang Kuspriyatna menanam berbagai tumbuhan pangan. Salah satunya bayam brasil dan malabar. Founder Kebun Pahlawan 10 itu menanamnya dengan metode permakultur.

---

METODE permakultur menjadi pilihan Bambang dan istrinya, Lena Karolina, dalam menggarap lahan tersebut. Yakni, sistem budi daya tanaman berdasar ekosistem alam. ’’Tidak ada yang pakai pestisida. Pupuk juga semuanya alami, dari kompos dan kotoran hewan,” ungkap Bambang.

Untuk mengusir hama, Bambang menanam berbagai tumbuhan yang mengundang predator. Sebagaimana bunga matahari, kenikir, bunga telang, serta tanaman perdu lainnya. Dengan begitu, predator seperti tawon, laba-laba, kadal, tikus, dan ular akan datang. ’’Seperti membuat ekosistem alam yang baru. Kalau dilihat, kok berantakan banget sih. Malah, ini kami membuat hutan mini di lahan terbatas. Anak saya pernah nemu sisik ular waktu bersih-bersih kebun,’’ beber pria 40 tahun itu.

Tanaman bayam menjadi favorit Bambang dan keluarga untuk dijadikan masakan. Khususnya bayam brasil (Altehernanthera sissoo) dan bayam malabar (Basella alba). Tekstur daun dua bayam tersebut lebih tebal ketimbang bayam biasa (Amaranthus sp). Ukuran penampang daunnya juga lebih lebar. Dua tanaman bayam itu bisa dikonsumsi mentah maupun dimasak. ’’Ini edible,’’ imbuh Lena.

Photo

TUMBUH SUBUR: Jenis bayam malabar dikembangbiakkan di Kebun Pahlawan 10. (HANUNG HAMBARA/JAWA POS)

Saat berkunjung ke Kebun Pahlawan 10, Jawa Pos mencoba memakan mentah bayam brasil dan bayam malabar. Daun agak tebal membuat lebih renyah ketika dikunyah. Hanya, bayam malabar agak sedikit terasa getir karena sedikit bergetah. ’’Maka, pengolahannya harus diremas-remas dulu daunnya, lalu direndam pakai air garam sebelum dimasak,’’ timpal Bambang.

Daun bayam malabar juga bisa digunakan keperluan medis untuk menyembuhkan luka lecet atau goresan. Cukup diremas-remas, kemudian dibalurkan ke permukaan kulit yang luka. ’’Nggak perih. Justru adem,” ungkap Lena.

Bambang menyatakan, bayam brasil merupakan tanaman yang cukup kuat. Berawal dari satu polybag yang dibeli dari salah seorang kenalan di Bali. Lantas, dia memotong bayam brasil menjadi tiga bagian. Lalu, ditanam dengan teknik setek.

Perawatannya cukup mudah. Yang terpenting terkena sinar matahari. ’’Kalau yang kena sinar matahari lima sampai enam jam, daunnya akan lebih hijau dan besar. Tumbuhnya juga lebat,’’ jelasnya. Sementara itu, yang terpapar cahaya matahari selama dua hingga tiga jam tidak terlalu rimbun dan ukuran daun lebih kecil.

Pria asal Cirebon itu menyebutkan, hama yang merusak tanaman bayam adalah belalang. Karena itu, mereka juga menanam jintan. ’’Jintan baunya menyengat, jadi belalang nggak mau datang,” terangnya.

Meski demikian, tak selalu tanaman bayam aman dari hama belalang. Ada juga daunnya yang berlubang dan habis dimakan hama. ’’Jadi, kalau ada bayam rusak karena hama, ya berarti bukan haknya kita buat panen. Itu konsep permakultur,’’ tandasnya.

Photo

ALAMIAH: Bambang Kuspriyatna menunjukkan tumbuhan yang ditanam dengan metode permakultur. Metode ini semacam membuat ekosistem alami untuk tanaman. (HANUNG HAMBARA/JAWA POS)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore