alexametrics

Menjinakkan Jagal Papua, Burung Pintar Asal Hutan Papua

22 November 2020, 18:18:37 WIB

Di alam liar, perilakunya tergolong sadis. Sering mencabik-cabik mangsa dengan ujung paruh yang runcing dan melengkung tajam. Konon, dia dikenal kanibal. Memangsa burung yang berukuran lebih kecil. Tabiat itu membuatnya dijuluki si jagal dari timur.

AKU enggak berani,” ucap Faris kepada Hendra Sahputra saat diminta memasukkan minum di kandang jagal papua Rabu petang (18/11). Faris diminta Hendra untuk membantu merawat belasan jenis burung kicau koleksinya. Termasuk si jagal papua. Tapi, untuk burung asal Papua itu, sepertinya Faris belum begitu akrab.

Dia memang sedikit trauma. Beberapa hari sebelumnya, jarinya dipatuk si burung saat memberi makan jangkrik. Tanganya kalah cepat dengan samberan si jagal. Jari telunjuknya tergores. ”Ini masih ada bekasnya,” tuturnya sambil menunjukkan bekas baret berwarna merah.

Petang itu, tiga koleksi jagal papua milik Hendra dijajar di ruang tamu rumahnya di kawasan Kapasan. Dua ekor berukuran 32 sentimeter. Satu ekor lainnya lebih kecil. Berukuran sekitar 25 sentimeter.

Ketiga ekor jagal papua milik bapak dua anak itu memang belum jinak betul. Sifat liarnya belum hilang. Maklum, burung tersebut belum lama dia rawat. Belum genap setahun. Tapi, terlihat mulai ada perbedaan dibandingkan pertama awal memboyongnya ke rumah.

Upaya menjinakkan jagal papua itulah yang membuat Hendra tertarik dengan burung berparuh tebal tersebut. Tabiat jagal papua memang liar. Juga dikenal sadis ketika memasangsa serangga, laba-laba, burung kecil, hingga ular.

Selain menyobek mangsa dengan paruh, terkadang dia menancapkan mangsa di celah pohon dan batang-batang runcing. ”Saya pernah masukkan burung emprit ke kandang, langsung habis di makan,” terangnya mengisahkan keganasan jagal papua.

Kecintaan Hendra pada burung bernama latin Cracticus cassicus sejak lima tahun lalu membuatnya punya banyak trik menjinakkan si jagal. Misalnya, memandikannya setiap pagi hingga melolohnya dengan jangrik secara rutin.

Interaksi dengan pemilik membuat si jagal jadi jinak. Bahkan, jika sudah klop dengan si pemilik, jagal papua bisa dikudang untuk berkicau dengan suara khasnya. Sedikit serak, ngebas, dan kencang mirip terompet.

Ya, meski tabiatnya seram, jagal papua juga dikenal sebagai burung berkicau unik. Dalam satu rentetan kicau, suara dari paruhnya bisa berganti-ganti. Kadang suara ”Kiok,kiok,kiok, mirip ayam. Kadang mirip perkutut, beo, bahkan di beberapa nada mirip sirene mobil patrol polisi setengah jadi.

Jagal papua termasuk burung mimikri. Artinya, pandai meniru suara burung lain. Meski tidak selengkap murai batu atau cucak ijo, suaranya diaggap khas bagi pencinta kicau mania. Kental dengan karakter burung timur.

Tak hanya suara yang membuat bapak dua anak itu kesengsem dengan si jagal. Tapi juga gayanya ketika berkicau. Yang selalu membuka dan menutup sayap sesuai kicauan. Jika kicau pendek, bentangan sayapnya singkat. Ketika kicau panjang, sayap membentang lebih lama.

Jika dilihat dari depan, saat berkicau, jagal papua terlihat lucu. Kepalanya yang hitam mendongak ke atas, dada putihnya membusung, sambil mengepak-ngepakkan sayap hitam. Mirip burung air di kutub bagian selatan. ”Ini khasnya, lucu kayak penguin,” kata Hendra.

MENGENAL JAGAL PAPUA (CRACTICUS CASSICUS)

  • Persebaran di kawasan Papua dan Papua Nugini.
  • Memiliki panjang tubuh 32–35 sentimeter.
  • Hidup di kawasan hutan dengan ketinggian rendah hingga 650 meter di atas permukaan laut.
  • Hidup berpasangan dan berkelompok.
  • Termasuk burung karnivora pemakan serangga, reptil, kadang juga burung lebih kecil.
  • Mempunyai suara keras seperti terompet.
  • Selain jagal papua, ada nama jenis keluarga jagal yang dikenal. Misalnya, jagal hitam, jagal leher putih (jagal mini), jagal punggung hitam, jagal kelabu, pied butcherbird, dan tagula butcherbird.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : elo/c13/git



Close Ads