Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 4 Oktober 2020 | 23.16 WIB

Memelihara Alligator Snapping Turtle, si Rahang Besi Purba

HATI-HATI DI DEKAT SI AGRESIF: Alligator snapping turtle punya moncong yang lancip dan enggan melepas ketika menggigit. (Guslan Gumilang/Jawa Pos) - Image

HATI-HATI DI DEKAT SI AGRESIF: Alligator snapping turtle punya moncong yang lancip dan enggan melepas ketika menggigit. (Guslan Gumilang/Jawa Pos)

Alligator snapping turtle (AST) merupakan salah satu kura-kura yang memiliki ciri fisik layaknya hewan purba. Bentuk cangkang berduri seperti aligator. Gahar dengan rahang lancip dan memiliki gigitan yang luar biasa kuat.

---

Jenis ini merupakan salah satu snapping turtle yang paling menonjol bila dibandingkan dengan dua spesies lain. Yakni, common snapping turtle (CST) dan Florida snapping turtle (FST).

AST berasal dari Amerika bagian utara. Sementara itu, habitat alami CST adalah tenggara Kanada, barat daya Pegunungan Rocky, serta sebelah timur Nova Scotia dan Florida. Lalu, FST hanya memiliki habitat di Florida. Di antara ketiganya, AST-lah yang berukuran paling besar. Tercatat, ia bisa tumbuh hingga panjang 80 sentimeter.

Kedua saudaranya cenderung mempunyai cangkang yang lebih halus. Tanpa sisik yang menonjol layaknya buaya aligator. Begitu juga bentuk wajah CST dan FST yang lebih bulat dan mulus. Sebaliknya, AST memiliki moncong yang lebih lancip dengan banyak kulit duri di area lehernya.

Namun, dari semua itu, ada satu ciri yang dimiliki semua snapping turtle. Yaitu, cara mencari mangsa. Mereka mengandalkan pancingan di dalam lidah mereka. Ada semacam organ mirip lidah. Berwarna merah muda. Bentuknya sangat mirip cacing. Nah, bagian itulah yang mengelabui mangsanya. Kura-kura asal Amerika Utara tersebut memancing ikan dengan cara menggoyang-goyangkannya.

Ikan akan mengira itu adalah cacing. Begitu ikan masuk, hap! Mangsa bakal digigitnya dengan rahang yang begitu kuat dan tidak bisa lepas. ”Saking kuat gigitannya, jari manusia pun bisa putus,” ungkap kolektor AST asal Surabaya, Yacop Mantalik.

Yacop mengungkapkan, pipa dan slang miliknya beberapa kali pernah tergigit AST sampai rusak. ”Jadi, waktu membersihkan, digigit sama ia, bolong langsung,” katanya. Apalagi, AST memiliki karakter yang agresif. Begitu menggigit, kadang ia tidak mau melepaskannya.

Sebagai perbandingan, kekuatan gigitan AST tercatat mencapai 1.004 psi. Hampir setara dengan harimau yang mencapai 1.050 psi dan hiena 1.100 psi. Kekuatan gigitan beruang hanya 740 psi. Gigitan itu terfokus pada mulut yang mirip paruh. Kemudian, bagian mulut sangat tajam karena mampu membelah daging saat menutup.

Reptil tersebut termasuk mudah dipelihara. Yacop menuturkan bahwa pakan cukup diberikan seminggu sekali. Atau, kalau mau lebih gampang, berikan saja ikan hidup dalam kolam. Ia akan berburu sendiri.

”AST ini mau ikan hidup maupun mati. Airnya pun tidak rewel, cukup diganti seminggu sekali. Begitu juga tempatnya, tidak perlu terlalu besar. Cukup 2–3 kali ukuran tubuhnya,” jelas pria yang memelihara AST sejak 2000 tersebut.

Tidak seperti kura-kura darat yang butuh sinar matahari, AST tidak terlalu membutuhkannya. Jika ukuran kecil, mungkin ia cukup dijemur sebentar. Namun, kalau AST sudah besar, sinar matahari tidak terlalu berpengaruh. AST dijual dengan harga yang beragam. Ukuran 5 cm biasanya dihargai Rp 500 ribu–Rp 1,5 juta. Itu pun bergantung fisiknya, ada yang cacat atau tidak.


”Kalau besar, harganya bisa sampai Rp 20 juta. Dengan ukuran mencapai 35–40 sentimeter. Berbeda kalau warnanya hypo (kemerahan) dan leucistic (cerah kekuningan), harganya lebih mahal lagi,” ujar pria yang juga kolektor arwana dan ular tersebut.

Menurut Yacop, kunci utama memelihara AST adalah kesabaran. Sebab, waktu tumbuhnya terbilang lambat. Dalam kurun waktu lima tahun, belum tentu ukurannya bisa sangat besar. ”Saya selalu bilang bahwa AST ini piaraan jangka panjang,” tandasnya.

---

TRIVIA AST

  • Ukuran paling besar mencapai 80 cm.

  • Kekuatan gigitan mencapai 1.004 psi. Bandingkan dengan beruang yang hanya 740 psi.

  • Tergolong hewan piaraan jangka panjang.

  • Tidak terlalu membutuhkan sinar matahari, beda dengan kura-kura darat.


Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=NjugwYbQXJ8&t=95s&ab_channel=JawaPos

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore