alexametrics

Poksay, Burung Impor yang Ngetren pada ’90-an Kini Diburu Penggemar

Burung Cerdas yang Punya 12 Variasi Suara
13 September 2020, 16:48:48 WIB

SEMBILAN sangkar itu tampak berjejer menggantung di pipa besi. Dari dalam sangkar, terlihat burung berwarna abu-abu, berkepala hitam, dan berpipi putih melompat-lompat lincah. Sesekali terdengar kicauannya. Keras plus ngebas.

”Ini masih ngeriwik,” ucap Ahmad Sodikin mengenalkan sembilan poksay hongkong miliknya di kawasan Pepelegi, Waru, Sidoarjo, Kamis lalu (10/9). Ngeriwik merupakan istilah penghobi burung untuk menyebut burung dalam kondisi belum berkicau sempurna. Istilahnya, kalau orang, mungkin belajar ngomong. Belum bersenandung dengan suara terbaiknya.

Maklum, sembilan burung poksay yang didatangkan dari Vietnam dua pekan sebelumnya itu memang masih muda. Usianya baru memasuki 8 bulan. Burung juga belum dilatih olah vokal.

”Kalau sudah jadi dan suaranya terbentuk, bisa seperti ini,” ucap Mad, sapaan akrab Ahmad Sodikin, sambil mempertontonkan video kicauan poksay hongkong yang ngerol dari layar gawai miliknya.

Tak hanya berkicau, burung itu juga asyik berjoget. Menyibakkan kedua sayapnya dengan ekor yang mengembang mirip kipas, mengayun-ayun naik-turun. Suara merdu dan tarian adalah gaya khas poksay hongkong. Yang mampu memikat penghobi burung untuk mengoleksinya. Tak hanya memanjakan telinga dengan suara, tarian poksay juga sangat menghibur mata yang memandang. Ibarat fast food, poksay hongkong adalah paket lengkap.

Memang, kicaunya tidak seramai murai batu atau cerewet seperti love bird. Burung itu juga tidak langsung agresif ketika bertemu pejantan lain. Lalu, saling pamer siulan untuk membuktikan siapa yang paling jago. Poksay hongkong lebih kalem. Namun, gayanya tetap menawan.

Jangkrik merupakan salah satu makanan yang disukai burung yang satu ini. (Alfian Rizal/Jawa Pos)

Meski begitu, burung itu termasuk burung cerdas. Dia bisa menirukan suara burung lain dalam kicauannya. Poksay juga burung yang gampang dilatih oleh si pemilik. Baik menggunakan pancingan suara MP3 maupun burung asli.

Poksay hongkong rata-rata memiliki variasi lima sampai tujuh suara. Namun, beberapa ekor dengan kecerdasan tinggi bisa memiliki variasi hingga 12 suara.

Sempat tren pada ’90-an, Mad menyebutkan, sampai saat ini peminat poksay hongkong di Indonesia sebenarnya selalu ada. Tapi, jumlahnya tidak sebanyak peminat burung kicau lokal.

Baca Juga: Merawat si Mungil Pleci yang Gampang-Gampang Susah

Itu semua disebabkan stok poksay hongkong di pasaran terbatas. Poksay hongkong, yang jadi primadona dari berbagai jenis poksay, bukan asli burung dari Indonesia. Poksay adalah burung yang diimpor dari beberapa negara. Misalnya, Tiongkok, Thailand, dan Vietnam.

Burung impor dan stok yang terbatas membuat harganya cukup tinggi di pasaran. Misalnya, untuk burung usia 8 bulan. Ketika burung belum jadi, suaranya belum ngeplong. Di pasaran, harganya bisa mencapai dua sampai tiga juta rupiah. Harga bisa tembus belasan juta rupiah jika burung sudah pandai berkicau.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : elo/c6/git




Close Ads