Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 22 Februari 2021 | 16.48 WIB

Zebra Finch, Burung Cantik yang Mudah Diternak

PERAWATAN MUDAH: Sepasang indukan zebra finch dan anak-anaknya. Proses kembang biaknya tergolong cepat. (Guslan Gumilang/Jawa Pos) - Image

PERAWATAN MUDAH: Sepasang indukan zebra finch dan anak-anaknya. Proses kembang biaknya tergolong cepat. (Guslan Gumilang/Jawa Pos)

Perpaduan warna di bulunya tampak cantik. Ukurannya juga imut. Tingkahnya menggemaskan. Apalagi, ketika mendengar ocehannya yang khas itu. Sebagaimana suara bebek dengan akhiran mirip gesekan piringan hitam yang diputar disjoki di klub malam.

---

ENAM burung kecil itu nangkring di atas kayu balok. Saling berdempetan. Celingak-celinguk kanan dan kiri. Sambil berkicau ringan. Wek, wek, wek, wek, bib, bib. Sesekali di antara mereka terbang keliling mengitari kandang, lalu balik lagi ke gerombolan.

Tingkah mereka juga kompak. Kalau satu mulai berkicau, yang lain ikut. Kalau yang lain menuju cepuk tempat makan, yang lain ikut nimbrung. Dengan paruh tebal dan pendek itu, mereka mematuk biji milet dan jewawut, lalu memuntahkan kulitnya. Sebagaimana teman satu tongkrongan, keenam burung zebra finch itu tampak akrab. ”Ini semua saudara dari indukan yang sama lho,” ucap Tri Tofan Hari Laksono di rumahnya di kawasan Asem Mulya, Asemrowo, Rabu pagi (17/2).

Ya, enam zebra finch itu memang terlahir satu sarang. Sekitar dua bulan lalu, mereka menetas.

Meski baru berusia dua bulan, kini enam remaja itu sudah punya adik lagi. Jumlahnya tak tanggung-tanggung, enam sekaligus. Usianya baru seminggu. Masih berada di dalam sarang. Dierami sang induk.

Kecepatan zebra finch berkembang biak sempat membuat Tofan kaget. Maklum, lelaki 5 Februari 1966 itu terhitung baru empat bulan menjajal beternak zebra finch. Dia baru tahu, setelah melihat cepatnya proses berkembang biak sepasang zebra finch miliknya.

Tofan mencatat, satu pasangan zebra finch miliknya bisa berproduksi satu setengah bulan sekali. Setelah anak dipindahkan dari sarang, sang induk sudah mulai berahi. Lalu menghasilkan turunan baru. Telur menetas selama 12–14 hari.

”Ini sudah tiga kali anakan,” jelasnya. Dengan total 16 anakan yang lahir dari satu indukan. Rata-rata sekali menetas 4-5 ekor. Meski begitu, Tofan mengaku belum mengetahui secara pasti, apakah produktivitas zebra finch miliknya juga terjadi di peternak lain.

Ketertarikan Tofan pada zebra finch bermula dari pandangan mata. Lalu turun ke hati. Terutama dari segi fisik. Burung bernama latin Taeniopygia guttata tersebut cantik. Kaki dan paruhnya berwarna oranye. Sementara itu, warna tubuhnya berwarna-warni. Kepalanya abu-abu sampai ke leher, bagian perutnya putih dengan garis hitam. Sayapnya berwarna cokelat dengan bintik-bintik putih.

”Itu yang pipinya ada tompel, tandanya jantan,” ucap lelaki asal Jember tersebut.

Seperti memakai blush on, burung jantan sekilas memang lebih cantik. Karena warnanya lebih banyak. Di bagian paruh, warna oranye si jantan juga lebih terang dibandingkan dengan betina.

Meski tergolong burung cantik, perawatan zebra finch terbilang gampang dan murah. Pipit asal Australia dan Timor tersebut hanya perlu pakan berupa biji-bijian, sedikit sayur, dan telur.

Biji-bijian bisa dibeli di toko burung. Pakan zebra finch mirip kenari. Bisa pakai milet atau jewawut. Sementara itu, untuk sayur, bisa pakai sawi putih. Telur rebus diberikan sebagai tambahan asupan protein.

”Kalau memberikan makan sebaiknya sedikit-sedikit, tapi setiap hari ditambah,” ucapnya. Sebab, terkadang kulit biji-bijian sering ditinggal di wadah pakan. Sehingga jika tidak dicek, seolah-olah pakan tersebut tak habis atau tak disentuh si pipit. ”Itu saja, tak ada rawatan khusus lagi,” ucap bapak tiga anak tersebut.

Tofan menyebutkan, memelihara dan beternak zebra finch itu cocok untuk mereka yang ingin memanfaatkan waktu luang. Karena perawatannya yang relatif gampang. Bahkan, zebra finch bisa jadi peluang yang bisa menghasilkan cuan.

Baca Juga: 30 Lagu Diaransemen Ulang, Rhoma Irama Gugat Rp 1 Miliar

”Harganya di pasaran saat ini juga masih ada,” jelasnya. Sepasang bisa terjual dengan harga Rp 200 ribu. Bahkan, kualitas indukan yang baik bisa tembus Rp 400 ribu per pasang. Bisa jadi peluang usaha di tengah pandemi yang sulit.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://youtu.be/K1-xXbo1UXk

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore