
WARNA-WARNI: Ikan hias air laut favorit para penghobi. (Guslan Gumilang/Jawa Pos)
Penghobi akuarium aquascape air laut makin banyak. Sebab, pemahaman tentang kebutuhan organisme laut dan cara penyediaannya lebih baik. Meski sebagian orang menilai bahwa memelihara ikan hias air laut itu sulit dan menyusahkan, mereka justru menganggapnya sebagai tantangan.
---
Bagi Eric Ertanto, keindahan dan kecantikan ikan hias laut menjadi daya tarik tersendiri. Setelah bertahun-tahun menggeluti usaha seafood, dia memulai memelihara ikan hias laut dan segala pernak-perniknya saat pandemi Covid-19 mulai merebak. Namun, saat remaja, Eric sudah pernah memelihara biota air asin.
”Kali pertama pelihara ikan hias air laut saat SMA. Nggak banyak sih, tapi nyenengin,” kenangnya saat Jawa Pos menemuinya di gerai Fresh n Jump Seafood miliknya pada Kamis (24/9). Ikan yang dulu dipelihara adalah clown fish dan botana blue tang. Kini ada lagi ikan-ikan yang menjadi karakter di film Finding Nemo tersebut di beberapa akuarium aquascape-nya.
Pria kelahiran Ponorogo itu mengungkapkan, pandemi membuat segala hal berubah. Termasuk aktivitas usahanya sebagai supplier ikan laut untuk konsumsi. Karena itulah, dia kembali merajut kenangan bersama ikan hias. ”April ya, pas udah mulai ada Covid-19 itu deh pindah. Usaha tetap jalan kok,” katanya.
Berkiprah di dunia seafood membuatnya paham tentang keseimbangan ekosistem laut di sebuah kolam. Keberhasilan itu dapat diterapkan di nano tank atau akuarium berbentuk kubus ukuran 30 x 45 x 45 sentimeter.
Menurut dia, apa pun aktivitas yang sudah dilakukan dengan passion dan didasari pemahaman tentu tidak akan cepat mengundang penat. Apalagi, berdasar pengalaman penghobi, rasa senang terhadap akuarium air laut hanya bertahan dua bulan. Memasuki bulan ketiga, biasanya penghobi sudah mulai bosan. ”Secanggih dan semahal apa pun alatnya. Manusianya juga harus terlibat,” tuturnya.
Menurut dia, yang terpenting adalah memahami air dan memperhatikan ikan. Keinginan binatang harus dipenuhi. Apalagi, akuarium harus dikombinasikan dengan beberapa karang. Sebab, ada ikan yang memang tidak bisa berkembang biak di koral. Misalnya, ikan kepe-kepe atau butterfly fish.
Karena itu, Eric hanya mengisi akuarium dengan beberapa jenis ikan yang ramah dengan koral. Yaitu, ocellaris clown fish/ikan nemo/ikan badut, maroon clown fish atau ikan balong, clarkii clown fish (polimas), botana blue tang, blue star, dan dakocan.
Dia juga memiliki ikan hias air laut yang dipelihara di kolamnya. Sebut saja angel fish serta beberapa jenis butterfly fish. Mulai moncong, butterfly fish bulan atau ikan kepe-kepe, hingga ikan kakatua. ”Kalau sudah punya beberapa, jangan cari gampangnya dengan sering mengganti air. Nikmati saja prosesnya. Nanti pasti ketemu polanya,” paparnya.
Photo
RAMAH IKAN: Babut termasuk koral yang sering ditempatkan di akuarium aquascape air laut. (Guslan Gumilang/Jawa Pos)
Menurut dia, problem yang kerap kali muncul adalah tidak terjadi keseimbangan antara bakteri dan amonia ikan. Pemilik sering kali mengganti air laut secara berkala. Menurut dia, hal itu dapat teratasi dengan memahami kondisi ikan dan sering mengecek kadar keasinan air laut di akuarium.
Dia menuturkan, ada beberapa proses yang harus dilalui sebelum ikan laut dimasukkan ke akuarium. Awalnya, cycling air laut untuk membersihkannya dari kotoran dan zat kimia. Dengan begitu, dapat tumbuh kehidupan seperti plankton, copepod, serta bakteri yang diperlukan untuk ekosistem di akuarium aquascape.
”Airnya diputar. Sekitar 2–3 minggu tanpa biota ya. Jadi kosongan,” jelas pria yang juga menjadi anggota Surabaya Marine Aquarist tersebut. Kemudian, selama 1–2 pekan, ikan mati ditaruh untuk menciptakan bakteri secara alami. Setelah itu, beberapa koral dimasukkan. Baru kemudian, ikan hias. Lalu, tambahkan beberapa death rock atau batu karang yang sudah mati.
Jika memelihara ikan di nano tank, lanjut Eric, ada beberapa perlakuan yang wajib dimiliki penghobi ikan hias. Salah satunya, penggunaan back filter system. Lalu, protein skimmer, pendingin air, serta lampu UV akuarium untuk air laut. Penerangan itu berfungsi untuk fotosintesis dan pertumbuhan koral serta mempercantik akuarium. ”Kondisi lampu itu juga berpengaruh. Polanya, ia seperti matahari. Suhu juga perlu dicek. Suhu 26–28 derajat Celsius itu sudah baik,” ungkapnya.
Koral Jadikan Akuarium Semakin Hidup
Koral merupakan salah satu bagian ekosistem dan hiasan yang membuat akuarium air laut berbeda dengan air tawar. Ada banyak jenis koral yang dapat dimasukkan. Masing-masing memiliki tampilan dan karakter yang tidak sama.
Eric menyebutkan, ada beberapa koral yang lazim digunakan penghobi ikan hias air laut. Salah satunya, large polyp stony (LPS). Tumbuhan karang tersebut membutuhkan pencahayaan yang tinggi dan perawatan khusus. Sebab, LPS lebih sensitif ketimbang soft corals yang mudah beradaptasi dengan jenis sistem pencahayaan yang ada. ”Tapi, biasanya banyak yang pakai LPS. Soalnya, koral jenis itu ramah terhadap ikan hias laut,” katanya.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
