
Tim falakiyah Sidoarjo melakukan rukyatul hilal dari lantai 10 RSI Siti Hajar Sidoarjo. (Moch. Rizky Pratama Putra/JawaPos.com)
JawaPos.com–Rukyatul hilal di Kabupaten Sidoarjo menjadi salah satu titik penting dalam penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah pada Kamis (19/3). Dari lantai 10 Rumah Sakit Islam Siti Hajar, tim falakiyah memantau langit barat demi memastikan kapan Hari Raya Idul Fitri tiba.
Kegiatan ini tak sekadar rutinitas tahunan, melainkan bagian dari rangkaian besar rukyatul hilal yang digelar di 28 titik se-Jawa Timur. Namun, dinamika di Sidoarjo menarik perhatian karena melibatkan berbagai unsur masyarakat dan akademisi.
Rukyatul hilal di lokasi ini diikuti delapan orang dari tim Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama Sidoarjo. Selain itu, kegiatan juga melibatkan pegiat falakiyah serta mahasiswa UINSA Surabaya.
Baca Juga: Ekonom sebut Kebijakan Stimulus Ekonomi Pemerintah Jelang Lebaran Bisa Jaga Daya Beli Masyarakat
”Agenda ini diikuti delapan orang dari tim tim rukyatul hilal dari Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama Sidoarjo, pegiat falakiyah Sidoarjo, sebagian mahasiswa UINSA Surabaya,” ujar Muchammad Qolbir Rohman (Sekretaris LFPCNU Sidoarjo) kepada JawaPos.com, Kamis (19/3).
Pemilihan lantai 10 Rumah Sakit Islam Siti Hajar bukan tanpa alasan. Lokasi tersebut dinilai memiliki pandangan ufuk barat yang cukup terbuka dan minim gangguan visual.
Kondisi ini menjadi faktor penting dalam pengamatan hilal yang membutuhkan visibilitas tinggi. Terlebih, posisi bulan sabit muda sangat tipis dan hanya muncul sesaat setelah matahari terbenam.
Secara teknis, pengamatan dimulai sejak matahari terbenam hingga beberapa menit setelahnya. Momen ini menjadi waktu krusial untuk menentukan apakah hilal dapat terlihat atau tidak.
Hasil pengamatan dari Sidoarjo nantinya tidak berdiri sendiri. Data tersebut akan digabungkan dengan laporan dari 27 titik lainnya di Jawa Timur.
Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur Akhmad Sruji Bahtiar menegaskan, seluruh proses rukyat dilakukan secara profesional. Setiap titik pengamatan melibatkan tenaga ahli dan mengikuti standar ilmiah yang ketat.
”Rukyatul hilal ini adalah upaya ilmiah sekaligus syar’i dalam menentukan awal Syawal. Kami memastikan pelaksanaannya berjalan profesional dengan melibatkan para ahli falak,” tutur Sruji.
Dia menambahkan, hasil dari seluruh titik akan menjadi bahan penting dalam Sidang Isbat Kementerian Agama. Keputusan akhir tetap berada di tingkat pusat setelah mempertimbangkan laporan daerah.
Dalam pelaksanaannya, tim rukyatul hilal di Sidoarjo juga menghadapi tantangan yang tidak ringan. Faktor cuaca seperti mendung dan awan tebal kerap menjadi penentu keberhasilan pengamatan.
