
Ilustrasi kolak pisang. (Instagram @fen.z)
JawaPos.com – Setiap bulan Ramadhan tiba, ada satu hidangan manis yang hampir selalu ada di meja makan saat berbuka puasa. Makanan ini seolah sudah menjadi tradisi yang tak tergantikan.
Rasanya yang manis, gurih, dan mengenyangkan membuatnya begitu pas disantap setelah seharian penuh menahan lapar dan dahaga. Yups, siapa lagi kalau bukan kolak, menu buka puasa Ramadhan yang dibuat dengan kombinasi pisang atau ubi dan kuahnya perpaduan santan dan gula merah.
Dilansir melalui laman Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu, (1/3), bulan Ramadhan adalah bulan di mana kita akan menemui menu berbuka puasa bernama kolak. Menu yang menjadi “syarat wajib” dan selalu tersedia di segala penjuru Indonesia.
Nah, pertanyaannya, bagaimana sebenarnya kolak bisa muncul di Indonesia dan menjadi salah satu khasanah kuliner yang erat dengan bulan Ramadhan? Ternyata, ada sejarah panjang dan filosofi mendalam di balik hidangan manis ini.
Kolak bukan sekadar makanan biasa, tetapi juga bagian dari dakwah Islam di Nusantara sejak ratusan tahun lalu. Kemunculan kolak ini tidak lepas dari peran para ulama dalam menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa.
Pada masa itu, salah satu cara yang digunakan para ulama untuk berdakwah adalah melalui makanan. Mereka menjadikan kolak sebagai media dakwah yang mudah diterima oleh masyarakat.
Dengan cara ini, Islam pun semakin dikenal dan diterima oleh masyarakat Jawa secara lebih dekat. Para ulama biasanya menyajikan kolak sebelum atau sesudah mengadakan kumpul warga atau sarasehan.
Acara ini menjadi momen penting untuk membangun kebersamaan, berbagi ilmu, dan mempererat tali silaturahmi antar sesama. Nah, di sela-sela pertemuan tersebut, para ulama menyuguhkan kolak kepada warga sebagai hidangan khas.
Dari sinilah kolak mulai dikenal luas dan menjadi bagian dari budaya kuliner di Indonesia. Selain itu, pemberian nama kolak juga bukan tanpa makna.
Kata "kolak" berasal dari bahasa Arab, yaitu "khalik," yang berarti Sang Pencipta atau Allah SWT. Filosofi ini mengandung pesan bahwa setiap umat Muslim harus selalu mengingat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, terutama di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini.
Tak hanya dari namanya, makna kolak juga dapat ditemukan dalam bahan-bahan dasarnya. Salah satu bahan utama dalam kolak adalah pisang kepok.
Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, kata "kepok" berasal dari kata "kapok," yang berarti jera atau bertaubat. Ini melambangkan harapan agar umat Muslim bisa bertaubat dari kesalahan dan tidak mengulangi dosa-dosa di masa lalu.
Selain pisang kepok, ubi juga sering digunakan dalam kolak. Kata "ubi" dimaknai sebagai ajakan untuk mengubur dalam-dalam kesalahan yang telah diperbuat dan tidak mengulanginya lagi.
Dengan begitu, makan kolak saat berbuka bukan hanya soal mengenyangkan perut, tetapi juga mengingatkan kita untuk memperbaiki diri dan menjadi pribadi yang lebih baik.
Sementara itu, kuah kolak yang terbuat dari santan dan gula merah juga punya makna tersendiri. Santan melambangkan kesucian, mengingatkan umat Islam agar selalu menjaga hati tetap bersih selama bulan Ramadhan.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
