Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 12 Maret 2024 | 17.45 WIB

Lebih Baik Mana Tarawih 11 Rakaat Dengan 23 Rakaat? Begini Penjelasan Versi Muhammadiyah

Shalat tarawih 11 rakaat dengan 23 rakaat lebih baik mana berdasarkan hadits shahih (Pixels) - Image

Shalat tarawih 11 rakaat dengan 23 rakaat lebih baik mana berdasarkan hadits shahih (Pixels)

JawaPos.com - Momen ibadah puasa umat islam berbondong-bondong untuk memperbanyak amalan. Baik itu amalan wajib maupun sunah yang dikerjakan di bulan ramadhan.

Namun dalam menjalan ibadah wajib maupun sunah, mungkin akan terjadi perdebatan, salah satunya shalat tarawih.

JawaPos.com akan mengulas tentang lebih baik mana tarawih 11 rakaat dengan 23 rakaat berdasarkan informasi yang didapat di laman Universitas Muhammadiyah Jember.

Perlu digaris bawahi bahwa penjelasan perbedaan tarawih 11 rakaat dengan 23 rakaat ini versi Muhammadiyah berdasarkan hadits shahih.

Muhammadiyah sendiri dalam menetapkan ibadah sunnah yakni tarawih di bulan ramadhan berjumlah 11 rakaat.

Menurut Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Syamsul Anwar MA dikutip dari laman UMJ oleh JawaPos.com (12/3) bahwa keputusan jumlah rakaat itu berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Aisyah ra.

Hadis tersebut berbunyi sebagai berikut:

وَعَنْهَا ، قَالَتْ : مَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَزِيْدُ – فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ – عَلَى إحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً : يُصَلِّي أرْبَعاً فَلاَ تَسْألْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّي أرْبَعاً فَلاَ تَسْألْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاثاً. فَقُلتُ: يَا رسولَ اللهِ ، أتَنَامُ قَبْلَ أنْ تُوتِرَ؟ فَقَالَ: (( يَا عَائِشَة، إنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلاَ يَنَامُ قَلْبِي مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah (baik dalam bulan Ramadhan dan tidak pula pada bulan Lainnya) dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat rakaat, maka janganlah engkau tanyakan tentang bagus dan panjangnya rakaat tersebut. Kemudian beliau shalat empat rakaat, maka janganlah engkau tanyakan bagusnya dan panjangnya rakaat tersebut. Lalu beliau shalat tiga rakaat. Maka aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau tidur sebelum engkau melakukan witir?’ Beliau menjawab, ‘Wahai Aisyah, sesungguhnnya mataku tidur tetapi hatiku tidak.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 1147 dan Muslim, no. 738)

“Hadis ini shahih, tidak ada perawi yang mendhaifkan. Itu dasar pertama. Dasar kedua yaitu ketika Umar bin Khaththab ra., menertibkan shalat tarawih di Masjid Madinah,” ujar Prof Dr Syamsul Anwar MA.

Prof Syamsul pun menjelaskan bahwa pada masa Umar ra., diangkat imam tepat untuk shalat tarawih yaitu Ubay bin Kaab dan memerintahkannya untuk melakukan shalat tarawih 11 rakaat.

Jadi, kedua dasar itu sangat jelas untuk menjadi alasan kuat pelaksanaan shalat tarawih berjumlah 11 rakaat.

Keputusan melaksanakan tarawih 11 rakaat juga sebagaimana perkataan Rasulullah Saw., yang diriwayatkan oleh Bukhari yaitu صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ yang artinya “salatlah sebagaimana kalian melihatku shalat.” Maka sesuai perintah itulah, shalat tarawih dilakukan sebanyak 11 rakaat.

“Adapaun penambahan-penambahan itu (jumlah rakaat shalat tarawih) dilakukan setelah zaman Khulafaurrasyidin. Ada pula hadits yang menjelaskan bahwa Rasulullah shalat 20 rakaat. Hadits itu dhaif,” ungkapnya.

Hal itu dikuatkan dengan kesaksian Aisyah ra., pada hadits pertama di atas bahwa Rasul tidak pernah shalat malam pada bulan Ramadhan maupun bulan lainnya lebih dari 11 rakaat.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore