Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 16 Juni 2018 | 05.05 WIB

Cerita Mantan Teroris yang Kembali Fitrah

Sofyan Tsauri mantan narapidana kasus terorisme. - Image

Sofyan Tsauri mantan narapidana kasus terorisme.

JawaPos.com - Ramadan adalah bulan penuh berkah. Semua umat akan menjalankan ibadah puasa dengan menahan lapar, haus, dan hawa nafsu. Bulan penuh rahmat ini, akan diakhiri dengan hari raya Idul Fitri.

Idul Fitri adalah hari kemenangan bagi umat muslim di seluruh dunia. Disini, semua kesalahan, baik yang disengaja ataupun tidak disengaja, akan dimaafkan. Waktu dimana semua orang akan tersenyum, tertawa, bercengkrama dengan keluarga dan teman, begitu terasa di hari raya ini.

Semua akan kembali fitrah. Dari hati, umat muslim akan saling bermaaf-maafan. Semua perilaku dari sikap buruk, jahat, benci, marah, dendam, akan dimaafkan dan semuanya akan kembali dari awal kembali.

Hari kemenangan ini akan dirasakan semua orang, tak terkecuali untuknya, yaitu seorang mantan narapidana teroris, Sofyan Tsauri. Ia adalah seorang narapidana yang pernah menjadi bagian dari teroris.

Masuk penjara pada 2010 dan keluar pada akhir 2015. Selama di penjara, Sofyan menjalani hidup yang berat. Meski begitu, Sofyan bercerita, selama dipenjara ia merenung untuk kembali merevisi apa yang telah dilakukannya.

"Didalam penjara, saya merevisi pemikiran-pemikiran yang telah meracuni saya. Disini saya sadar, bahwa pemikiran kelompok teroris yang mendoktrin saya itu salah. Banyak pemahaman mereka yang tidak umum dan berbeda," katanya, di Depok.

Pagi hari yang cerah, Sofyan bercerita. Ia pernah mengalami percobaan pembunuhan. Dirinya, mengaku pernah diracun dua kali. Tapi beruntung, mantan teroris ini selamat dan hanya dirawat di rumah sakit.

Di matanya, masih terlihat rasa curiga dan waspada kepada orang-orang sekitar. Di kehidupannya setelah keluar dari penjara, Sofyan mengaku masih mengalami teror dari sekelompok orang. Ia, bercerita bahwa sampai sekarang, dirinya masih dicari dan ingin dibunuh.

"Saat pertama kali keluar dari penjara, keluarga saya menerima saya. Tidak ada penolakan. Mereka menerima saya," jelasnya.

Sofyan sendiri memiliki lima anak. Yang paling tua berumur 16 tahun, dan umur 5 bulan itu yang paling bontot. Pria ini, bercerita bagaimana anak pertamanya ingin sang ayah tak ingin kembali salah jalan.

"Udah bi. Abi jangan sampai terlibat lagi. Jangan seperti itu lagi untuk masalah-masalah seperti itu," ungkap Sofyan dengan menirukan suara anaknya.

Dirinya mengaku menyesal. Ia tak dapat menghidupi dan menafkahi keluarganya. Sofyan sempat merasa gagal menjadi tulang punggung keluarga. Tak hanya itu, dari perbuatannya dulu, anaknya terkena dampak yang besar.

"Dari dikucilkan di pergaulan dan mereka (anak Sofyan) yang minder. Saya sadar saya salah, sebagai ayah, saya tidak bisa memberi perlindungan dan mencari nafkah dalam hal finansial. Ini yang membuat istri dan anak saya seperti kehilangan," jelasnya.

Hidup bebas bukan berarti tanpa cobaan. Sofyan, mengaku sempat diusir. Tetangganya, merasa Sofyan adalah ancaman dan marabahaya.

"Saya dan keluarga sempat diusir lima kali. Mindset masyarakat bahwa saya adalah sebuah ancaman masih melekat dalam diri saya. Saya ingin memberitau. Saya telah sadar. Dan saya bukan lagi ancaman," jelasnya.

Ia mengaku sulit untuk menghilangkan paradigma buruk dalam dirinya. Cobaan terus saja datang. Dari cobaan pembunuhan sampai dikucilkan masyarakat. Ia sadar betul, ini adalah buah dari perbuatannya dulu. Tapi, Sofyan optimis bisa mendapatkan kembali kepercayaan warga sekitar.

Hidupnya pun tak tentu. Untuk menafkahi keluarga, Sofyan menjadi driver bila ada yang menyewa mobil. Tak cukup hanya mengandalkan penghasilan dari situ, mantan narapidana ini menyambi menjadi Da'i.

Manusia tak luput dari kesalahan. Begitu pun Sofyan. Di bulan Ramadan ini, ia cukup banyak menghabiskan waktu dengan keluarganya di sela-sela pekerjaannya. Apalagi, menjelang hari kemenangan umat muslim. Pada Lebaran nanti, Sofyan ingin pergi untuk berkumpul dengan keluarganya.

"Lebaran nanti seperti biasa, saya akan bekerja serabutan menjadi supir bila ada yang rental mobil. Tapi sebelumnya, saya akan berkumpul dengan keluarga saya setelah salat Idul Fitri. Setelah melaksanakan salat Idul Fitri, saya, istri, dan anak saya akan langsung pergi ke rumah orang tua," imbuhnya.

Lebaran adalah hari kemenangan untuk umat muslim. Untuk Sofyan, ini adalah hari dimana dia bisa berkumpul dengan keluarganya dan bermaaf-maafan. Ia akui, meski keluarganya telah memaafkan segala kesalahannya di masa lalu, tapi Sofyan masih merasa kurang menjadi ayah dan pemimpin keluarga yang baik.

"Dulu saya merenung, saya ini salah. Sebagai ayah, saya tidak bisa menafkahi keluarga dan melindungi anak serta istri saya. Tapi sekarang saya telah sadar. Sofyan bukan lagi dirinya yang dulu," lanjutnya.

Sekarang, Sofyan menjalani hari-hari seperti masyarakat pada umumnya. Ia pun terus berusaha agar mendapat kepercayaan masyarakat. Ia ingin masyarakat memaafkan perbuatannya dulu. Sofyan sadar telah salah dan ia mengakui hal itu.

Seyogyanya, apakah seorang teroris itu bisa benar-benar tobat? Tiap orang punya penilaian masing-masing meski terkadang pemikirannya masih dipengaruhi lingkungan sekitar. Tapi, memberi kesempatan kepada seseorang bukankah sebuah kebaikan?

Terlebih untuk Sofyan, yang merupakan mantan teroris. Ia memang salah, tapi, apakah perlu sampai dikucilkan? Bila kita tidak memberi perhatian kepadanya, apa bedanya kita dengan dirinya yang dulu.

Kita adalah manusia, yang memiliki hati lembut untuk saling mengasihi dan memberi. Memberi kesempatan kepadanya bukanlah sebuah kesalahan. Sofyan, telah tobat. Apalagi yang ditakutkan darinya? Ia sekarang hanyalah seorang warga biasa yang ingin hidup normal dan berbaur dengan lingkungannya dengan penuh canda dan kasih sayang.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore