
JUJUKAN WISATA: Suasana kompleks makam KH Abdul Hamid yang ramai dikunjungi peziarah.
Makam KH Abdul Hamid yang Tak Sepi Peziarah
Pengajian selepas salat Subuh sampai tadarusan hingga tengah malam rutin dihelat di Masjid Jami Al-Anwar di Kota Pasuruan sepanjang Ramadan. Keberadaan makam KH Abdul Hamid di belakang kompleks masjid membuat Masjid Jami Al-Anwar menjadi jujukan wisata religi.
LAILATUL FITRIANI, Kota Pasuruan
---
SETIAP menjelang akhir Ramadan, Masjid Jami Al-Anwar Kota Pasuruan akan berubah menjadi lautan manusia. Ribuan jemaah yang mengikuti khataman Alquran meluber hingga halaman luar. Tepatnya di bawah replika Payung Madinah hingga area alun-alun.
Agenda rutin yang diadakan takmir setempat itu dipimpin pengasuh Pondok Pesantren Sunniyah Salafiyah Habib Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf. Puncaknya pada malam 29 Ramadan Rabu (19/4) lalu.
’’Memang setiap malam 27 dan malam 29 Ramadan itu ada khatmil Quran yang biasanya dipimpin Habib Taufiq. Dihadiri banyak jemaah. Habib Taufiq itu sudah gongnya,” tutur Ketua Takmir Masjid Abdulloh Sodiq saat ditemui Jawa Pos di kediamannya beberapa hari sebelum memasuki Ramadan (17/3).
Kegiatan yang diperuntukkan jemaah laki-laki itu dimulai Senin (17/4). Selepas salat Tarawih, jemaah beriktikaf sembari melantunkan ayat-ayat suci Alquran. Masjid yang dibangun pada 1795 itu memang dibuka 24 jam dan tak pernah sepi. Apalagi, saat Ramadan, terselenggara beragam kegiatan.
’’Dari Subuh itu ada pengajian rutin sebulan penuh, kemudian ngaji kitab kuning,” ujar Gus Dulloh, sapaan akrabnya.
Pengajian dilanjutkan selepas salat Asar menjelang berbuka. Sebagaimana masjid lainnya, Masjid Jami Al-Anwar menyediakan 500 takjil nasi dan kurma setiap harinya.
Ada pemandangan baru pada Ramadan tahun ini. Pelataran luar masjid ramai dikunjungi warga yang ngabuburit di wisata Payung Madinah. Mereka duduk-duduk sambil berfoto menunggu azan Magrib.
’’Setelah salat Isya, ada Tarawih. Kalau di sini, imam Tarawih sama sebulan penuh, tidak gonta-ganti. Lalu, lanjut tadarusan sampai jam 12 malam. Jadi, lampu kami nyalakan terus,” lanjutnya.
Beberapa masjid sekitar masih menjadikan Masjid Jami Al-Anwar patokan azan. Uniknya, masjid yang sudah berusia lebih dari dua abad itu masih mempertahankan jam istiwak atau jam matahari untuk mengetahui waktu salat.
’’Kami istiqamah pakai istiwak. Jadi, setiap hari ada petugas yang melihat kalau sudah jam 12, matahari sudah pas di bayangan lebih dari 4 menit itu azan,” ujarnya.
Dari segi bangunan, nuansa lamanya memang masih kental sekalipun telah mengalami beberapa kali renovasi. Bangunan putih bertingkat dua itu sarat akan sentuhan Timur Tengah.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
