
PENGOBAT KERINDUAN: Masjid Namira di Lamongan dengan lahan parkir yang luas.
DI Masjid Namira, Lamongan, Jawa Timur, itu, kerinduan pada Tanah Suci bisa sedikit terobati. Mulai aroma parfumnya yang ala Masjidilharam sampai keempukan karpetnya yang mengingatkan pada raudah Masjid Nabawi.
Bentuk bangunannya pun terinspirasi dari Masjid Namirah. Belum lagi kiswah Kakbah asli di bagian mihrab imam.
Tak mengherankan kalau masjid yang berada di Jalan Raya Mantup, Jotosanur, Kecamatan Tikung, tersebut menjadi jujukan pengunjung.
Baik yang kebetulan melintas maupun yang memang sengaja ke sana.
Rombongan para peziarah Wali Sanga juga biasa memasukkan masjid itu ke daftar yang harus disinggahi. Termasuk para perantau Lamongan yang tengah mudik, terutama di masa-masa menjelang Lebaran seperti sekarang.
’’Awalnya masjid ini dibangun di atas tanah seluas 1 hektare dengan kapasitas 500 orang,” kata Wakil Ketua Takmir Masjid Namira Abdul Jalil kepada Jawa Pos yang menemuinya Maret (17/3).
Pada 2013, kapasitas masjid diperbesar. Tiga tahun berselang, berdirilah bangunan utama sehingga total luas lahannya sekarang 5 hektare. ’’Kapasitas luar dalam bisa tampung 3 ribu jemaah,’’ ucap Jalil.
Aroma khas Masjidilharam hadir lewat parfum yang diimpor langsung dari Arab Saudi. Dalam periode tertentu, petugas menyemprotkan secara berkala. Wewangian itu langsung tercium begitu memasuki bagian dalam masjid.
Di bagian mihrab imam, terdapat kaca besar ukuran 6 x 3,5 meter. Kaca tersebut dibuat untuk melindungi kiswah atau kain penutup Kakbah. Di Jawa Timur, masjid yang memiliki kain kiswah hanya empat. Dan, Masjid Namira menjadi pelopornya.
Kain kiswah di Namira dibuat untuk menutupi Kakbah pada 1420 Hijriah atau 1999. Kiswah tersebut digunakan untuk menutupi pintu utama Kakbah sehingga beratnya pun sekitar 1 ton.
Menurut Jalil, tulisan Arab di kain kiswah itu terbuat dari 120 kilogram benang emas dan 25 kilogram benang perak. Selain di mihrab imam, terdapat kiswah memanjang di dinding bagian saf depan.
Nama Namira diambil dari nama anak perempuan Helmy Riza, sang pemilik masjid. Syahdan, pengusaha asal Lamongan itu ingin sekali memiliki anak perempuan. Hajatnya kemudian terkabul dan sang putri diberi nama Ghasani Namira Mirza.
Pada Ramadan seperti sekarang, Masjid Namira punya tradisi yang terus diuri-uri: menyembelih sapi untuk keperluan buka puasa dan sahur. ’’Kurang lebih setiap tahunnya potong tiga ekor sapi,’’ ucap Jalil.
Sepasang pengantin melangsungkan ijab kabul di Masjid Namira, Lamongan.
Setiap hari Masjid Namira menyediakan 1,5–2 ribu porsi makanan untuk berbuka. Meski menyembelih sapi, menunya setiap hari dibuat bervariasi. Untuk sahur, disediakan mulai 10 hari terakhir jelang Lebaran.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
