Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 4 April 2023 | 15.35 WIB

Jalan Tol Jadi Pilihan Favorit Pemudik, Rest Area Perlu Ditambah Selama Arus Mudik

Salah satu kondisi rest area di Tol Trans-Jawa  KM  57. - Igman Ibrahim/JawaPos.com - Image

Salah satu kondisi rest area di Tol Trans-Jawa KM 57. - Igman Ibrahim/JawaPos.com

JawaPos.com - Bulan Ramadan sudah memasuki pekan kedua. Artinya masa arus mudik semakin dekat. Jalan tol, khususnya trans-Jawa masih menjadi pilihan favorit bagi para pemudik. Mengantisipasi kemacetan selama periode arus mudik, perlu sejumlah upaya penanganan di jalan tol.

Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno mengatakan, tol Trans-Jawa seperti tahun-tahun sebelumnya bakal menjadi jalur mudik favorit. "Diperkirakan akan dilintasi sekitar 9,2 juta orang pemudik," tutur Djoko Setijowarno Senin (3/4) malam.

Meskipun jalan tol menjadi akses favorit, Djoko berpendapat bahwa pemudik juga bisa mempertimbangkan jalur arteri. Pengalaman tahun lalu, jalur arteri seperti jalan Pantura relatif lebih lancar. Sementara, di sejumlah ruas jalan tol terjadi kepadatan kendaraan yang cukup signifikan.

Untuk itu, Djoko Setijowarno menyarankan Pemerintah untuk mengantisipasi kemacetan di jalan tol sejak dini. Di antaranya dengan menyiapkan rest area khusus atau tambahan.

"Rest area khusus bisa disiapkan di titik-titik sekitar pintu tol," tuturnya. Selain keberadaan rest area tambahan, fasilitas toilet perlu ditambah. Khususnya fasilitas toilet untuk perempuan.

Sebagaimana diketahui, Pemerintah sudah mengantisipasi kemacetan di jalan tol atau jalan bebas hambatan. Di antaranya dengan menyiapkan rekayasa pemberlakuan satu arah (one way) di titik tertentu. Kemudian juga memberlakukan pembatasan truk, khususnya truk sumbu tiga. Pertimbangannya truk sumbu tiga tidak bisa melaju kencang sehingga bisa memicu kemacetan.

Rencana pemerintah memberlakukan pembatasan truk sumbu tiga menuai pro dan kontra. Koordinator Pengemudi Wilayah Jawa Timur dan Lombok Aliansi Perjuangan Pengemudi Nusantara (APPN) Vallery Gabrielia Mahodim. "Jika kami yang biasanya membawa truk sumbu tiga dilarang beroperasi saat lebaran nanti, jelas kami akan jadi pengangguran," kata Vallery Gabrielia Mahodim kepada wartawan Senin (3/4).

Padahal biaya hidup para sopir truk tersebut tetap berjalan, bahkan semakin tinggi saat momen lebaran. Untuk itu Vallery berharap pemerintah juga mempertimbangkan nasib atau penghasilan para supir truk sumbu tiga atau truk logistik.

Dia menyoroti rencana pelarangan truk sumbu tiga, tetapi untuk truk sumbu dua masih diperbolehkan. Menurut dia aturan tersebut justru memicu kemacetan di jalan. Pasalnya jumlah truk yang bakal beroperasi di jalan bakal semakin banyak. Karena sebagai pengganti armada truk sumbu tiga yang dilarang beroperasi.

"Kalau sumbu tiga dilarang dan diminta memakai yang lebih kecil, bukannya nanti malah jadi tambah padat jalannya," tandasnya. Dia mengatakan keberadaan truk sumbu tiga sangat vital. Sebab banyak digunakan untuk mengangkut kebutuhan pokok seperti sembako, bahan bakar gas, hewan ternak, pupuk, dan sejenisnya.

Kemenhub sudah menyampaikan angkutan logistik vital seperti sembako dan sejenisnya tetap dibolehkan. Namun dibatasi hanya dengan truk sumbu dua. Kondisi ini bisa memicu banyaknya truk sumbu dua, yang ujungnya tetap bakal membuat macet di jalanan. (*)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore