Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 5 April 2024 | 20.30 WIB

Mudik Lebaran Lewat JLS Jatim, Lalu Rehat di Jembatan Besuk setelah Lewati Jalanan Meliuk-liuk

Jembatan Besuk Kobo - Image

Jembatan Besuk Kobo

Setelah melewati rute berkelok-kelok dengan tebing di kanan-kiri di sepanjang jalur Malang–Lumajang, warung kaki lima di dekat Jembatan Besuk Kobo’an bisa jadi pilihan beristirahat. Toilet ada, tapi tanpa penerangan di malam hari.

SHOLEH HILMI QOSIM, Lumajang

---

PERJALANAN mudik melewati rute MalangLumajang bisa jadi salah satu yang paling ekstrem sepanjang Jalur Lintas Selatan (JLS) Jawa Timur. Pasalnya, sejak melewati Ampelgading, Kabupaten Malang, menuju ke Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, para pengendara akan langsung berhadapan dengan jalan berkelok-kelok.

Rute dengan tebing di sisi kanan dan jurang di sebelah kiri jalur perbatasan itu masih akan ditemui sebelum menginjak arah Pronojiwo–Candipuro yang masuk wilayah Lumajang.

Banyak ruas di antaranya tidak dilengkapi penerangan sehingga bepergian pada malam hari menjadi tantangan tersendiri.

Bagi pengendara yang terpaksa melalui rute Pronojiwo–Candipuro saat malam, alangkah baiknya berhenti sejenak di Jembatan Besuk Kobo’an. Pasalnya, di jembatan yang dulu bernama Gladak Perak itu terdapat warung kaki lima yang siap menggugah kembali antusiasme perjalanan.

Warung milik Agus Munali menjadi satu-satunya terang yang menyala seperti kunang-kunang di kegelapan malam saat Jawa Pos mampir pada Sabtu (9/3). Warga Pasirian itu sengaja buka hingga larut malam untuk menjamu pengendara yang hendak beristirahat. ’’Kami biasa buka sampai jam 11 malam,’’ tuturnya.

TEMPAT TETIRAH VARIATIF: Jalur lintas selatan Jawa Timur menawarkan variasi rest area, mulai dari wilayah pantai dan danau sampai sekitar jembatan.

Warung milik Agus berupa bangunan dengan alas berupa bilah papan kayu dan dinding terbuka di tiga sisi selain area dapur. Pengunjung bisa menikmati pemandangan sungai Besuk Kobo’an dari warung yang berada di sisi barat Jalan Nasional III.

Warung yang menyediakan kudapan dan minuman ringan itu bisa menjadi alternatif pilihan untuk mengaso seraya mendinginkan mesin kendaraan. Pasalnya, deretan warung di sekitar Jembatan Besuk menjadi sentra keramaian terakhir sebelum memasuki Kecamatan Candipuro. ’’Dari Candipuro jaraknya masih 7 km lagi,’’ sambung bapak tiga anak itu.

Sementara ke arah barat, pusat keramaian terdekat ada di Pronojiwo yang berjarak 20 km. Zaenal Fuadi, warga Malang, termasuk yang beristirahat di warung tersebut setelah melakukan perjalanan wisata dari Banyuwangi.

Dia memilih menepi di warung milik Rudi untuk meregangkan otot-otot tangannya setelah memacu New Honda CR-V selama 3 jam. Selain pilihan kenyamanan dalam berkendara, New Honda CR-V miliknya terhitung irit konsumsi BBM. ’’Ini dari Banyuwangi tadi baru kalong setengah. Jadi enak, bisa ngirit buat jarak jauh,’’ ucapnya.

Suguhan wedang jahe dan tahu goreng menjadi kudapan yang dipilih untuk mengembalikan tenaga. Siti, istri Agus, menyebut tahu yang ditemani sambal petis merupakan sajian khas warung miliknya. ’’Tahu ini teksturnya lebih gurih dan tanpa pengawet buatan,’’ tuturnya.

Selain kudapan, tersedia pula toilet. Sayang, tidak ada penerangan yang menyala saat malam. Sehingga pengunjung harus membawa senter ketika hendak membuang hajat.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore