Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 10 Maret 2024 | 18.47 WIB

Hukum Lupa Baca Niat Puasa dan Sahur dibulan Ramadhan, Apakah tetap Sah?

5 Alasan Penting Mengapa Anda Dianjurkan Puasa di Bulan Syaban./Freepik - Image

5 Alasan Penting Mengapa Anda Dianjurkan Puasa di Bulan Syaban./Freepik

JawaPos.com - Rukun ibadah puasa Ramadhan ada dua yaitu niat puasa dan menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkan puasa.

Kewajiban setiap muslim yang telah mencukupi syarat dan rukun. Sahnya puasa Ramadhan tidak terlepas dari adanya niat malam hari dari tenggelamnya matahari sampai sebelum terbitnya fajar, sebagai rukun pertama.

Dikutip dari nu.or.id memaparkan bahwa keterangan ini sebagaimana hadis Nabi saw: “Barang siapa yang tidak berniat puasa di malam hari sebelum terbitnya fajar, maka tidak ada puasa baginya.”(HR. Abu Daud, at Tirmidzi, an Nasa'i, Ibnu Majah dan Ahmad).

Sebagaimana ibadah-ibadah lain, niat menjadi rukun yang mesti dilakukan dalam puasa Ramadhan. Niat adalah itikad tanpa ragu untuk melaksanakan sebuah perbuatan.

Kata kuncinya adalah adanya maksud secara sengaja bahwa setelah terbit fajar akan menunaikan puasa.

Imam Syafi'i sendiri berpendapat bahwa makan sahur tidak dengan sendirinya dapat menggantikan kedudukan niat, kecuali apabila terbersit (khathara) dalam hatinya maksud untuk berpuasa. (al-Fiqh al-Islami, III, 1670-1678).

Meski niat adalah urusan hati, melafalkannya (talaffudz) akan membantu seseorang untuk menegaskan niat tersebut.

Talaffudz berguna dalam memantapkan itikad karena niat terekspresi dalam wujud yang konkret, yaitu bacaan atau lafal. Dikutip dari nu.or.id memaparkan bahwa Al Alim al Allamah Asy Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari, murid imam ahli fiqh, Ibnu Hajar al Haitami dalam kitab Fathul Mu’in telah membahas permasalahan ini.

Mengatakan: “Makan sahur tidak cukup sebagai pengganti niat, meskipun ia makan sahur bermaksud agar kuat melaksanakan puasa. Dan mencegah dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa karena khawatir akan terbitnya fajar juga tidak mencukupi sebagai pengganti niat selama tidak terbesit (di dalam hatinya) niat puasa dengan sifat-sifat yang wajib disinggung di dalam niat.” (Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari, kitab Fathul Mu’in)

Sehingga puasa yang dilakukan oleh orang yang lupa niat puasa di malam harinya dianggap tidak sah, dan harus mengqadha puasa tersebut di luar bulan Ramadhan.

Meskipun puasanya tidak sah, bukan berarti boleh makan dan minum sepuasnya atau melakukan hal-hal yang membatalkan puasa selama satu hari itu. Orang tersebut tetap disyariatkan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa selama satu hari itu. Yang demikian itu untuk menghormati waktu yang banyak orang melaksanakan puasa di dalamnya, yakni bulan Ramadhan.

Meskipun puasanya tidak dianggap tetapi tetap mendapatkan pahala dengan menahan diri tidak makan dan melakukan perkara yang membatalkan puasa.

Meski demikian, ulama mazhab Syafi'i tetap memberi solusi bagi siapa saja yang lupa belum berniat puasa Ramadhan pada malam harinya.

Quraish Shihab mengutip pendapat Abu Hanifah, jika seseorang berniat puasa Ramadhan sesudah terbitnya fajar, maka puasanya tetap sah.

Di sisi lain, mazhab Maliki tidak mensyaratkan niat harus dilakukan setiap malam. Niat berpuasa sebulan penuh di awal ramadhan sudah cukup. Berbeda lagi dengan pendapat Ali Mustafa Yaqub.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore