
Salah satu gapura yang mengarah menuju area makam. Rafika Yahya/JawaPos.com
JawaPos.com–Kawasan wisata religi Sunan Ampel tidak hanya dikenal sebagai tempat beribadah, namun juga sebagai tempat dengan berbagai peninggalan sejarah. Salah satu yang belum banyak diketahui orang adalah keberadaan lima gapura yang tersebar di kawasan Aampel.
Lima gapura itu adalah Gapuro Paneksen, Gapuro Mangadep, Gapuro Poso, Gapuro Ngamal, dan Gapuro Munggah. Khatib Ismail, kepala RW 02 Kelurahan Ampel, Kecamatan Semampir menjelaskan, lima gapura tersebut merupakan simbol dari Rukun Islam. Lima Rukun Islam adalah mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan salat, memberikan zakat, puasa Ramadan, dan naik haji bila mampu.
”Gapuro Ngamal merupakan simbol dari memberikan amal zakat. Gapura Munggah simbol untuk naik haji. Gapuro Poso simbol menjalankan puasa Ramadan. Gapura Mangadep atau yang bisa diartikan sebagai menghadap, sebagai unsur dari mendirikan salat. Dan Gapuro Paneksen atau penyaksian, merupakan simbol dari membaca 2 kalimat sahadat,” tutur Khatib pada Sabtu (17/4).
Menurut Khatib, empat gapura berada di sekitar halaman Masjid Agung Sunan Ampel. Gapura Poso di pintu masuk gang tempat pedagang berjualan. Sementara Gapuro Mangadep di arah jalan masuk menuju kawasan makam.
”Gapura paneksen berada di pintu masuk makam sekaligus pintu yang memisahkan jamaah perempuan dan laki-laki. Sedangkan Gapura Ngamal berada di pintu masuk makam untuk peziarah laki-laki. Hanya ada satu gapura yang berada di luar, yakni Gapuro Munggah,” terang Khatib.
Lokasi Gapuro Munggah berada di ujung selatan Kampung Ampel Suci yang bermuara di Jalan Sasak Surabaya. Gapuro Munggah yang lebih populer dengan sebutan Lawang Agung itu ditandai dengan adanya anak tangga di akses pintu masuk utama menuju Masjid Ampel melalui kampung Ampel Suci,
”Uniknya, di gapura tersebut, terdapat tulisan Jawa yang tidak banyak diketahui orang. Dengan tulisan Jawa kuno, tulisan tersebut berbunyi Adhanawalewa Wawadha Arangu Asasawapa yang berarti Barangsiapa masuk gapura tanpa ragu semoga dapat barokah,” tutur Khatib.
Dari hasil penelitian, tulisan Jawa tersebut mempunyai makna yang mengindikasikan angka tahun Jawa 1461 Saka atau 1539 Masehi. Sehingga, diduga gapura tersebut dibangun pada era setelah Kanjeng Raden Rahmat atau Sunan Ampel telah wafat.
”Namun, belum ada pembahasan lebih lanjut untuk menguak misteri tentang kapan dan oleh siapa yang melakukan pembangunan gapura itu,” ujar Khatib.
Dengan gapura tersebut, bisa dikatakan kawasan Ampel telah ada sejak lama. Penelitian itu juga dilakukan Mohammad Imzak, lurah yang juga menemukan tulisan itu, kemudian peneliti dari Museum Negeri Mpu Tantular, Edi Irianto, Sri Edi Tjahjo, dan Endang Purwaningsih.
”Namun, ada keterbatasan karena kayu mulai lapuk. Namun, sejauh ini reka duga dari penelitiannya, pihak peneliti sudah menemukan angka 1678. Untuk mengetahui arti angka itu, pihak peneliti membutuhkan waktu dan biaya yang cukup besar,” kata Khatib.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://youtu.be/ATV6Z0c6Sgc

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
