Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 20 Juni 2017 | 04.51 WIB

Sambut Lailatul Qadar dengan Pelita Lelikuran dan Keriang Bandong

Obor dibentuk lafaz Allah menandai festival Pelita Lelikuran dan Keriang Bandong di Sukadana, Kayong Utara, Kalbar. - Image

Obor dibentuk lafaz Allah menandai festival Pelita Lelikuran dan Keriang Bandong di Sukadana, Kayong Utara, Kalbar.

JawaPos.com - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kayong Utara, Kalbar, berusaha menggairahkan kembali tradisi masyarakat Melayu menyambut malam di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Dalam ajaran Islam, pada salah satu malam yang penanggalan hijriyahnya bernomor ganjil akan turun Lailatul Qadar. Satu malam itu lebih baik dari seribu bulan.


Dalam kepercayaan muslim, doa saat Lailatul Qadar hadir di dunia akan langsung dikabulkan Allah. Menurut sejarawan muslim, orang yang pernah dapat malam Lailatul Qodar adalah Nabi Samsum atau Sam’un. Yang lain menyebutnya Simson.


Umat Islam mempercayai 25 Rasul dan sekitar 124.000 ribu Nabi. Perbedaannya, Rasul dapat wahyu dari Allah untuk disebarkan umatnya. Sedangkan Nabi dapat wahyu dari Allah untuk diri sendiri.


Samsum orang saleh dari Bani Israel yang mengajak kebaikan dan hidup. Ia meninggal di kota Gaza, Palestina sekarang. Nabi Samsun orang yang mampu melompat tinggi, berlari sangat cepat, dan bertenaga setara seratus tentara terbaik. Sehingga besi sangat mudah dibengkokkan, batu besar mampu diangkat dengan mudah.


Nabi Samsun melawan penguasa yang menyembah berhala. Akhirnya penguasa mengutus banyak orang untuk menangkapnya namun tidak mampu melawannya. Diikat pakai tali yang besar, mudah diputuskannya. Diikat dengan rantai besi besar sekujur tubuhnya, tetap putus juga.


Akhirnya, penguasa berupaya menyogoknya dengan jabatan tinggi, emas berlimpah, dan kemuliaan dunia lainnya. Namun, Nabi Samsun menolak dan lantang menyerukan Allah itu maha satu alias tidak banyak dan hanya Allah yang patut disembah.


Sang penguasa memilih lewat jalan belakang. Menyogok istri Nabi Samsun. Berhasil. Suatu hari, istri Nabi Samsun bertanya ke suaminya, “apakah yang mampu mengikat badanmu”. Sang Nabi menjawab, bila rambutnya dicukur habis, hilanglah kekuatannya. Rambutnya juga dapat mengikatnya hingga tak berdaya.


Kelemahan ini disampaikan ke penguasa dan istrinya menggunduli Nabi Samsum. Rambut itu digunakan untuk mengikat suaminya. Ketika bangun pagi, Nabi Samsun sudah tidak berdaya dan dibawa pasukan penguasa untuk dipenjara di bawah tanah istana sang raja penyembah berhala.


Ia disiksa hingga lumpuh, matanya dibutakan, indera tubuhnya dirusak. Bertahun-tahun Nabi Samsun mengalami siksaan amat pedih, namun ia tetap tidak mau menyekutukan Allah.


Mengetahui kemungkaran dari sang penguasa akan merajalela, pada malam ganjil di sekitar sepuluh malam terakhir Ramadan, Nabi Samsun berdoa kepada Allah dengan sepenuh hati. Minta tubuhnya yang lumpuh dan buta diberi kesembuhan. Allah mengabulkan doa itu, kekuatan Nabi Samsun kembali. Penjara bawah tanah dan istana sang penguasa ia obrak-abrik.


Setelah bebas, Nabi Samsun masih hidup sekitar seribu bulan atau 83 tahun berikutnya. Berjuang sendiri memerangi penguasa zalim dan menyebarkan kebaikan di jalan Allah.


Nabi Samsun sampai saat ini dihargai umat Islam, Kristen, dan Yahudi. Masing-masing agama menceritakan kisahnya dengan versi masing-masing. Versi Islam melalui hadis yang disampaikan Nabi Muhammad SAW.


Kala itu, Rasulullah Muhammad pernah tersenyum sendiri. Sahabat-sahabatnya pun bertanya kenapa ia tersenyum sendiri. “Setiap Nabi dan Rasul masuk ke surga bersama-sama umatnya namun hanya satu Nabi yang masuk surga sendirian dengan gagahnya, yaitu Samsum,” tutur Rasulullah.


Ia menerangkan, bukti seorang muslim mendapat malam Lailatul Qodar selain doanya langsung dikabulkan Allah, setelah Ramadan orang tersebut akan lebih baik dan lebih bertakwa dalam berjihad di jalan Allah.


Nah, begitu sakralnya malam Lailatul Qodar di sepuluh malam hari terakhir ini, warga Melayu di selatan Kalbar menyambutnya dengan tradisi iktikaf (berdiam di masjid untuk berzikir dan membaca Alquran) dan bersedekah. Juga keliling kampung membawa pelita yang disebut Pelite Likuran, serta menerangi kampung dengan Keriang Bandong.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore