
Doom scrolling. (Pixabay)
JawaPos.com – Di tengah arus informasi tanpa henti, banyak dari kita sering membuka ponsel untuk “sekadar” membaca berita. Namun, alih-alih berhenti setelah beberapa menit, tangan terasa sulit melepaskan layar, terus menggulir kabar buruk tentang bencana, krisis, atau konflik dunia. Inilah yang dikenal sebagai doom scrolling, kebiasaan menggulir berita negatif secara berlebihan hingga menimbulkan dampak buruk bagi psikologis.
Penelitian dari University of Florida menegaskan bahwa doom scrolling bukan sekadar tren bahasa, melainkan perilaku unik yang berbeda dari sekadar mencari berita. Awalnya, orang doom scrolling untuk tetap up-to-date, namun lambat laun berubah menjadi obsesi, mencari kabar buruk meski sudah sadar bahwa hal itu membuat perasaan semakin tertekan.
Yang menarik, penelitian ini juga menunjukkan bahwa doom scrolling lebih sering terjadi pada usia muda dan cenderung lebih banyak pada laki-laki. Meski begitu, dampaknya tidak mengenal batas usia. Siapa pun bisa terjebak dalam lingkaran ini.
Pertanyaannya, apakah doom scrolling menyebabkan kecemasan, ataukah kecemasan yang memicu doom scrolling? Para peneliti menyebutkan bahwa keduanya saling mempengaruhi sehingga menciptakan siklus yang sulit diputus.
Sementara itu, studi lain yang dipublikasikan di PMC mengembangkan doom scrolling scale, sebuah instrumen untuk mengukur sejauh mana seseorang terjebak dalam perilaku ini.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa doom scrolling memiliki hubungan erat dengan sifat kepribadian tertentu, seperti neurotisisme (mudah cemas), kebutuhan tinggi akan informasi, dan rasa takut ketinggalan (FOMO). Orang dengan skor doom scrolling tinggi juga melaporkan kondisi kesehatan mental yang lebih buruk, mulai dari stres hingga gejala depresi.
Lebih jauh lagi, ScienceDirect menambahkan dimensi lain, yakni doom scrolling dapat memicu existential anxiety, yaitu kecemasan mendalam terkait makna hidup, rasa kehilangan kendali, hingga ketakutan akan masa depan.
Artinya, doom scrolling bukan hanya sekadar kebiasaan buruk, tapi bisa mengguncang aspek fundamental psikologis manusia. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menurunkan kualitas hidup, memengaruhi kepercayaan terhadap dunia luar, dan bahkan menciptakan rasa putus asa kolektif.
Fenomena ini menunjukkan bahwa doom scrolling lebih kompleks dari yang terlihat. Ia bukan hanya tentang konsumsi berita, melainkan cerminan interaksi antara sifat pribadi, kecemasan sosial, dan cara media digital mendistribusikan informasi. Apalagi, algoritma media sosial sering menonjolkan konten sensasional dan negatif, yang semakin memperpanjang kebiasaan doom scrolling.
Dampaknya jelas, yakni tidur terganggu, produktivitas menurun, hingga munculnya perasaan putus asa. Bahkan dalam beberapa kasus, doom scrolling mengikis kemampuan untuk menikmati momen positif, karena pikiran terus dibanjiri kabar buruk.
Namun, tak sedikit pula orang yang mulai sadar bahwa doom scrolling tidak sehat dan berusaha mengurangi kebiasaan ini. Para ahli menyarankan strategi sederhana seperti membatasi waktu konsumsi berita, mengurangi notifikasi, mencari konten positif sebagai penyeimbang, dan melatih kesadaran diri. Cara-cara kecil ini terbukti efektif untuk memutus siklus negatif doom scrolling dan mengembalikan keseimbangan psikologis.
Pada akhirnya, doom scrolling adalah refleksi dari era digital yang penuh ketidakpastian. Ia menunjukkan betapa mudahnya manusia terjebak dalam arus informasi negatif, dan betapa pentingnya membangun kesadaran untuk memilah berita yang benar-benar bermanfaat.
Doom scrolling bisa terlihat remeh, namun dampaknya pada kesehatan mental sangat nyata. Jadi, sebelum jari kembali menggulir tanpa henti, tanyakan pada diri sendiri, apakah informasi ini membuat kita lebih tenang, atau justru lebih cemas? Karena di balik layar ponsel, kesehatan mental kita tetaplah hal yang paling berharga. (*)
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Prediksi Malaysia vs Filipina: Menang atau Harus Berharap Thailand di Piala AFF 2026
Prediksi Thailand vs Myanmar di Piala AFF 2026: Gajah Perang Berpeluang Lolos sebagai Juara Grup
Prediksi Skor Singapura vs Timnas Indonesia di Piala AFF 2026: Misi John Herdman Demi Semifinal!
Daftar Skuad Chelsea dan AC Milan di Indonesia: Luka Modric, Rafael Leao, hingga Cole Palmer
Jafar dan Adnan Diduga Terlibat Match Fixing, PBSI Langsung Ubah Komposisi Ganda Campuran
Jadwal Siaran Langsung dan Link Live Streaming Chelsea vs AC Milan, Tayang di Mana?
Kejagung Periksa Febrie Adriansyah: Kenakan Rompi Pink dan Tangan Terborgol
Presiden Persebaya Surabaya Angkat Bicara Usai Juara, Azrul Ananda: Menuju Bintang Melalui Kesulitan
Profil Kiper Persebaya Reza Arya Pratama, Tepis 2 Penalti Persib di Final Piala Presiden 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
