Ilustrasi: Anak-anak bermain game Roblox. (Slate).
JawaPos.com - Psikolog Dody Tri merespons positif pelarangan game Roblox untuk anak-anak Sekolah Dasar (SD) dengan alasan game tersebut mengandung muatan kekerasan. Dia mendukung langkah Kemendikdasmen sebab dia yakin pelarangan ini didasari oleh niatan baik.
"Ini untuk melindungi mereka (anak-anak) dari hal-hal yang bisa memengaruhi perkembangan emosi dan perilaku. Penelitian memang menunjukkan, paparan kekerasan dalam video game dapat meningkatkan kecenderungan agresif dan menurunkan empati pada anak," kata Psikolog Dody Tri kepada JawaPos.com.
Dia melanjutkan, melindungi anak bukan hanya dengan menutup pintu pada game berbahaya mengandung kekerasan atau seksualitas. Tapi juga harus dibarengi dengan membuka 'jendela-jendela' supaya mereka dapat tumbuh lebih baik dan optimal.
"Dalam pandangan humanis, setiap anak adalah pribadi yang unik, sedang bertumbuh dan belajar mengenali dunia. Permainan, baik di taman bermain, ruang kelas, maupun dunia digital adalah bagian dari perjalanan itu. Jika yang mereka temui terlalu sering adalah kekerasan, wajar jika pandangan mereka tentang hubungan manusia menjadi kabur," tuturnya.
Dia juga mengatakan, pelarangan anak mengakses game Roblox tidak cukup. Lebih dari itu, orang tua atau guru harus dapat memberikan pendampingan, membimbing, serta memberi mereka alternatif permainan yang sehat.
"Dari sisi positive psychology, fokus kita bukan hanya menjauhkan anak dari risiko, tapi juga menguatkan potensi dan karakter positif mereka. Membangun kekuatan karakter seperti kreativitas, empati, dan kerja sama akan membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang tangguh," ungkapnya.
"Di sinilah konsep behavior substitution atau penggantian perilaku menjadi kunci. Alihkan mereka ke permainan yang mengajak berimajinasi, memecahkan masalah, dan bekerja sama. Permainan yang tepat justru dapat mengasah keterampilan kognitif dan sosial anak," imbuh Dody Tri.
Bagi Dody Tri, orang tua, guru, dan pemerintah seharusnya punya peran sentral dengan porsinya masing-masing untuk tujuan memberikan perlindungan sekaligus membangun ekosistem dunia yang ramah anak.
"Orang tua terlibat aktif dalam memilih dan membicarakan isi permainan, guru memanfaatkan game-based learning yang mendidik, dan pemerintah menggandeng industri kreatif untuk menyediakan konten child-friendly," tuturnya.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
