Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 6 Agustus 2025 | 19.34 WIB

Game Roblox Dilarang, Psikolog Dody Tri: Alihkan Mereka ke Permainan yang Memecahkan Masalah

Ilustrasi: Anak-anak bermain game Roblox. (Slate).

JawaPos.com - Psikolog Dody Tri merespons positif pelarangan game Roblox untuk anak-anak Sekolah Dasar (SD) dengan alasan game tersebut mengandung muatan kekerasan. Dia mendukung langkah Kemendikdasmen sebab dia yakin pelarangan ini didasari oleh niatan baik.

"Ini untuk melindungi mereka (anak-anak) dari hal-hal yang bisa memengaruhi perkembangan emosi dan perilaku. Penelitian memang menunjukkan, paparan kekerasan dalam video game dapat meningkatkan kecenderungan agresif dan menurunkan empati pada anak," kata Psikolog Dody Tri kepada JawaPos.com.

Dia melanjutkan, melindungi anak bukan hanya dengan menutup pintu pada game berbahaya mengandung kekerasan atau seksualitas. Tapi juga harus dibarengi dengan membuka 'jendela-jendela' supaya mereka dapat tumbuh lebih baik dan optimal.

"Dalam pandangan humanis, setiap anak adalah pribadi yang unik, sedang bertumbuh dan belajar mengenali dunia. Permainan, baik di taman bermain, ruang kelas, maupun dunia digital adalah bagian dari perjalanan itu. Jika yang mereka temui terlalu sering adalah kekerasan, wajar jika pandangan mereka tentang hubungan manusia menjadi kabur," tuturnya.

Dia juga mengatakan, pelarangan anak mengakses game Roblox tidak cukup. Lebih dari itu, orang tua atau guru harus dapat memberikan pendampingan, membimbing, serta memberi mereka alternatif permainan yang sehat. 

"Dari sisi positive psychology, fokus kita bukan hanya menjauhkan anak dari risiko, tapi juga menguatkan potensi dan karakter positif mereka. Membangun kekuatan karakter seperti kreativitas, empati, dan kerja sama akan membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang tangguh," ungkapnya.

"Di sinilah konsep behavior substitution atau penggantian perilaku menjadi kunci. Alihkan mereka ke permainan yang mengajak berimajinasi, memecahkan masalah, dan bekerja sama. Permainan yang tepat justru dapat mengasah keterampilan kognitif dan sosial anak," imbuh Dody Tri.

Bagi Dody Tri, orang tua, guru, dan pemerintah seharusnya punya peran sentral dengan porsinya masing-masing untuk tujuan memberikan perlindungan sekaligus membangun ekosistem dunia yang ramah anak.

"Orang tua terlibat aktif dalam memilih dan membicarakan isi permainan, guru memanfaatkan game-based learning yang mendidik, dan pemerintah menggandeng industri kreatif untuk menyediakan konten child-friendly," tuturnya.

Editor: Kuswandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore