Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 30 Mei 2025 | 06.06 WIB

Stres Ternyata Bisa Jadi Pemicu Risiko Demensia di Masa Depan

Ilustrasi sepasang lansia berjalan santai di taman yang asri, menggambarkan pentingnya lingkungan yang mendukung aktivitas fisik dan sosial untuk kesehatan otak di usia lanjut. (Dok. Canva) - Image

Ilustrasi sepasang lansia berjalan santai di taman yang asri, menggambarkan pentingnya lingkungan yang mendukung aktivitas fisik dan sosial untuk kesehatan otak di usia lanjut. (Dok. Canva)

JawaPos.com - Kemungkinan seseorang mengidap demensia sepanjang hidupnya ternyata lebih besar dari yang selama ini diperkirakan.

Menurut laporan dari sebuah studi pada 2025 yang melacak sejumlah besar orang dewasa Amerika selama lebih dari tiga dekade, rata-rata peluang seseorang mengembangkan demensia antara usia 55 hingga 95 tahun mencapai 42 persen. Angka ini bahkan lebih tinggi pada wanita, orang dewasa kulit hitam, serta mereka yang memiliki faktor risiko genetik.

Seiring dengan meningkatnya perhatian terhadap upaya mencegah penurunan fungsi kognitif pada populasi lanjut usia, sering kali aspek stres kronis terabaikan dalam diskusi tersebut. Padahal, stres kronis dapat memengaruhi kesehatan otak dan memperbesar risiko demensia, termasuk bagaimana seseorang mengalami proses penuaan kognitif.

Dikutip dari ScienceAlert, dua profesor dari Penn State Center for Healthy Aging, Jennifer E. Graham-Engeland dan Martin J. Sliwinski, menjelaskan bahwa stres kronis menjadi faktor tersembunyi yang sangat memengaruhi penurunan kemampuan kognitif seiring bertambahnya usia.

Mereka mengungkapkan bahwa generasi saat ini yang berusia paruh baya dan lebih tua mengalami peristiwa stres lebih sering dibandingkan generasi sebelumnya. Salah satu penyebab utamanya adalah ketidakpastian ekonomi dan pekerjaan yang meningkat pasca krisis ekonomi 2007-2009, serta perubahan pasar tenaga kerja.

Faktor sosial, seperti isolasi, juga memperparah kondisi ini. Tinggal sendiri dapat menjadi sumber stres bagi lansia dan menghambat mereka menjalani gaya hidup sehat serta mendeteksi tanda awal penurunan kognitif. Lebih jauh, stres yang berlebihan juga berdampak negatif pada kualitas tidur dan motivasi untuk berolahraga serta menjaga pola makan sehat — yang semuanya penting bagi kesehatan otak.

Padahal, dalam berbagai upaya pencegahan demensia, peran stres kronis jarang disentuh secara serius. Padahal stres berinteraksi erat dengan banyak faktor risiko demensia seperti aktivitas fisik, pola makan, dan keterlibatan sosial.

Faktor lingkungan, seperti pendapatan rendah, pendidikan terbatas, dan tempat tinggal di wilayah kurang beruntung, juga menambah beban stres sekaligus mengurangi akses pada layanan kesehatan, makanan bergizi, serta ruang untuk beraktivitas sosial dan olahraga.

Kabar baiknya, ada sejumlah langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk mengelola stres dan sekaligus menurunkan risiko demensia. Mulai dari menerapkan pola makan sehat, rutin berolahraga, cukup tidur, hingga menjaga kesehatan mental dengan berbicara dan meminta dukungan orang terdekat. Bahkan interaksi sosial yang sederhana, seperti mengirim pesan atau menelepon singkat, dapat memberi dampak positif signifikan.

Lebih dari itu, upaya pencegahan juga bisa dilakukan pada tingkat komunitas dan tempat kerja, misalnya dengan menciptakan lingkungan yang aman, ramah pejalan kaki, serta menyediakan kelas dan kegiatan belajar seumur hidup untuk menjaga keterlibatan sosial dan mengurangi stres.

Menurut penelitian terbaru, mengelola stres dan masalah terkait seperti kesepian tak hanya menurunkan risiko demensia, tetapi juga penyakit otak lain seperti stroke dan depresi di usia tua. Para ahli juga menegaskan, walaupun belum ada obat untuk Alzheimer, penundaan kemunculan penyakit ini dengan mengelola stres bisa menghemat biaya kesehatan dan meningkatkan kualitas hidup jutaan orang.

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat, tenaga kesehatan, dan pembuat kebijakan untuk lebih memperhatikan peran stres dalam penuaan kognitif. Memasukkan manajemen stres ke dalam program pencegahan demensia dapat membuka peluang besar bagi kesehatan otak yang lebih baik di masa depan.

(*)

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore