Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 29 Mei 2025 | 02.52 WIB

Disfungsi Ereksi: Masalah Kesehatan yang Perlu Dipahami Bersama Pasangan

Ilustrasi disfungsi ereksi dalam hububgan rumah tangga/(Freepik) - Image

Ilustrasi disfungsi ereksi dalam hububgan rumah tangga/(Freepik)

JawaPos.com - Topik disfungsi ereksi sering dianggap tabu dan hanya menjadi pembahasan khusus bagi laki-laki. Padahal, pemahaman akan kondisi ini penting bagi pasangan, karena bukan sekadar masalah performa seksual, melainkan juga indikator kesehatan yang perlu diperhatikan bersama.

Dokter Spesialis Urologi Mayapada Hospital Surabaya, dr. Aditya Pramanta, Sp.U, menjelaskan bahwa ereksi merupakan respons alami tubuh pria ketika aliran darah meningkat ke penis akibat rangsangan seksual atau kontak fisik. Namun, gangguan pada proses ini dapat menyebabkan disfungsi ereksi, yang ditandai dengan kesulitan mempertahankan ereksi, berkurangnya hasrat seksual, hingga ketidakpuasan saat berhubungan intim.

Disfungsi ereksi bisa disebabkan oleh faktor organik karena penyakit seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, kolesterol tinggi, diabetes, dan obesitas. Bisa juga karena faktor psikogenik karena masalah psikologis, atau perpaduan kedua faktor,” jelas dr. Aditya.

Faktor risiko lain meliputi usia di atas 50 tahun, gaya hidup tidak sehat seperti merokok dan konsumsi alkohol, penggunaan obat-obatan tertentu, serta kurangnya aktivitas fisik. Dokter Akbari Wahyudi Kusumah, Sp.U, Dokter Spesialis Urologi di Mayapada Hospital Jakarta Selatan, menambahkan bahwa gangguan ereksi bisa menjadi pertanda masalah kesehatan serius.

“Pria yang mengalami gangguan ereksi memiliki risiko terkena serangan jantung dalam 3 hingga 5 tahun ke depan. Karena itu, jika mengalami gangguan ereksi, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter spesialis urologi atau andrologi, bukan mencari pengobatan alternatif. Penting diingat, bahwa ereksi bukan hanya penting untuk kesehatan seksual, tetapi juga mencerminkan kondisi fisik dan psikologis pria secara keseluruhan," terangnya.

Untuk menilai tingkat keparahan disfungsi ereksi, dokter menggunakan metode Erection Hardness Score (EHS), yang membagi kekerasan ereksi menjadi empat tingkatan. Mulai dari derajat pertama (seperti tahu, penis membesar tapi tidak keras) hingga derajat keempat (seperti timun, penis keras sepenuhnya dan optimal untuk aktivitas seksual).

Salah satu solusi medis yang tersedia adalah Extracorporeal Shock Wave Therapy (ESWT). Dokter Akbari menjelaskan, ESWT dilakukan dengan menggunakan gelombang kejut yang ditempel ke sekitar jaringan penis untuk meningkatkan aliran darah ke penis, merangsang pertumbuhan pembuluh darah baru, dan memperbaiki fungsi ereksi.

"Terapi ini bersifat non-invasif, tidak memerlukan pembedahan atau bius, serta minim risiko komplikasi. Meski demikian, pemeriksaan menyeluruh tetap diperlukan untuk menentukan penanganan yang tepat sesuai kondisi pasien," ujarnya.

Untuk konsultasi lebih lanjut, Tahir Uro Nephrology Center Mayapada Hospital menyediakan layanan komprehensif dalam menangani gangguan saluran kemih dan reproduksi. Pasien dapat menjadwalkan pemeriksaan melalui aplikasi MyCare, yang dilengkapi fitur pemantauan kesehatan seperti Healthy Lifestyle (terkoneksi dengan Google Fit dan Health Access) serta artikel kesehatan dalam Health Articles & Tips.

Pengguna baru yang mendaftar melalui MyCare akan mendapatkan poin reward yang dapat ditukarkan dengan potongan harga layanan di Mayapada Hospital. Aplikasi ini tersedia untuk diunduh di Google Play Store dan App Store.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore