Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 20 Januari 2025 | 19.44 WIB

Sulit Mengungkapkan Perasaan? Waspada, Mungkin Itu Gejala Alexithymia yang Tak Boleh Diabaikan

Ilustrasi penderita Alexithymia. (Freepik) - Image

Ilustrasi penderita Alexithymia. (Freepik)

JawaPos.com – Banyak orang merasa kesulitan dalam mengungkapkan perasaan, baik itu rasa cemas, marah, atau bahkan kebahagiaan.

Terkadang, perasaan yang tidak terungkap ini bisa menjadi beban berat. Namun, tahukah kamu bahwa kesulitan tersebut bisa jadi gejala dari kondisi yang dikenal dengan nama alexithymia.

Kondisi ini memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengenali dan mengungkapkan emosi mereka, yang dapat berdampak pada kualitas hidup.

Dilansir dari laman Psypost.org pada Senin (20/1), alexithymia dapat mempersulit kehidupan seseorang.

Pasalnya, orang dengan kondisi ini mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi, membedakan, bahkan mengungkapkan perasaan mereka dengan cara yang jelas.

Hal ini seringkali membuat mereka tampak tidak peka terhadap emosi diri sendiri maupun orang lain, sehingga interaksi sosial menjadi penuh tantangan.

Menyadari adanya kondisi ini sangat penting, karena tanpa pemahaman yang tepat, bisa jadi seseorang mengalami frustrasi akibat ketidakmampuannya untuk mengungkapkan perasaan.

Oleh karena itu, penting untuk mengenali gejala dan memahami lebih dalam mengenai alexithymia agar dapat mencari jalan keluar yang tepat.

Alexithymia menjadi istilah yang mungkin belum familiar bagi sebagian besar orang. Menurut artikel Psypost.org, kondisi ini pertama kali dijelaskan dalam penelitian pada tahun 1970-an, meskipun begitu hingga saat ini belum ada diagnosis klinis yang resmi untuknya namun diperkirakan sekitar 10% dari populasi umum mengalami alexithymia. Secara etimologi, kata alexithymia berasal dari bahasa Yunani, yaitu "a" yang berarti tidak, "lexis" yang berarti kata, dan "thymia" yang berarti jiwa atau emosi.

Secara kasar, istilah ini dapat diterjemahkan sebagai "tidak ada kata-kata untuk emosi", yang menggambarkan kesulitan penderitanya dalam mengenali dan mengekspresikan perasaan mereka. Hal ini menjadikan mereka sulit untuk mengelola dan memahami emosi mereka, karena mereka tidak bisa mengaitkan perasaan dengan kondisi fisik yang mereka alami. Dalam beberapa kasus, kondisi ini juga disebut sebagai alexisomia, yang mengacu pada ketidakmampuan seseorang untuk memahami sinyal tubuh mereka dengan baik.

Seperti yang dijelaskan oleh artikel Hello Sehat, ada beberapa ciri-ciri utama dari alexithymia yang bisa kamu kenali, salah satunya adalah ketidakmampuan untuk mengungkapkan emosi. Orang dengan alexithymia biasanya kesulitan untuk mengetahui apakah mereka lapar, haus, lelah, atau bahkan merasa sakit. Penderita alexithymia juga cenderung kesulitan mengenali perasaan yang mereka alami.

Mereka seringkali tidak mampu membedakan antara emosi yang sesungguhnya dan respons tubuh terhadap emosi tersebut. Selain itu, mereka juga kesulitan untuk membaca ekspresi wajah atau nada bicara orang lain, yang membuat hubungan sosial menjadi lebih sulit. Tidak hanya itu, orang dengan alexithymia kerap menunjukkan perilaku yang terkesan kaku dan tidak sensitif terhadap perasaan orang lain.

Penderita Alexithymia juga lebih jarang berimajinasi atau berfantasi, serta sering merasa tidak puas dengan hidupnya. Ini bisa berdampak pada kehidupan pribadi dan profesional mereka, terutama dalam menjalin hubungan yang sehat dan produktif. Menurut Hello Sehat, Alexithymia merupakan kondisi yang muncul dalam bentuk spektrum, artinya tingkat keparahan dan dampaknya bisa berbeda-beda antara satu orang dengan yang lainnya.

Seseorang yang mengalami alexithymia mungkin masih bisa mengenali emosinya, meskipun secara terbatas. Namun, ada pula orang yang benar-benar tidak bisa mengenali dan mengungkapkan perasaan mereka sama sekali. Dalam beberapa kasus, penderita alexithymia bahkan tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalaminya, yang kemudian menambah frustrasi dalam hidup mereka.

Lebih lanjut, mengutip penjelasan dari Alodokter, pengobatan untuk alexithymia biasanya dapat dilakukan untuk membantu penderita mengenali dan mengungkapkan perasaan mereka, serta menumbuhkan empati terhadap orang lain. Beberapa metode kerap dilakukan untuk mengatasi kondisi ini antara lain: latihan journaling secara rutin, menggunakan foto atau emoji untuk mengenali berbagai macam emosi, serta berpartisipasi dalam kegiatan seni seperti akting, musik, atau tari. Kegiatan ini diharapkan dapat membantu penderita lebih mudah memahami dan mengekspresikan perasaan mereka.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore