
Salah satu fasilitas di Mayapada Hospital
JawaPos.com - Biopsi payudara adalah suatu prosedur di mana dokter mengambil sebagian jaringan payudara dari area yang dicurigai, yang kemudian diperiksa di laboratorium oleh Dokter Spesialis Patologi Anatomi untuk memastikan ada tidaknya sel kanker.
Biopsi merupakan standar utama untuk mendiagnosis kanker, sehingga biopsi sangat penting untuk dilakukan. Seseorang memerlukan biopsi payudara saat ditemukannya gejala seperti benjolan dan tumor, atau setelah pemeriksaan radiologi payudara dilakukan seperti mammogram dan USG payudara, di mana hasil pemeriksaan menunjukkan kecurigaan pada kanker payudara.
Salah satu pioneer dokter bedah onkologi perempuan di Indonesia, Dokter Francisca Badudu, Dokter Spesialis Bedah Onkologi dari Mayapada Hospital Bandung menjelaskan, “Melakukan biopsi payudara tidak selalu berarti Anda menderita kanker. Kebanyakan hasil biopsi dari suatu tumor bukanlah kanker, namun biopsi menjadi satu-satunya cara yang pasti untuk mengetahui apakah ada keganasan (kanker) pada jaringan yang diambil. Biopsi payudara tidak berbahaya dan tidak menyebabkan sel kanker menjadi menyebar, seperti banyak mitos yang tersebar.”
Secara garis besar, biopsi payudara dibagi menjadi tiga, yaitu:
1. Biopsi Bedah dengan Sayatan Terbuka/Open Biopsy
Biopsi dilakukan dengan membuat sayatan di kulit payudara dan dokter akan mengambil jaringan yang dicurigai. Biopsi bedah ini dibagi menjadi dua, yaitu biopsi insisi dan biopsi eksisi.
Biopsi insisi hanya mengambil sebagian dari area yang dicurigai saja, sedangkan biopsi eksisi, mengambil seluruh tumor atau area yang dicurigai, termasuk sedikit jaringan normal di sekitarnya. Biopsi bedah akan menimbulkan luka atau bengkak dan diperlukan jahitan untuk permulihan pasca-tindakan.
2. Biopsi dengan Jarum Halus/Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB)
Biopsi ini dilakukan dengan menggunakan jarum berongga sangat tipis yang ditempelkan pada alat suntik untuk menarik jaringan payudara atau cairan dari area yang dicurigai dengan jumlah yang kecil.
FNAB paling sering dilakukan di area yang kemungkinan besar adalah kantung berisi cairan (kista payudara) dan metode ini tergolong sebagai bedah minimal invasif atau minimal luka karena sayatan yang dihasilkan akibat biopsi, berukuran kecil. FNAB juga dapat dilakukan jika dokter tidak yakin apakah area yang terlihat pada tes radiologi merupakan kista kecil (cairan) atau massa padat.
Namun, karena sedikitnya jaringan padat yang terambil dengan metode FNAB, terdapat kemungkinan hasil pemeriksaan biopsi menjadi kurang akurat.
3. Biopsi dengan Jarum Besar/Core Needle Biopsy (CNB)
Dibandingkan dengan jarum FNAB, CNB menggunakan jarum berongga dengan diameter yang lebih besar untuk mengambil potongan jaringan payudara di area yang dicurigai. Jarum dipasang pada alat yang dapat menggerakkan jarum masuk dan keluar dari jaringan dengan cepat, untuk mengambil inti jaringan padat dengan lebih banyak.
Metode ini tergolong bedah yang minimal invasif karena sayatan yang dihasilkan lebih kecil dibandingkan dengan biopsi bedah. Sama seperti FNAB, luka biopsi biasanya sangat minimal tetapi CNB memiliki keakuratan yang sangat baik karena jaringan sampel yang terambil lebih banyak.
Seiring dengan kemajuan teknologi, Biopsi CNB juga mengalami perkembangan metode atau teknik, yang dikenal dengan Biopsi Vakum Payudara atau Vacuum Assisted Breast Biopsy (VABB). Pada prosedur VABB, dokter akan melokalisir area tumor terlebih dahulu dengan alat radiologi, seperti USG payudara, kemudian dilakukan pengambilan sampel dengan alat vakum yang canggih pada area yang sudah dilokalisir.
Dokter Francisca juga mengungkapkan bahwa teknologi VABB memiliki beberapa keunggulan untuk pasien karena luka sayat biopsi yang sangat minimal, risiko infeksi lebih minimal, durasi tindakan yang lebih cepat, keakuratan yang lebih baik, dan pemulihan pasca-tindakan menjadi lebih cepat.
Dokter Spesialis Bedah Onkologi dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan yang sudah berpengalaman melakukan banyak VABB, Dokter Bayu Brahma, menjelaskan, “Teknik ini sangat bermanfaat untuk kasus-kasus yang tidak harus memerlukan biopsi bedah, salah satu contoh pada kasus tumor yang dicurigai jinak.
Pada kasus tumor jinak dengan kondisi tertentu, contohnya berukuran sangat kecil, VABB bahkan bisa sekaligus dilakukan untuk mengangkat tumor secara keseluruhan, sehingga pasien tidak membutuhkan operasi terbuka atau proses bedah yang lebih invasif.”

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
