Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 1 September 2018 | 16.45 WIB

Ketahui Penyebab Disfungsi Ereksi Termasuk Penyakit Tak Menular

Dokter Spesialis Andrologi Dr. Nugroho Setiawan, Sp. And, dari RSUP Fatmawati. - Image

Dokter Spesialis Andrologi Dr. Nugroho Setiawan, Sp. And, dari RSUP Fatmawati.

JawaPos.com - Penyakit Tak Menular (PTM) seperti diabetes, hipertensi, kardiovaskular, dan gagal ginjal bisa menyebabkan gangguan fungsi tubuh lainnya. Salah satunya masalah seksual atau reproduksi yakni disfungsi ereksi (DE).


Saat ini, disfungsi ereksi merupakan gangguan seksual yang paling banyak dikeluhkan, setelah ejakulasi dini. Biasanya mulai dikeluhkan pria berusia 40-80 tahun di seluruh dunia. Untuk itu penting bagi pri untuk sadar penyebab disfungsi ereksi.


“DE dapat disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk karena gejala penyakit kardiovaskular, hipertensi,
diabetes, depresi dan gejala saluran kemih bawah. Penyakit ginjal kronis, multiple sclerosis, penyakit
Peyronie, dan cedera yang berhubungan dengan perawatan terhadap kanker prostat merupakan
beberapa penyakit dan gangguan kesehatan yang dapat menyebabkan DE," kata Dokter Spesialis Andrologi Dr. Nugroho Setiawan, Sp. And, dari RSUP Fatmawati baru-baru ini.


Berdasarkan penelitian The Global Study of Sexual Attitudes and Behaviors (GSSAB) di 29 negara termasuk Indonesia, jumlah penderita DE terbesar ada di Asia Tenggara (28,1 persen). diikuti oleh Asia Timur (27,1 persen) dan Eropa Utara (13,3 persen).


Selain itu, faktor fisik dan psikologis juga dapat menyebabkan DE. Kondisi fisik seperti kerusakan saraf, arteri, otot polos, dan jaringan ikat di penis dapat menyebabkan DE.


"Stres dan masalah hubungan personal adalah beberapa penyebab psikologis yang dapat memicu dan memperburuk DE," tegasnya.


Di samping itu, kata dr. Nugroho, DE juga dapat menjadi efek samping dari beberapa pengobatan seperti anti-hipertensi, antihistamin, antidepresan, penenang, penekan nafsu makan dan obat-obatan saluran kemih. Menurut sebuah survei pada tahun 2004 tentang bagaimana masyarakat perkotaan negara-negara di Asia mencari bantuan medis, dari 948 pria dan 992 wanita yang aktif secara seksual dan melaporkan mengalami disfungsi seksual, 45 persen di antaranya tidak mencari bantuan atau saran dan hanya 21 persen yang mencari perawatan medis.


Penelitian serupa pada tahun 2011 menegaskan bahwa faktor sosial budaya, agama dan ekonomi mencegah pasien untuk berkonsultasi dengan dokter. Medical Director PT. Pfizer Indonesia dr. Handoko Santoso mengatakan komunikasi antara dokter dan pasien memegang kunci penting dalam pengobatan DE.


"Pfizer berperan dalam membantu mendukung edukasi pasien untuk mendapatkan pengobatan yang paling tepat dan mencegah pasien dari tindakan mengobati sendiri untuk penyakit kompleks, seperti DE," tutupnya.


Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore