
Dokter Spesialis Andrologi Dr. Nugroho Setiawan, Sp. And, dari RSUP Fatmawati.
JawaPos.com - Penyakit Tak Menular (PTM) seperti diabetes, hipertensi, kardiovaskular, dan gagal ginjal bisa menyebabkan gangguan fungsi tubuh lainnya. Salah satunya masalah seksual atau reproduksi yakni disfungsi ereksi (DE).
Saat ini, disfungsi ereksi merupakan gangguan seksual yang paling banyak dikeluhkan, setelah ejakulasi dini. Biasanya mulai dikeluhkan pria berusia 40-80 tahun di seluruh dunia. Untuk itu penting bagi pri untuk sadar penyebab disfungsi ereksi.
“DE dapat disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk karena gejala penyakit kardiovaskular, hipertensi,
diabetes, depresi dan gejala saluran kemih bawah. Penyakit ginjal kronis, multiple sclerosis, penyakit
Peyronie, dan cedera yang berhubungan dengan perawatan terhadap kanker prostat merupakan
beberapa penyakit dan gangguan kesehatan yang dapat menyebabkan DE," kata Dokter Spesialis Andrologi Dr. Nugroho Setiawan, Sp. And, dari RSUP Fatmawati baru-baru ini.
Berdasarkan penelitian The Global Study of Sexual Attitudes and Behaviors (GSSAB) di 29 negara termasuk Indonesia, jumlah penderita DE terbesar ada di Asia Tenggara (28,1 persen). diikuti oleh Asia Timur (27,1 persen) dan Eropa Utara (13,3 persen).
Selain itu, faktor fisik dan psikologis juga dapat menyebabkan DE. Kondisi fisik seperti kerusakan saraf, arteri, otot polos, dan jaringan ikat di penis dapat menyebabkan DE.
"Stres dan masalah hubungan personal adalah beberapa penyebab psikologis yang dapat memicu dan memperburuk DE," tegasnya.
Di samping itu, kata dr. Nugroho, DE juga dapat menjadi efek samping dari beberapa pengobatan seperti anti-hipertensi, antihistamin, antidepresan, penenang, penekan nafsu makan dan obat-obatan saluran kemih. Menurut sebuah survei pada tahun 2004 tentang bagaimana masyarakat perkotaan negara-negara di Asia mencari bantuan medis, dari 948 pria dan 992 wanita yang aktif secara seksual dan melaporkan mengalami disfungsi seksual, 45 persen di antaranya tidak mencari bantuan atau saran dan hanya 21 persen yang mencari perawatan medis.
Penelitian serupa pada tahun 2011 menegaskan bahwa faktor sosial budaya, agama dan ekonomi mencegah pasien untuk berkonsultasi dengan dokter. Medical Director PT. Pfizer Indonesia dr. Handoko Santoso mengatakan komunikasi antara dokter dan pasien memegang kunci penting dalam pengobatan DE.
"Pfizer berperan dalam membantu mendukung edukasi pasien untuk mendapatkan pengobatan yang paling tepat dan mencegah pasien dari tindakan mengobati sendiri untuk penyakit kompleks, seperti DE," tutupnya.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
