Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 11 April 2018 | 17.37 WIB

Waspadai, Gagal Ginjal Hantui Usia di Bawah 25 Tahun

Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Tebet Dr. Puteri Wahyuni, SpPD, KGH saat memaparkan bahaya penyakit gagal ginjal - Image

Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Tebet Dr. Puteri Wahyuni, SpPD, KGH saat memaparkan bahaya penyakit gagal ginjal

JawaPos.com - Ginjal merupakan salah satu organ tubuh yang berfungsi sebagai penyaring darah. Semua darah di dalam tubuh melewati ginjal dan disaring menjadi zat-zat yang terpakai lagi oleh tubuh. Namun saat fungsi ginjal ini rusak, tentu berbahaya bagi tubuh karena tidak bisa mengeluarkan racun. 


Saat ginjal sudah sampai tahap ujung disebut Penyakit Ginjal Kronis (PGK) biasanya berakhir dengan cuci darah atau hemodialisis. Di era modern, penyakit gagal ginjal bahkan bergeser ke usia muda. Pasien baru dan pasien aktif hemodialisis terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Proporsi pasien terbanyak masih pada kategori usia 45-64 tahun yang mencapai angka 58,58 persen pada tahun 2016.


Namun, kontribusi pasien berusia di bawah 25 tahun pun tidak kecil sehingga perlu mendapat perhatian. Dengan kata lain, gagal ginjla juga bisa terjadi pada usia muda.


"Perlu diperhatikan pasien yang berusia kurang dari 25 tahun memberikan kontribusi sebesar 2,79 persen, hal ini menunjukkan sudah saatnya memberi perhatian pada kelompok usia muda untuk mulai memperhatikan kesehatan ginjal," kata Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Tebet Dr. Puteri Wahyuni, SpPD, KGH dalam dialog dan perayaaan HUT ke-36 RS Tebet di RS, Jakarta Selatan, Selasa
(10/4).


Menurutnya, pasien baru hemodialisis tahun 2016 mencapai 25.446 pasien dan pasien aktif 52.835. Jumlah inik mengalami peningkatan dari tahun 2015 dari 21.050 pasien baru dan pasien aktif 30.554. Tapi, penyakit ginjal kronik pada remaja belum ada data yang pasti.


Umumnya penyakit ginjal kronik pada remaja disebabkan oleh auto imun (seperti glomerulonefritis primer atau penyakit lupus. Sedangkan pada usia 45-64 tahun lebih banyak disebabkan Diabetes Melitus, hipertensi, atau obstruksi akibat keganasan atau batu.


"Kondisi inilah yang mendorong RS Tebet untuk memberikan layanan yang semakin luas dan lebih baik dengan menghadirkan Unit Dialisis bertaraf internasional. Unit baru ini ada di Lantai 3, tersedia delapan unit mesin HD (hemodialisa), satu dokter spesialis penyakit dalam, konsultan ginjal hipertensi, satu dokter pelaksana terlatih bersertifikat HD, tiga perawat terlatih dan bersertifikat HD," paparnya.


Puteri menambahkan Penyakit Ginjal Kronis (PGK) merupakan kelainan pada struktur dan fungsi ginjal yang telah berlangsung lebih dari 3 bulan. PGK terdiri dari 5 stadium, pada stadium 4 sudah perlu dirujuk ke ahli ginjal.


Status nutrisi, pengaturan cairan, obat-obatan, pantauan metabolik dan infeksi, akses HD harus dikontrol teratur. Selain cuci darah, pasien gagal ginjal bisa melakukan terapi lainnya di antaranya pengobatan, Peritoneal Dialysis atau CAPD, dan transplantasi.


“Tujuan utama HD adalah meningkatnya kualitas hidup pasien HD,” ujar Puteri.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore