
Para lansia pasien pengobatan katarak menunggu operasi
JawaPos.com - Fungsi tubuh akan menurun seiring bertambahnya usia. Begitu juga dengan lanjut usia (lansia) di mana rentan terkena berbagai penyakit tidak menular. Bisa karena gaya hidup, atau memang karena fungsi tubuh yang sudah menurun.
Lansia juga rentan terkena penyakit degeneratif. Pola makan sudah mulai menjadi perhatian bagi masyarakat pra lansia. Kualitas di masa tua sangat tergantung dengan perilaku hidup sehat selama hidup di masa muda. Lansia harus tetap diimbangi kegiatan fisik dasar seperti olahraga, atau membersihkan rumah seperti menyapu dan mengepel lantai.
Ada dua penyakit yang hampir akan dialami seluruh lansia dan memerlukan pengobatan khusus. Di antaranya katarak dan nyeri lutut.
Dokter Perusahaan PT Waskita Karya dalam Waskita Karya Peduli di Gedung Onta Merah, Jakarta Selatan, dr. Jentot Hanindyoputro menjelaskan penyakit kedua penyakit itu rentan dialami lansia. Selain itu ada pula penyakit diabetes atau jantung koroner yang rentan menyerang lansia bahkan kini di usia muda.
"Bergesernya gaya hidup kini membuat orang lebih instan. Beli soto ke pasar saja tinggal pesan pakai online. Jadi malas bergerak akibatnya di usia lansia tak produktif karena gaya hidup sewaktu muda," kata Jentot dalam bakti sosial di Gedung Onta Merah, Jakarta Selatan, Sabtu (10/12).
1. Katarak
Data Kementerian Kesehatan menyebutkan katarak menjadi penyebab 50 persen kebutaan di Indonesia dan setiap tahun diperkirakan kasus baru buta katarak bertambah 0,1 persen dari total jumlah penduduk. Sementara itu kemampuan mengurangi jumlah penderita buta katarak melalui operasi baru mencapai 180 ribu per tahun sehingga setiap tahun selalu terdapat peningkatan jumlah katarak sebanyak 70 ribu orang.
Katarak adalah kekeruhan lensa mata. Dan masih menjadi salah satu penyebab kebutaan terbanyak di dunia. Diperkirakan setiap tahun ada satu penderita baru katarak di antara seribu orang. Keberadaan Indonesia sebagai negara tropis menjadikan penduduknya memiliki kecenderungan menderita katarak 15 tahun lebih cepat dibandingkan penduduk di daerah subtropik.
"Kami lakukan kegiatan operasi katarak bekerja sama dengan tim medis agar masyarakat bisa kembali tersenyum. Lalu selain katarak ada juga sunatan massal, pengobatan nyeri lutut, mamografi, papsmear, operasi bibir sumbing dan lainnya di 7 kota," kata Direktur Operasi III, PT Waskita Karya (Persero) Tbk, Bambang Rianto.
2. Nyeri Lutut
Banyak lansia bahkan usia kebih muda misalnya 40 tahun, mengeluhkan nyeri lutut dan sulit berjalan. Pakar Nyeri dan Tulang Belakang dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS menjelaskan nyeri lutut mengganggu aktivitas sehari-hari. Kondisi ini menurunkan produktivitas dan beraktivitas, gangguan tidur, dan tergantung pada orang lain.
"Terapi Radiofrequency Ablation (RFA) dilakukan dengan cara membaalkan saraf penyebab nyeri menggunakan aliran listrik yang dihasilkan oleh gelombang radio. Teknik ini sangat efektif dalam menghentikan rangsang nyeri di daerah lutut," kata Mahdian.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
